Suami Sementara

Suami Sementara
Di mana Amora


Mama Riana dan Amora sedang berbincang ria di gazebo taman belakang rumah mewah milik keluarga Reyhan. Gazebo yang di kelilingi bunga mawar kesukaan Mama Riana berjejer rapi dengan bunganya yang sedang bermekaran berwarna merah. Wanita yang tak lagi muda itu menghabiskan masa tuanya dengan merawat bunga kesukaannya sehingga tak heran jika taman kecil di belakang rumah ini banyak terdapat aneka ragam macam bunga yang tertata rapi dan terawat.


"Reyhan tadi kemana, Ra?" tanya Mama Riana seraya celingukan mencari keberadaan anaknya.


"Lagi ke kamar mandi, Ma." sahut Amora seraya menyesap teh miliknya yang masih mengeluarkan uap panas dari cangkir keramik berwarna putih yang ia pegang.


"Oh, Mama kira dia udah masuk kerja. Kan belum sembuh total."


"Tidak, Ma. Palingan sebentar lagi kesini. Reyhan cuma ke kamar mandi sebentar." ujar Amora menenangkan. Ibu mertuanya hanya mengangguk lalu ikut menikmati secangkir teh miliknya.


"Ah Ma, Amora lupa. Tadi Amora membuat pudding, sebaiknya di bawa kesini saja ya. Kita nikmati bersama-sama." kata Amora teringat pada puding coklat kesukaan Reyhan yang ia buat tadi.


"Suruh Mbok aja yang bawa kesini, Ra."


"Biar Amora saja, Ma. Kasian si mbok masih banyak pekerjaan. Lagi pula jarak dapur sama taman kan tidak terlalu jauh, Ma. Sambil menunggu Reyhan juga, kan?"


"Ya sudah kalau begitu. Cepat kembali ya, sayang." ujar Mama Riana seraya tersenyum.


"Baik, Ma. Amora hanya sebentar dan tidak akan lama. Mama tidak apa-apa jika di tinggal sebentar, kan?"


Ibu mertuanya menggeleng pelan.


"Tidak apa-apa, sayang. Segeralah kembali."


"Iya, Ma. Amora hanya sebentar, jangan khawatir." ujarnya seraya mengulas senyum.


Amora segera berlalu, mengayunkan langkah kecilnya melewati jalan setapak kecil yang di kanan kirinya berjejer rapi bunga . Bunga alamanda dalam bahasa ilmiah Allamanda cathartica merupakan tanaman hias yang juga sering disebut dengan nama terompet emas, bunga lonceng kuning, atau bunga buttercup.


Tumbuhan dari Brazil ini sering digunakan sebagai tanaman hias karena bentuk bunganya yang menarik seperti terompet. Bunga ini hadir dengan warna yang beragam, tetapi yang umum di Indonesia adalah wana kuning dan pink.


Amora memasuki dapur dan menuju kulkas tempat ia menyimpan puding coklat hasi kreasinya untuk sang suami tercinta. Amora sangat suka memasak akhir-akhir ini demi mengisi kekosongan waktu karena sudah tidak bekerja lagi. Reyhan tidak mau istrinya kesusahan mencari kerja, karena ia ingin istrinya tetap berada di rumah.


Demi menghilangkan rasa jenuh dan bosan yang kerap kali muncul, Amora lebih sering mencari resep dari internet dan langsung mempraktekkannya. Dan tentu saja Reyhan yang akan menjadi kelinci percobaan untuk mencicipi makanan yang ia buat.


Sementara Amora sibuk di dapur menyiapkan puding hasil karyanya, Reyhan sudah kembali dari kamar mandi dan menuju gazebo tempat di mana Mama Riana berada. Ia berjalan pelan seraya mencari keberadaan Amora yang tidak terlihat.


"Amora dimana, Ma?" tanya Reyhan sesampainya di gazebo. Ia segera duduk di tempat Amora semula berada.


"Sedang mengambil puding buatannya di kulkas." jawab Mama Riana seraya melirik anaknya yang gelisah.


"Sudah lama, Ma?" tanya Reyhan lagi.


"Baru beberapa menit yang lalu. Kenapa sih? baru di tinggal ke dapur saja sudah gelisah seperti itu. Bagaimana kalau di tinggal lama? Bisa gila kamu." cibir Mama Riana dengan tertawa pelan.


"Rindu, Ma. Reyhan tidak mau lama-lama berjauhan dari Amora."


"Dasar micin! Eh bucin!" cibir Mama Riana.


"Mama 'kan tahu sendiri perasaan Reyhan ke Amora itu gimana. Mau Mama bilang bucin atau apapun itu, Reyhan tidak peduli."


"Iya sayang iya. Mama tahu kamu itu sangat mencintai Istri kamu. Tapi jangan terlalu overprotektif juga. Wanita akan risih jika suaminya terlalu overprotektif. Beri dia ruang dan jangan terlalu mengekangnya. Kamu paham kan, maksud Mama?" wanita itu melihat anaknya dengan serius. Sementara Reyhan masih mencerna perkataan sang mama dan mengangguk setelah beberapa detik.


"Reyhan paham, Ma."


"Bagus." sahut Mama Riana seraya kembali menyesap tehnya yang mulai dingin.


Suara dering ponsel terdengar, dengan cepat Reyhan meraih ponsel yang ada di atas meja kecil di hadapannya. Ia melirik sebuah nomor asing yang tertera di layar ponsel.


