Suami Sementara

Suami Sementara
Aku merindukanmu


Happy reading zheyeng 😘


______________________________


Bel pintu berbunyi, Amora yang baru saja berjalan menuju dapur mengurungkan niatnya. Ia berbalik arah, lalu berhenti.


"Kenapa Reyhan tidak masuk saja? kenapa harus memencet bel?" tanya Amora pada diri sendiri. Kerutan di dahinya sangat tampak, meski begitu wanita berparas cantik itu tetap melangkah menuju pintu.


"Reyhan, kenapa kau ...." kalimatnya tergantung ketika pria yang berdiri di hadapannya bukanlah Reyhan melainkan Farhan sang mantan suami.


"Mas Farhan?" Amora melongo.


"Hai Amora, apa kabar?" Farhan memasang senyum lebar, menunjukkan deretan gigi putih miliknya.


"Baik, ada apa mas kesini?"


"Aku ingin melihat keadaan kamu. Boleh aku masuk?"


"Ah, maaf. Silahkan masuk, tapi Reyhan sedang tidak ada." ujar Amora. Ia terlalu terkejut dengan kedatangan Farhan sehingga lupa untuk mempersilahkan pria itu untuk masuk.


"Aku hanya sebentar, lagipula aku ingin menemui kamu bukan sepupu menyebalkan itu." rajuk Farhan. Ia memajukan bibirnya beberapa senti.


"Astaga mas, ya sudah ayo masuk." ajak Amora. Ia berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Farhan.


"Jangan di tutup!" cegah Amora ketika mendengar pintu yang hendak di tutup oleh Farhan. Ia membalikkan badan sehingga pria itu mengurungkan niatnya, dan bertanya dengan mengernyitkan dahi.


"Aku tidak ingin timbul fitnah dengan berdua saja denganmu di dalam. Biarkan pintunya terbuka."


"Tapi kan, kita?"


"Kita sudah berpisah, Mas."


"Baiklah, aku mengerti." ujar Farhan dengan kecewa. Ia terpaksa membuka pintu itu lebar-lebar menuruti permintaan sang mantan istri.


Farhan duduk di sofa ruang tamu di sebelah Amora, tapi wanita itu menghindar dan berpindah ke kursi kecil yang berada tak jauh dari sofa yang di duduki Farhan. Farhan menatap Amora dengan bingung, lagi-lagi ia merasa kecewa dengan sikap Amora yang sangat berbeda.


"Mas mau minum apa?" tanya Amora dengan canggung. Sejujurnya ia merasa tidak nyaman dengan kedatangan Farhan. Padahal dulu ia sangat menantikan dan memuja pria itu, ia akan menatap pria itu dengan hangat dan penuh cinta. Tapi entah mengapa sekarang ia merasa risih dan tidak nyaman apalagi saat ini ia hanya berdua saja dalam satu ruangan.


"Aku rindu kopi buatan kamu, apa boleh?" tanya Farhan penuh harap. Ia menatap Amora dengan kerinduan yang teramat sangat. Rasa cinta itu masih tersisa di hatinya dan harapan untuk kembali dengan wanita yang ada di hadapannya itu masih sangatlah besar.


"Akan aku buatkan, tunggulah sebentar!" Amora berdiri dan berlalu menuju dapur. Farhan tak sedikitpun memutuskan pandangannya pada wanita yang pernah merajut cinta dengannya itu. Setelah bayangan wanita itu berlalu, Farhan memperhatikan sekeliling. Semuanya masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Ia sangat merindukan semuanya, ia rindu Amora dan semua kenangan yang pernah mereka lalui bersama. Ia ingin tiga bulan ini berlalu dengan cepat agar ia bisa segera kembali hidup dengan wanita itu.


Ia tersenyum ketika kenangan itu melintas, tawa Amora yang memenuhi semua ruangan. Canda tawa serta suara Amora dan dirinya yang menggema berbaur menjadi satu. Semua terasa sangat indah sebelum kejadian beberapa bulan lalu. Ia tak bisa menolak ketika Sania nekat menemuinya di apartemen ini. Di ranjang itu, tempat ia dan Amora tidur bersama setiap malam. Di ranjang itu pula ia bercinta dengan penuh gairah bersama Sania. Ah, pria itu sangat menyayangkan kebodohannya. Ia menyesal karena nafsu itu membuatnya harus kehilangan wanita yang sangat baik seperti Amora.


