
Bernice bermain air di aliran air terjun, airnya begitu dingin dan menyegarkan, ia melihat batu kecil putih mengambilnya.
"Lihat cantik kan batunya" bernice memperlihatkan pada nickson.
"Ya bagus" nickson tersenyum.
"Aku akan membawanya pulang" bernice tersenyum.
"Bernice, mendekat kesini, kita minum dulu"
nicskon memberikan minuman berwarna merah di botol.
Setelah meminum air fant* bibir bernice berwarna merah, nickson tergoda, ia mendekat mencium bibir bernice.
Mereka berdua berciuman cukup lama, jantung kedua sejoli berdetak kencang, ciuman ganas nickson membuat bernice hampir kehabisan nafas.
"sangat bodoh, saat berciuman bernafas pakai hidungmu" nickson sedikit mengejeknya.
Bernice merasa kesal di bilang bodoh." Aku tidak mau perduli padamu lagi"
Bernice kembali bermain air terjun.
Nickson tertawa wanita sungguh menggemaskan saat marah.
"Kak nickson aku akan memberimu batu"
"Hati- hati batu buat pijakan kakimu banyak di tumbuhi lumut" Nickson taku gadis kecilnya terpeleset.
"Yakinlah, aku tidak sebodoh itu"
Benar saja bernice menginjak batu dan terpeleset jatuh ke dalam air.. Terdengar teriakan bernice.
"Bernice" nickson melihat tubuhnya sudah berbaring di dalam air.
Ia menarik tubuh bernice ke daratan, bernice merasa malu dan canggung, semua pakaian basah kuyub dan air terjun begitu dingin, tubuh bernice segera menggigil.
"Lepaskan pakaianmu" perintah nickson tegas.
Bernice menatap wajah nickson, apa harus membuka pakaian?
"Matahari masih sangat terik,jika kamu melepas dan mengeringkan selama satu jam bisa di pakai kembali." Nickson melepas bajunya memperlihat tubuh bagian atasnya, bernice tergoda hingga wajahnya memerah.
"Kamu pakai punyaku dulu"
"Haqiu" bernice bersin
"Cepat lepas semua bajumu, atau kamu akan demam nanti" perintah nickson pelan.
"Kamu jangan melihatnya" bernice memberi peringatan.
"Aku tidak akan melihatnya, saat kamu kecil aku sering melihat kamu mandi"
"Itu dulu, sekarang beda" bantah bernice.
"Cepat lepas di belakang pohon itu" nickson menunjuk sebuah pohon besar.
Bernice berjalan ke belakang pohon , ia merasa malu melepas semua pakain yang melekat pada tubuhnya.Akhirnya tubuhnya hanya memakai kaos milik nickson..Panjang kaos hanya di bawah pantatnya..ia sangat malu.
"Sudah" bernice sedikit berteriak memegang baju basahnya.
Nickson menghampiri mengambil celana dan baju basah milik bernice, ia memeras baju sekuat tenaga baru menjemurnya.
Bernice merasa malu setengah mati, pakaian dalamnya juga di pegang oleh nickson untuk di jemur.
Nickson tergoda melihat paha putih mulusnya, ia bahkan menelan ludahnya.
Bernice berdiri tidak tahu harus berbuat apa, kalau duduk otomatis tubuh bagian bawahnya akan kelihatan.
"Apakah kamu ingin duduk?" nickson khawatir, wanita ini akan kelelahan terus berdiri.
"Tidak, aku berdiri saja" bernice semakin malu.
Nickson tahu rasa malu dan canggung bernice, jika duduk diatas batu pantatnya akan kedinginan dan keliatan bagian bawahnya.
Saat ini nickson menertawakannya, ia berusaha menahannya dengan menutup mulutnnya.
"Hei, jangan tertawa" bernice melototi nickson.
Tapi nickson malah cekikikan semakin keras.
Nickson tidak lagi menertawakan.Ia berjalan mendekat membobong bernice secara horizontal.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" bernice panik.
