Bayi Ceo Tampan

Bayi Ceo Tampan
Antara kecewa dan senang


Candice sebenarnya tidak mau terlalu cepat pergi menemui bernett, ia berharap anaknya segera tidur malam ini dan menyelinap keluar.


Saat bernett tadi menelepon juga tidak mendesaknya untuk bertemu.


Ketiga anak kecil jam sembilan malam sudah naik ke ranjang untuk tidur .Saat memasak makan malam candice sudah berpesan pada bibi mei untuk menjaga bryan, ia akan keluar kemungkinan akan pulang larut.


Bibi mei tertawa di ruang tamu. "Pergilaah,urusan bryan serahkan padaku"


Candice mengendarai mobil agak tua milik keluarga bibi mei,hotel tempat bernett menginap adalah hotel bintang tujuh di pusat kota.


Saat memarkir mobil di parkiran hotel ponsel candice berbunyi .


"Kamu sudah sampai mana?" suara lelaki dewasa.


"Parkiran hotel"


"Baiklah, aku menunggu di lobby"


Bernett melihat candice masuk ke lobby, wanita ini sengaja tidak berdandan dan memakai pakaian biasa,walaupun wanita berpenampilan begitu bernett masih saja tergoda.


"Halo sayang" bernett pura- pura mesra.


Candice tidak ingin menjawabnya, ia melihat bernett berpakain casual sungguh tampan dan menggoda, ia merupakan kekasih sempurna untuk seorang gadis.


Ia terpana selama beberapa detik, langsung bersikap dingin di hadapan lelaki ini, ia menundukkan kepala.


"Sudah makan malam belum?" bermett bertanya.


Candice menggigit bibirnya, tidak menjawab.


"Kebetulan aku belum makan malam"


"Aku tidak mau makan"


"Kamu yakin,kalau nanti malam kamu tidak bertenaga dan pinsan jangan salahkan aku" bernett menggodanya.


Candice melototi bernett, pria ini masih percaya diri, apa dia lupa masih baru sembuh luka di perutnya..


Bernett memegang tangannya sedikit memaksa."Temani aku makan"


Candice mengikuti dengan terpaksa, di lobby ada cukup banyak orang, kalau bertengkar akan sangat memalukan.


Begitu masuk ke restoran hotel, bernett memesan makanan kesukaan candice ke pelayaan, bukannya berterima kasih candice malah berkata dingin."Aku tidak mau makan"


"Tidak perlu jahat begini dengan perutmu" bernett tahu wanita ini pasti makan sedikit, karena memikirkan malam ini.


Memang benar saat ini candice memang merasa lapar.


Beberapa saat kemudian pelayan masuk membawa makanan, terlihat beberapa makanan manis kesukaan para perempuan.


Candice menelan ludahnya, ia merasa tergoda dengan memandang makanan itu.


Bernett tersenyum melihatnya." Tidak usah malu- malu, silahkan dimakan, kalau tidak di makan akan sia- sia"


Wanita ini sengaja membuat bernett tidak senang, namun bernett lebih cerdik daripada wanita ini.


"Kalau tidak mau makan, aku akan menyuapi dengan mulutku"


Benar saja ancaman ini membuat candice bergerak mengambil makanan, ia menunduk sambil makan.


"Ada bir?aku ingin minum" candice berkata, kalau dalamkondisi sadar candice akan malu dan tidak sanggup bercinta dengan pria yang sedang bermusuhan dengannya.


"Kenapa?sebegitukah kamu tidak ingin melakukan ini, hingga butuh alkohol untuk membuat dirimu tidak sadar"


"Aku nanti akan memesan sendiri di dalam kamar" candice berkata dengan tidak senang.


"Coba saja kalau berani" bernett marah dan kesal.Naik ke ranjang sudah menjadi transaksi kesepakatan, apa gunanya kalau wanita ini tidak sadar..


Bernett sebenarnya ingin mendapatkan wanita ini tubuh dan hatinya, namun dirinya harus secara bertahab mendapatkannya.Untuk sekarang tubuhnya saja sudah cukup.


Ia tidak akan membiarkan wanita ini minum, biar wanita ini merasakan kedua tubuh saling melekat dan memberikan wanita ini rasa.


Selesai makan , bernett memegang tangan candice berjalan menuju lift.


Di dalam lift candice melamun memikir ,setelah ini mereka bedua akan melakukan itu.