Ia menangkup wajahnya, kedua tangannya bertumpu pada lutut.


"Mas, ini kopinya." suara Amora menarik pria itu dari penyesalannya. Farhan mengangkat kepala dan menurunkan tangannya yang semula menangkup wajahnya. Ia tersenyum tipis, menatap wanita sedang meletakkan secangkir gelas yang berisi kopi hitam kesukaannya.


"Terimakasih." ucapnya tulus.


Amora hanya mengangguk lalu duduk di kursi kecil di seberang Farhan. Pria itu meraih secangkir kopi yang masih mengeluarkan uap panas yang mengepul. Aroma khas kopi tercium memenuhi indera penciumannya. Ia menghirup lamat-lamat aroma kopi yang ia rindukan itu. Farhan sangat menyukai kopi yang di buat oleh Amora. Meski sederhana tapi entah kenapa kopi itu membuatnya candu serta rindu.


Farhan menghirup kopi itu dengan terburu-buru, sehingga lidahnya terasa terbakar ketika kopi yang masih panas itu menyentuh lidahnya.


"Ah ... panas!" Farhan menjauhkan cangkir kopi itu dan meletakkan kembali ke atas piring kecil yang berada di atas meja.


"Hati-hati mas, kopi itu masih panas." ujar Amora panik. Wanita itu berdiri menghampiri Farhan yang mengibas tangannya seraya menjulurkan lidahnya yang terasa terbakar.


"Lidahku terasa terbakar." keluh Farhan. Amora duduk di sebelah pria itu, meniup wajah Farhan berharap dapat membantu meringankan rasa perih yang di rasakan Farhan. Wajah Amora terlihat khawatir dan hal itu menimbulkan tanggapan yang salah dari Farhan. Ia berspekulasi bahwa mantan istrinya masih menyimpan rasa yang sama untuknya.


Pria itu tanpa sadar tersenyum sendiri, mendapatkan perhatian kecil dari Amora membuat hatinya melambung tinggi. Harapan untuk kembali kini hadir kembali sehingga meningkatkan rasa percaya diri. Ia yakin Amora masih mencintainya dan mereka akan kembali menjadi suami istri.


"Mas tidak apa-apa?" tanya Amora dengan raut wajah khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Apa kamu begitu mengkhawatirkan diriku?"


"Hah? aku?" Amora tergagap, tanpa sadar jarak mereka terlalu dekat. Amora segera menarik diri dan menjauh dari Farhan. Tapi belum sempat Amora berdiri, pergelangan tangannya di tarik oleh Farhan sehingga ia terjatuh ke dalam pangkuan sang mantan suami.


"Mas ...!" teriak Amora tertahan. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Farhan. Ia mendelik dan meronta hendak berdiri.


"Diam lah sebentar! aku sangat merindukanmu." ucap Farhan memelas. Matanya memancarkan kerinduan yang teramat dalam. Amora hanya diam menatap mata yang terlihat tulus dan sendu itu.


"Aku sangat merindukanmu, Amora. Apa kamu juga merasakan hal yang sama denganku? Aku ingin kita kembali seperti dulu, bahagiaku hanya bersamamu. Bukan yang lain!" Farhan memeluk Amora, melepaskan segala kerinduan yang selama ini terpendam. Sementara wanita itu hanya diam terpaku tanpa membalas sedikit pun pelukan Farhan. Hatinya mati rasa, semuanya terasa hambar.


"Aku hanya mencintaimu, Amora. Kembalilah padaku dan kita mulai semuanya dari awal." Amora hanya diam tanpa mengucapkan satu kata apapun. Lidahnya kelu, semuanya terjadi dengan tiba-tiba dan begitu cepat. Tanpa mereka berdua sadari, seorang pria berdiri di pintu masuk menyaksikan semuanya dengan perasaan yang hancur. Matanya nanar dan tanpa sadar bulir bening itu turun tanpa permisi, ia menangis!


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Hai zheyeng 😘


Makasih kalian semua masih menunggu cerita ini. Maafkan author sengklek ini yang kadang moodyan buat up. Harap maklum ye, karena RL lumayan sibuk. Caila, sok sibuk aku tuhπŸ™ŠπŸ™Š


Makasih semangatnya😘😘


Dukungan dari kalian semua bener-bener jadi moodbooster buat author. Pokoknya makasih banyak. Elepyyuuuuuu full 😘😘