Suami Sementara

Suami Sementara
Di gudang


Reyhan dan Pak Joko memasuki garasi yang agak gelap, ia mencari sakelar di dinding dan menghidupkan lampu. Garasi itu terlihat seperti tempat penyimpanan kendaraan seperti biasanya. Pak Joko celingukan kesana kesini mencari pintu rahasia yang di maksud. Hingga ia melihat Reyhan menyentuh dinding yang warnanya agak berbeda dari dinding lainnya. Jika dinding lain berwarna putih, dinding ini berwarna cream.


Pak Joko memperhatikan Reyhan yang membuka pintu itu dengan mudah, setelah terbuka tampaklah lorong gelap yang panjang serta agak sempit. Mungkin hanya cukup satu orang dan tidak bisa berjalan secara berdampingan.


"Apa Bapak membawa senter?" tanya Reyhan pada Pak Joko.


"Bawa, Den." pria yang tak lagi muda itu mengeluarkan senter kecil yang ada di saku celananya dan memberikannya pada Reyhan. Dengan cepat Reyhan menerimanya dan mulai berjalan menyusuri lorong sempit nan gelap itu di bantu dengan senter kecil yang ada di tangannya.


Pak Joko mengikutinya dengan takut, sesekali mengusap lengannya yang tiba-tiba saja terasa meremang. Meski begitu ia tidak bisa untuk berbalik ke belakang. Lorong itu tidak terlalu panjang, setelah berjalan sekitar lima menit mereka menemukan pintu dari bahan kayu yang tak terlalu tinggi. Bahkan Reyhan harus menunduk saat melewati pintu itu. Sesampainya di luar, keduanya tak menemukan apapun. Hingga Pak Joko melihat sebuah sepeda motor yang terparkir tak jauh dari pagar rumah.


"Den, itu motor siapa?" Jari telunjuk pria itu mengarah pada sepeda motor matic berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Pandangan Reyhan mengikuti arah yang di tunjuk Pak Joko, memang benar di sana ada sepeda motor matic berwarna hitam yang terparkir.


"Ayo, Pak kita lihat!" ajak Reyhan seraya terus berjalan mendekati motor yang terlihat mencurigakan itu. Pak Joko hanya mengangguk dan berjalan di belakang anak majikannya.


Sesampainya di sana, keduanya mengamati motor itu. Keduanya terlihat bingung, pasalnya mereka belum pernah melihat kendaraan yang mencurigakan itu sebelumnya.


"Jangan-jangan motor ini digunakan Farhan kesini dan ia benar-benar melewati pintu rahasia itu dan itu artinya ...."


"Farhan masih berada di rumah ini. Ya, aku sangat yakin sepupu brengsek itu masih ada di rumah ini." ujarnya.


"Ayo Pak, kita kembali kerumah. Reyhan sangat yakin Farhan masih ada di area rumah ini. Cari di semua tempat sampai dapat. Jangan sampai ada yang terlewat." perintah Reyhan sembari meninggalkan motor yang mencurigakan itu.


"Siap, Den." sahut Pak Joko. Reyhan mengangguk dan segera masuk kembali ke dalam rumah melalui pintu rahasia.


Sementara itu di dalam gudang.


Farhan berjalan perlahan mengelilingi Amora yang kini sedang menatapnya dengan marah.


"Ayolah Amora. Kita pergi dari sini," bujuk Farhan lagi. Ia tidak kehilangan akal agar sang mantan istri mau kembali lagi padanya dan ikut bersamanya.


"Kamu kenapa sih? Aku kan sudah bilang, aku tidak mau dan pergilah sendiri. Aku tidak akan meninggalkan Reyhan."


Farhan berhenti, kini ia berjongkok di hadapan Amora dengan wajah sedih yang di buat-buat.


"Jangan naif kamu, Ra. Jelas-jelas Reyhan tidak mencintai kamu. Dia hanya kasihan dan dia akan meninggalkan kamu cepat atau lambat. Hanya aku pria yang sangat mencintai kamu, Ra."


Amora tersenyum sinis mendengar ucapan Farhan.


"Cinta, kamu bilang?"


"Aku sangat mencintaimu, Ra. Jika tidak, aku tidak akan mungkin melakukan semua ini. Ini semua aku lakukan karena aku sangat mencintai kamu. Percayalah, Amora. Aku sungguh-sungguh sangat mencintai kamu."


"Itu bukan cinta! Tapi itu obsesi. Kamu terobsesi memiliki aku karena kamu tidak ingin kalah dari Reyhan. Kamu juga menyesal karena menyuruh Reyhan menikahi aku. Jangan katakan apa-apa tentang cinta, karena kamu tidak mengerti apa itu cinta!"


Farhan memejamkan mata sejenak demi menahan amarah. Menghela napas berat karna rasa kesal yang menjalar dan menguasai dirinya.


"Amora. Jangan mengajariku tentang cinta."


lirihnya dengan nada kesal yang tertahan.


"Aku tidak mengajarimu. Aku cuma mengatakan bahwa kamu sama sekali tidak pantas mengatakan apa-apa tentang cinta. Kamu tidak pernah tahu apa itu cinta, pengorbanan atau pun kesetiaan. Ego kamu terlalu tinggi untuk satu hal yang bernama cinta. Kamu selalu mengedepankan ego tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kamu selalu ingin kembali dan mengatasnamakan cinta setelah apa yang kamu lakukan?" Sudut bibir Amora terangkat. Tak ada lagi rasa cinta yang tertinggal di hatinya. Mulanya ia sempat mulai terpengaruh dengan ucapan Farhan tentang Reyhan. Tapi hatinya mengatakan, ini semua hanyalah bualan Farhan semata.


