
Haloo semuanya! terima kasih banyak yang mau baca novel ini.Semoga kalian suka.
Tolong berikan like dan komen.
Terima kasih
"---"
Veren terbangun karena silau sinar matahari, ia merapikan baju tidurnya dan berdiri ke balkon.
Harry sendiri sudah berada di balkon dan tersenyum menyapa veren."Pagi"
Veren juga tersenyum."Selamat pagi"
"Sebentar lagi kita akan pergi sarapan"
"Baiklah, aku masuk dulu untuk bersiap"
Setelah lima belas menit veren menuju lobby, ternyata harry sudah menunggu disana, harry memakai pakaian santai, namun wibawa dan ketampanannya membuat hati veren bergetar dan salah tingkah.
Setelah sarapan pagi mereka berdua berencana untuk naik gunung, setelah perjalanan hampir dua jam mereka sampai di kaki gunung yang terkenal akan keindahannya.
Veren sendiri sudah cukup berpengalaman saat naik gunung, ia sudah menyiapkan makanan ringan dan minuman, setelah veren membeli makanan harry merebut hasil belanja dan memasukkan ke dalam tas ranselnya.
Harry tersenyum."Ayo pergi"
Mereka berdua mulai mendaki, udara disini sangatlah bersih, veren juga bukan orang yang lemah dan manja.Mereka berdua mendaki sambil berbincang budaya antar dua negara, veren yang pintar selama sekolah sering mempelajari budaya kuno.
"Ternyata kamu mengerti tentang banyak hal, kelihatannya aku harus meminta arahanmu" harry tertawa kecil.
Veren tersenyum."Kalau kamu tidak mengetahui sesuatu aku akan menjelaskan padamu, kalau aku tidak tahu akan mencarinya di buku"
Setelah mendaki selama setengah jam harry mengajak veren untuk beristirahat dan menunjuk sebuah kursi."Duduk disini, kita istirahat dulu"
Saat veren meminum air mineralnya, harry memotret ke arah veren, veren malah berpose imut dan mengacungkan kedua jarinya.
Setelah dipotret beberapa kali veren merasa tidak adil, mengapa hanya dirinya yang difoto?
"Aku ingin memotretmu" veren memegang kamera, harry mengajari cara mengatur lensa kamera dan cara mengambil foto, veren mengambil beberapa foto dan hasilnya masih oke.
Veren memandang harry seperti foto model tampan,kulitnya putih bersih dan rambutnya merah maron.
Ini ungkapan hati veren.
Veren kembali duduk dan meminum kembali air di botolnya, harry tersenyum dan merebut botol air veren, lalu meminumnya.
Veren sangat malu, itu adalah air minumnya, mengapa harry malah merebutnya.
"Ayo lanjut lagi, kita masih harus mendaki" veren segera ingin kabur karena malu.
Harry melihat wajahnya yang memerah ingin tertawa,wanita itu sangatlah imut.
Veren tidak berani menoleh ke belakang dan terus berjalan.Untuk menutupi wajah malunya.
Mereka berdua barusan seperti ciuman tidak langsung.Mereka berdua sampai di tempat istirahat sudah siang hari, untungya disana sebuah restoran lumanyan bagus.Mungkin malam ini bisa bermalam di gunung.Di gunung udara dingin, memakan masakan hangat dan memandang pemandangan rasanya sebuah kenikmatan yang lengkap.
Setelah makan mereka berdua memutuskan untuk mendaki sampai puncak, tapi saat ini tidak banyak orang yang bisa mencapai puncak, biasanya kebanyakan orang cuma mendaki setengah sudah menyerah.
Veren sudah hampir kehabisan nafas, harry menawarkan bantuan."Mau aku gendong?"
"Jangan, biarkan aku istirahat sebentar, aku tidak semanja itu,aku juga suka dengan olahraga"
Harry merasa kasihan dengan tubuh kecilnya, namun tidak bisa memaksanya.
Veren istirahat sebentar,lalu melanjutkan perjalanan, harry memegang tangannya, veren hanya menoleh sebentar dan membiarkan di gandeng olehnya.