Nickson mencari batu besar, menaruh tubuh bernice di pangkuanya."Kalau berdiri selama satu jam penuh,kakimu bisa kram.
Bernice sangat kesal pantanya menempel langsung di celana nickson,teryata pria ini cukup mesum.
Ia ingin bangun dari pangkuannya, namun tangan besar memeluknya di bagian perut cukup erat."Kamu tidak boleh bangun"
"Aku tidak mau duduk" ini bisa disebut pemaksaan.
Nickson berbisik di telinganya."Yakinlah, seberapa besar aku menyukaimu,aku tidak akan bertindak kurang ajar"
Bernice pasrah duduk di pangkuanya."Nickson ye,sudah berapa banyak gadis yang kamu perlakukan begini?"
"Tidak, ini adalah yang pertama"
"Bagaimana kamu dan julie ren?"
"Kamu perduli?" bibir nickson tersenyum.
"Kamu mau bilang tidak?"
"Dia adalah adik kelasku saat aku sma,dia sering menyebut aku adalah pacarnya, padahal aku sudah menolak berkali- kali"
"Apakah kamu lelaki, yang tidak punya hati?"
"Bagiku,aku lebih suka memperlakukan dia sebagai teman,keluarga kita saling mengenal dan aku tidak bisa menyakitinya terlalu jauh"
"Dia cantik dan cerdas,mengapa kamu tidak menyukainya?"
"Bagi pria sepertiku,wanita yang bisa membuatku tersentuh, aku akan menyukainya"
Bernice tidak percaya."Apakah kamu tidak suka banyak wanita?"
"Sejauh ini wanita yang membuatku tersentuh dan suka adalah kamu" nickson berkata dengan jujur.
Bernice menggigit bibirnya."Bagaimana kamu tahu akulah satu- satunya?Mungkin kamu akan suka pada wanita lain suatu hari nanti"
"Aku telah melihat banyak wanita, yang aku inginkan hanya kamu"
"Aku belum pernah melihatmu menyukaiku sebelumnya" bernice masih belum percaya.
Nickson tertawa."Itu karena kamu dulu belum besar, aku tidak punya penyakit pedofil"
Bernice merasa malu dan salah mengartikan artinya."Bagiamana kamu tahu aku udah besar sekarang?"
Nickson tidak mau menjelaskan, biarkan dia salah paham dan kedua tangan nikson memegang dadanya."Aku bisa merasakannya sekarang"
"Kamu" Bernice menggerakkan tubuhnya berulang kali, ia melepaskan tangan nickson di dadanya.
Nickson hanya memeluk tubuhnya agar tidak membuat gerakan yang berakibat membangunkan sikecil dalam sangkar..
Setelah setengah jam berlalu."Kamu berdiri dulu, aku akan mengecek bajumu"
Saat ini nickson mengambil baju di atas batu besar, ternyata sudah kering semuanya.
"Sudah kering" nickson menyerahkan pakaian bernice."Ganti lagi di belakang pohon"
Bernice melepas pakaian nickson, ia pertama kali memakai celana bagian bawahnya, saat akan mengambil baju di bawah ia melihat ulat bulu di rumput sontak ia berteriak keras.
"Ahhhhh"
Nickson mendengar suara teriakan bernice bergegas ke balik pohon, ia melihat pemandangan indah tubuh bagian atas bernice tidak memakai apa- apa.
"Ada apa?" nickson bertanya.
"Ada ulat bulu" bernice yang masih ketakutan lupa menutup dadanya, ia melihat nickson memandang tubuhnya berteriak lagi.
"Ahhhh, Cepat pergi, jangan mengintip" Bernice menutup dadanya dengan dengan kedua tangan.
Nickson berbalik dan merasa bahagia , sungguh sudah besar , dada wanita itu.
Selesai memakai pakaian mereka berdua bergegas pulang takut kesorean , gelap tidak bisa melihat jalan..
Mereka berdua berjalan menyusuri hutan dengan bergandengan tangan.Sudah seperti sepasang kekasih, walaupun meraka belum resmi pacaran.