"Kamu tidak hanya menyakiti aku, Farhan. Tapi kamu juga menyakiti sahabatku, Sania. Dia sudah sangat mencintaimu dan banyak berkorban untukmu. Tapi apakah kamu menghargai semua itu? Apakah pernah kamu menghargai perasaan Sania untuknya?"


"Bagaimana pun dia, dia akan selalu menjadi sahabatku. Dia hanya salah mencintai seseorang, salah meletakkan cintanya. Dia di butakan oleh cintanya kepadamu. Jika ia mencintai orang yang tepat, aku yakin dia tidak akan berubah seperti ini." Amora menatap Farhan dengan tajam ada emosi yang tersirat dari tatapan wanita cantik itu.


"Jadi kau menganggap aku orang yang salah?" Geram pria itu. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Wajahnya memerah dengan urat leher yang mengencang.


"Menurutmu?"


"Kau benar-benar telah berubah, Amora. Selama ini kamu tidak pernah berani mengatakan hal buruk apapun padaku. Tapi semenjak kamu menikah dengan sepupu sialan itu, kamu sudah jauh berubah. Kamu bukan Amora yang seperti aku kenal dulu. Amora yang menatapku penuh cinta, penuh kasih sayang dan ...."


"Bodoh." tukas Amora dengan cepat.


"Kenapa kamu mengatakan hal itu? Kamu tidak bodoh. Tapi memang begitulah seharusnya sikapmu sebagai istri yang baik."


"Munafik." katanya.


"Apa kamu bilang? Aku munafik?"


"Tidak perlu bagiku untuk mengulangi kata-kata itu."


"Kamu keterlaluan Amora!" Pria itu berteriak dengan kesal. Ia maju beberapa langkah lalu mencengkram kedua bahu Amora dengan kuat.


"Berhenti berkata hal buruk tentangku. Kembali padaku dan tinggalkan pria sialan itu!"


"Aku tidak akan menuruti kata-katamu. Aku tidak akan meninggalkan pria sebaik Reyhan hanya demi pria seperti kamu. Lepaskan aku dan kembalilah pada Sania. Dia sangat mencintai kamu."


"Aku tidak mencintainya dan aku hanya mencintai kamu! Aku hanya menginginkan kamu, Amora. Hanya kamu. Bukan Sania atau siapapun."


"Jika kamu hanya mencintai aku, mengapa sikapmu tidak menunjukkan hal itu? Mengapa kamu malah menunjukkan sikap yang sebaliknya? Apa itu namanya cinta?"


"Aku hanya mencintaimu Amora. Aku cinta sama kamu." Farhan mendekatkan wajahnya.


"Jangan mendekat dan lepaskan aku!" Amora memalingkan wajah menghindari Farhan yang berusaha menciumnya.


"Tidak akan!" ucap Farhan seraya terus berusaha kembali mendekatkan wajahnya. Amora berusaha berontak dan memukuli wajah Farhan sehingga menyulut emosi Farhan.


"Jangan berontak dan tetap diam. Nikmati sentuhan yang aku berikan. Lakukan seperti yang dulu kamu lakukan. Cukup nikmati saja dan jangan membantah!"


"Dasar bajingan! Dasar pria tidak punya hati! Brengsek kamu Farhan! Lepaskan! Aku jijik!" Maki Amora dengan terus berusaha melepaskan diri. Ia berhasil memukul kepala Farhan dengan kuat, membuat pria itu terhuyung ke belakang dan melepaskan tubuh Amora. Amora tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia berlari menuju pintu gudang. Tinggal beberapa jengkal lagi ia menggapai pintu, tapi Amora merasakan dress yang ia kenakan di tarik dengan kuat dari belakang bahkan dress itu robek.


Amora mendelik, kini ia sudah berada di tangan Farhan lagi. Pria itu tersenyum dengan seringai mengerikan.


"Aku akan merasakan tubuh kamu lagi, Amora. Aku akan menikmati semuanya lagi. Aku sangat merindukan kamu."


Pria itu melemparkan tubuh Amora ke atas lantai putih yang dingin. Amora beringsut menjauh hingga menabrak dinding yang ada di belakangnya. Ia tidak bisa kemana-mana sekarang. Ia benar-benar terjebak.


"Kau tidak bisa kemana-mana lagi, Amora. Hari ini kau akan kembali ku miliki." ucap Farhan seraya melepaskan kemeja yang ia pakai.


"Dasar bajingan! Lepaskan aku brengsek!" teriak Amora marah. Ia segera berdiri kembali, berusaha kabur tapi Farhan dengan cepat menangkap Amora kembali. Kini ia mencium Amora dengan brutal dan penuh napsu. Amora berteriak dengan tangis yang mengiringi. Sungguh ia tidak akan pernah rela jika dirinya di sentuh pria ini.


"Tuhan ... Tolong aku." jeritnya dalam hati.


"Reyhan dimana kamu. Tolong aku Rey." hatinya ikut menangis, ia berharap Tuhan berbaik hati padanya sehingga kehormatannya sebagai wanita tetap terjaga. Ia tidak akan pernah bisa menatap wajah Reyhan lagi jika dirinya benar-benar berhasil di sentuh pria lain.