Saat ini ada orang yang mengawasi mereka berdua,mereka adalah perampok tas dan mengambil barang-barang berharga dari pendaki.
"Hei.. tasku"
Veren dengan panik ingin mengejar, namun jalanan berbatu dan sempit membuatnya tergelincir.
"Veren" harry dengan panik kearah veren yang sedang terduduk.
"Tasku" veren memegang kakinya yang keseleo.
"Ada barang penting apa di dalamnya?"
"Ada kartu atm, ponsel dan beberapa camilan" veren meninggalkan kartu identitas di hotel.
"Itu semua tidaklah penting, biar aku lihat kakimu" harry mencoba untuk menghiburnya
Veren tidak memperdulikan harga ponselnya yang beberapa juta saja, namun uang di kartu atm masih ada 100 juta lebih,barang-barang ditas itu adalah barang berharga miliknya.
Tasnya sudah dicuri, kakinya masih keseleo juga,veren melepas sepatu gunung dengan lembut dan harry mencoba untuk memeriksa kakinya.Kakinya terlihat merah dan bengkak, ini pasti menyakitkan bagi veren.
"Tidak usah mendaki lagi, kita turun mencari rumah sakit"harry membantu memakaikan kaos kaki dan sepatu
Veren terlihat sebal dan kesal,padahal sebentar lagi akan mencapai puncak.
Harry memindahkan tasnya di depan, lalu berkata."Naik, aku akan membantumu turun gunung"
"Tidak usah, aku masih bisa jalan"veren tidak tega melihat harry kelelahan jika harus menggendongnya.
Tangan harry langsung meraih tangan veren dan menggendong tubuhnya di punggungnya dan veren melingkarkan tangannya di leher harry.
Harry tertawa pelan."Berapa berat badanmu?"
Veren malu hingga wajahnya memerah, pria ini tidak menuduhnya terlalu gemuk, kan?
"46 kilo" veren menjawab dengan malu-malu.
"Kau sangatlah ringan" harry sedikit menoleh ke belakang.
Veren hatinya menjadi lega, kalau ia gemuk pasti akan sangat malu, ia masih memikirkan tasnya yang dibawa oleh perampok dan sepertinya harus membutuhkan pertolongan harry lagi.
Saat sudah turun gunung setengah jalan veren berkata."Harry, turunkan aku, aku masih bisa jalan kok"
"Tidak usah, aku tidak capek, kok" harry terus berjalan kebawah dengan stabil.
Harry sebenarnya tidak lelah, hanya saja siang hari cuacanya cukup panas dan membuatnya banyak keluar keringat.Veren mengira harry telah kelelahan.
Walaupun veren meminta untuk diturunkan beberapa kali, namun harry menggendongnya hingga di parkiran mobil.
Harry mengambil minuman dari jok belakang dan memberikan pada veren, mereka minum sebotol air hingga habis.
Veren terlihat sangat sungkan."Aku harus mengambil kartu identitasku di hotel dan membuat kartu atm,kalau tidak, uangku bisa diambil oleh mereka"
"Ada berapa di kartumu?"
"Tidak banyak, kira-kira hanya seratus jutaan" berkata dengan pelan, bagi harry uang segitu bukanlah masalah besar.
Harry juga tidak menertawakan,ia berkata dengan serius."Kita pergi kerumah sakit dulu, setelah itu pergi ke hotel untuk mengambil kartu identitasmu"
"Baiklah, kita pergi kerumah sakit, kita bisa pergi ke bank besok saja, lagipula ini bukan hal yang mendesak"
"Oke, kita pergi kerumah sakit sekarang" harry membawa mobil menuju rumah sakit terdekat.
Begitu sampai di parkiran rumah sakit, veren digendong lagi oleh harry ke ruang perawatan, veren hanya bisa menyembunyikan kepalanya di dada harry.
Setelah pemeriksaan dokter mengatakan hanya terluka luar dan hanya perlu dibalut beberapa hari sudah sembuh.
Harry membayar biaya rumah sakit dan kembali menggendongnya menuju mobil, sesampai di hotel harry memesan sup kesehatan untuknya hingga membuat veren merasa terharu.