"Mengapa tidak di angkat?" tanya Mama Riana yang tidak sengaja melihat anaknya hanya menatap layar ponsel.


Reyhan menoleh.


"Nomor tidak di kenal, Ma."


"Iya selamat siang." sahut Reyhan setelah menerima panggilan dan mendengar sapaan dari seberang telepon. Mama Riana hanya diam menyimak dengan sesekali memasukkan sepotong biskuit ke dalam mulutnya.


Wajah yang semula tenang itu berubah menjadi serius. Reyhan menggertakkan giginya di susul dengan kepalan tangan penuh emosi. Mama Riana yang melihat gelagat aneh sang anak, segera menghentikan kunyahannya.


Kini ia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Reyhan agar bisa ikut mendengar apa yang sedang di bicarakan oleh orang yang di seberang telepon.


"Baik, Pak. Terimakasih." kata Reyhan seraya menutup panggilan telepon. Ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja kecil yang ada di hadapannya.


"Ada apa Rey? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Mama Riana penasaran. Ia menatap lekat wajah anaknya yang kini berubah serius di sertai emosi yang tak kasat mata.


"Farhan, Ma." jawab Reyhan dengan kesal.


Sontak saja Mama Riana mendelik dan emosi.


"Mau apalagi anak itu? Bukankah polisi sedang bergerak untuk menangkapnya?"


"Justru itu, Ma. Polisi tidak bisa menemukan Farhan."


"Apa? Maksudnya bagaimana, Rey? Apa maksud kamu dengan tidak di temukan?"


Mama Riana berubah panik.


"Dia berhasil kabur dan sekarang berada dalam pengejaran polisi. Ia melarikan diri saat akan di tangkap dan polisi itu kehilangan jejaknya." jelas Reyhan dengan geram. Mengingat kembali apa yang telah di lakukan sepupunya itu membuat dirinya geram. Terlebih lagi Farhan berkali-kali berusaha merebut Amora darinya. Bahkan tidak hanya itu, terakhir kali yang ia lakukan pada Amora juga sangat fatal. Ia melecehkan istrinya dan berusaha menghabisi dirinya. Ia tidak akan memaafkan meski pria itu adalah sepupunya sendiri.


"Ya Tuhan anak itu benar-benar kelewatan. Mama tidak tahu lagi apa yang ada di pikiran dia. Mungkin waktu pembagian otak, dirinya tidak hadir. Makanya jadi seperti itu kelakuannya." Mama Riana menggerutu.


"Mama ada-ada saja," Reyhan terkekeh mendengar gerutuan Mamanya yang terasa lucu di telinganya.


"Abisnya mama itu kesal dengan sepupu kamu itu, Rey. Cuma dia yang jauh berbeda dari yang lain. Memang itu anak produk yang gagal." masih dengan celotehannya.


"Mengapa Amora lama sekali?" tanya Reyhan dengan gelisah.


"Tunggu sebentar lagi, Rey. Kamu ini sangat tidak sabaran."


"Tapi, Ma. Amora sudah dari tadi dan belum juga kembali. Perasaan Reyhan jadi tidak enak." ujarnya seraya memegang dada.


"Tunggu sebentar lagi, Rey. Amora masih di rumah ini dan rumah ini sudah di jaga satpam, jadi tenang saja."


Reyhan mengangguk lemah sembari menatap pintu yang jauh dari pandangan, berharap Amora akan muncul dari sana.


Sementara itu, Amora sedang menyiapkan puding coklat yang ia buat tadi. Memasukkan beberapa potong puding berbentuk persegi panjang ke dalam piring berbentuk love berwarna putih.


"Tapi, apa rasanya enak?" tiba-tiba wanita itu meragukan puding buatannya. Ia pun mengambil satu potong puding coklat itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa dingin, lembut dan manis melebur menjadi satu di dalam mulutnya.


"Ah ini enak sekali." ia pun tersenyum senang karena hasil buatannya tidak mengecewakan.


"Reyhan pasti akan suka," ia kembali tersenyum membayangkan Reyhan yang akan lahap memakan puding coklat itu. Setelah selesai menata puding itu ke atas piring, ia segara membawanya dengan senyum yang tak surut dari wajahnya. Tapi ketika ia baru saja keluar dari dapur, sebuah tangan membekap mulutnya dan menyeret tubuhnya. Amora terkejut bukan main, piring berisi puding yang berada dalam genggamannya terlepas begitu saja.


Prang ...!!!


Suara piring yang terjatuh dan pecah terdengar begitu nyaring sehingga membuat Reyhan dan Mama Riana terkejut. Keduanya saling pandang sebentar, lalu tersadar akan seseorang.


"AMORA ...!" keduanya berteriak bersamaan dan dengan berlari keduanya menuju ke dalam rumah. Sesampainya di dapur, keduanya terkejut melihat piring pecah beserta puding coklat yang berserakan di lantai keramik berwarna putih. Wajah Reyhan semakin tegang ketika ia tidak menemukan istrinya di sana. Perasaannya yang semula gelisah menjadi semakin gelisah dan tidak karuan.


"Dimana Amora?" matanya berkeliling, mencari jejak sang istri yang tidak bisa ia lihat dimanapun.


"Amora! Kamu di mana?" teriak Reyhan frustasi. Mama Riana kebingungan, ia tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Segala pikiran buruk merasuki kepalanya sehingga ia semakin tidak tenang dan mulai menangis.


"Dimana Amora? Kenapa Amora tidak ada?" lirihnya seraya sesenggukan.