Tiba- tiba bibirnya dicium paksa oleh bernett, ia kembali sadar, namun sudah terlambat, bibirnya sudah dihisap olehnya, candice tidak berani mendorong kuat teringat lukanya..


Candice merasa pria terlalu brengsek, di dalam lift tidak ada satu menit,pria ini masih sempat- sempatanya mencium paksa.


"Ding" suara lift, mendengar suara lift bernett baru melepas ciuamannya, ia melihat bibir candice yang merah, habis ia hisap cukup kuat.


Saat ini wajah candice sudah memerah, respon tubuhnya juga melambat,Bernett menarik tangan candice untuk keluar dari lift, mereka berjalan ke kamar bernett.


Wanita ini melihat rak minuman alkohol di dalam kamar, ia berjalan ke arah sana.Namun bernett mencegahnya."Aku tidak akan membiarkanmu minum walau satu tetes"


"Bernett,lepaskan aku"


Kedua tangan bernett menyelip di rambut candice, ia memegang kepalanya dan mencium bibirnya..


Saat ini ciuman bernett lebih heboh daripada di dalam lift,candice menutup matanya, ia seakan sudah pasrah.


Bernett menghentikan ciumannya sebentar ingin melihat respon candice.


"Bernett, bisakah kamu jangan merebut anakku"


candice memohon.


"Anak kita" bernett membenarkan.


"Berjanjilah padaku, walaupun kakekmu muncul jangan merebut bryan dariku"


"Walaupun aku ingin seluruh dunia menjadi musuhku, tapi aku akan menghindari kamu menjadi musuhku" bernett berjanji.


Candice terdiam, ia sedang mengartikan pesan tersembunyi dari kata- katanya.


"Percayalah padaku" bernett mengecup dahinya.


Hati candice sudah lelah melakukan perlawanan, sudah 2 hari bermusuhan dengan pria ini.Perang dingin juga bukan solusi yang bagus, mereka harus berbicara dengan baik.


"Kamu tidak berbohong kan?" hati candice sedikit melunak.


"Membohongimu akan membuatku mati susah dan akan masuk neraka"


"Aku tidak butuh ucapan seperti itu"


Bernett mulai tersenyum nakal, kelihatannya wanita ini sudah mereda marahnya.Ia mulai melancarkan serangan, mencium, meraba menghisap tubuh wanita ini.


Tubuh candice sudah teraliri listrik ,membuat tubuhnya geli dan keenakan.


Candice sudah tidak menolak pria ini, dulu setelah di sakiti andreas lu, ia memikirkan untuk dekat dengan pria manapun, namun pesona bernett begitu tinggi hingga ia tergoda.


Bernett sudah melepas semua yang melekat pada tubunya, hanya kain kasa yang tertinggal menutupi luka di perut.


Sekarang giliran ia melepas punya wanita ini dengan sedikit paksaan akhirnya berhasil.. Ia melihat bekas ciuman di leher dan sekitar dadanya.


PERHATIAN


Tidak perlu aku ceritakan pergulatan mereka di atas kasur.


Karena bernett terlalu bersemangat menggoyang, luka di perutnya kembali terbuka, darah membuat kain kasa berwarna merah darah.


Candice menjadi panik ia melihat warna merah di kain kasa."Bernett...lukamu..."


"Tida apa- apa" bernett masih bergerak.


"Bernett, kamu sedang pendarahan, hentikan dulu" perintah candice terengah engah.


"Jangan perdulikan"


"Biarkan aku melihat lukamu" walaupun candice sudah kehilangan akal sehatnya, ia masih khawatir melihat luka bernett.


"Kita selesaikan dulu" bernett tidak senang.


"Kalau kamu tidak mau ke rumah sakit, aku akan sangat marah padamu" candice mengancam.


Bernett lebih baik menunda kepuasan dalam dirinya, daripada membuat wanita marah.


Ia melepaskan candice yang berada di bawah tubuhnya."Cepat pakai pakaianmu" bernett kesal dan marah, mereka berdua berhenti di tengah jalan.


Candice tertawa melihat kekesalan pria ini.


"Kalau berani tertawa aku akan menekanmu lagi"


"Baiklah" candice dengan cepat memakai kembali bajunya.


Akhinya mereka berdua menuju ke rumah sakit diantar pengawal.


Foto visiul bryan, candice dan bernett