Suami Sementara

Suami Sementara
Pebinor


Amora menatap pria yang pernah ada di hidupnya itu dengan sendu. Tak menyangka jika akhirnya semua akan seperti ini. Pria yang pernah ada di hatinya itu harus berakhir di jeruji besi. Mengenakan baju tahanan berwarna orange. Pria itu duduk bersandar di kursi yang telah tersedia untuk menemui pengunjung. Bola mata hitam kelam itu menatap penuh kebencian pada pria yang ada di samping Amora. Pria yang sejak tadi menggenggam erat sang mantan istri. Hal itu membuat Farhan semakin gerah dan marah. Wajah pria itu memerah dengan urat yang menyembul. Ia menoleh pada wanita yang masih ada di hatinya itu.


"Mengapa kamu harus membawa pria ini untuk menjenguk ku, Amora?" tanya Farhan seraya menatap wanita yang ada di hadapannya dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Amora melemparkan tatapannya pada pria yang ada di sampingnya, Reyhan yang di tatap pun mengangguk pelan seraya mempererat genggamannya. Ia mencoba menguatkan istrinya, menyalurkan kekuatan.


Amora kembali menatap sang mantan suami setelah merasa mendapatkan kekuatan itu.


"Reyhan suamiku sekarang. Jadi sudah sepantasnya kamu menghargai dia. Dan sudah sewajarnya jika dia menemaniku kemana pun aku pergi."


Farhan berdecih, sudut bibirnya terangkat dengan bola mata yang memutar secara terang-terangan.


"Kelihatannya kamu sangat bangga memiliki pria itu, Amora." kata Farhan membuat Amora mengernyitkan dahi.


"Sudah sewajarnya aku bangga. Dia suamiku,"


"Dasar PEBINOR!" kata Farhan seraya menatap Reyhan dengan penuh kebencian yang sama. Reyhan yang di tatap sedemikian rupa hanya bisa diam tanpa banyak bicara.


"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya Amora kesal. Bahkan saat ini rasanya ia ingi pulang saja.


"Karena dia memang PEBINOR." Farhan sengaja menekan kata pebinor.


"Berhenti mengatakan hal itu!" geram Amora. Bahkan dirinya menahan amarah yang menggulung, ia tidak rela jika Farhan mengatakan hal buruk tentang Reyhan.


"Kenapa sayang? bukankah semua sudah tau kalau pria ini Pebinor?" Farhan mengangkat sebelah alisnya dengan sudut bibir terangkat.


"Apa maksudmu mengatakan hal itu?" Reyhan yang sedari tadi hanya diam tanpa kata itu pun akhirnya menyaut. Pandangan Farhan beralih pada sepupunya yang selalu tampak rapi dan tampan itu. Sangat berkelas dan jauh berbeda dengannya.


"PEBINOR!" Farhan mengulangi kata-katanya seraya bersedekap.


"Bukankah indera pendengaran kamu berfungsi dengan baik?"


"Jangan berbelit-belit. Apa maksud kamu mengatakan hal tidak berguna seperti itu?"


"Jangan sok berguna kamu! Kamu memang PEBINOR! Amora itu masih istriku dan kamu dengan tidak punya hati2 merebut dia dari hidupku."


Reyhan terkekeh setelah mendengar perkataan Farhan.


"Dari segi mana kamu bisa mengatakan aku pebinor? Bukankah kamu yang menyerahkan Amora padaku? Bukankah kamu yang meminta aku untuk menikahinya? Apa kamu amnesia?"


"Aku menyerahkan kepada mu, hanya untuk sementara! Bukannya selamanya!" geram Farhan seraya mengepalkan kedua tangannya.


"Kami saling mencintai, jadi kamu tidak berhak lagi atas cinta dan hidup Amora. Renungkan kesalahan kamu, dan bertaubatlah." kata Reyhan dengan pelan. Sungguh ia pun sebenarnya tidak ingin melihat hidup sepupunya akan berakhir tragis di balik jeruji besi seperti ini.


"Aku juga masih sangat mencintai Amora!"


"Lalu jika memang kamu mencintai Amora, mengapa selalu menyakiti Amora? Orang yang benar-benar mencintai, ia tidak akan pernah kasar. Ia akan menjaga orang yang di cintainya dengan baik. Tidak akan menyakiti fisik ataupun hati wanita itu. Akan selalu memikirkan kebahagiaan pasangan di atas kebahagiaan diri sendiri."


"Jangan berbicara apapun tentang itu!" geram Farhan dengan wajah semakin memerah menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak. Reyhan hanya diam, tanpa membalas. Ia hanya menggenggam jemari lentik milik istrinya.


Farhan yang melihat itu pun semakin cemburu dan ingin sekali merebut serta memusnahkan Reyhan dengan kedua tangannya. Dendam yang ada di hatinya tumbuh semakin subur.


"Dasar PEBINOR!" makinya kesal.