
'Cinta tak pernah salah. Kita tidak bisa memilih pada siapa cinta akan berlabuh. Semua tergantung pada diri, akan tetap maju ataukah mundur, meski semuanya salah sekalipun.'
"Katakan! siapa yang sudah menghamili kamu?!" tanya Farhan dengan geram. Tangannya mencengkram dengan kuat dagu wanita yang telah berurai air mata itu.
"Apa maksud kamu, mas? ini anak kamu." ujarnya seraya menahan sakit. Tangannya berusaha melepaskan cengkraman sang suami yang semakin kuat di rahangnya.
"Jangan mengada-ada kamu Sania! aku yakin kamu pasti selingkuh di belakangku!" teriaknya marah. Melemparkan tubuh wanita itu begitu saja, sehingga Sania terjerembab ke atas ranjang. Wanita itu hanya bisa menangis seraya memegangi perut bagian bawahnya yang terasa nyeri.
Farhan menarik rambutnya dengan kuat. Berkali-kali terdengar berbagai umpatan yang keluar dari mulutnya.
"Dasar murahan! harusnya aku tidak menikahimu sejak awal!" makinya dengan keras.
Sania berdiri, tak terima dengan apa yang di katakan suaminya.
"Kau tidak lebih murahan dari pada aku! kau suka bermain perempuan di belakangku, mas."
"Heh brengsek! siapa yang mengizinkan kamu mengatai ku, ha? dasar istri tidak berguna!"
Plakk.... terdengar suara tamparan yang menggema di kamar itu. Tubuh lemah itu terhuyung, jatuh tersungkur di lantai yang dingin.
"Aku sangat menyesal menikahimu! seharusnya aku tidak menjalin hubungan denganmu sehingga kami bercerai! kau pembawa sial! tidak berguna!"
"Kamu yang tidak berguna, mas!" teriak Sania tak mau kalah. Hatinya sangat sakit ketika pria itu tidak mengakui bahwa anak yang ia kandung adalah anaknya. Ia berharap dengan hamil, maka sikap Farhan akan baik padanya. Tapi ternyata tidak, pria itu terlihat sangat marah dan mengamuk seperti ini.
"Sekali lagi kata-kata itu keluar dari mulutmu, maka akan ku pastikan kamu dan anak dalam perutmu akan mati mengenaskan!" ancam pria itu dengan wajah memerah menahan marah. Sania terlihat ketakutan, bagaimana pun juga ia belum ingin mati. Dengan refleks ia memeluk perutnya, berusaha melindungi makhluk yang tak berdosa di dalam sana.
"Katakan! siapa pria itu!" kali ini mencengkeram kuat kedua bahu Sania yang sedang menggigil ketakutan.
"Ke-kenapa kau bertanya se-seperti itu mas?" tanya Sania dengan suara gemetar.
"Karna aku tidak akan mungkin bisa punya anak!" teriaknya dengan kesal.
"A-apa?" Sania terkejut. Secara tak sadar mulutnya terbuka.
"Kau puas sekarang, ha? jadi mari akui siapa pria itu?"
"Ma-mas apa maksudnya? Bukankah Amora yang mandul?" cicitnya dengan takut.
"Aku yang mandul! tapi aku menyuruh Amora mengakui bahwa dia yang mandul. Lihatlah betapa bodohnya dia, dia bahkan rela mendapatkan cacian dari semua orang hanya karena melindungi ku. Menjaga nama baik ku. Lihatlah! betapa dia terlalu mencintaiku sehingga dia rela melakukan apapun demi diriku!" pria berdiri, dengan tawa yang meledak. Sania bergidik ngeri. Sekarang ia baru sadar pria yang ia cintai ini tak ubahnya seperti iblis yang tak punya hati.
"Dan karena ke kebodohan ku, aku harus kehilangan wanita sebaik dia! aku bersumpah tidak akan melepaskannya kali ini. Amora cuma milikku. Aku tak akan merelakan dia begitu saja pada Reyhan sialan itu!" ia menggeram marah. Mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, sehingga kuku tangannya terlihat memutih. Sania beringsut mundur, berusaha untuk keluar dari ruangan ini. Ia baru sadar sekarang, pria macam apa suami yang selalu ia puja selama ini.
Tapi baru saja ia akan keluar kamar, suara Reyhan mengejutkan nya.
"Jangan lari kamu!" ia menarik pergelangan tangan Sania dengan kasar. Bahkan wanita itu merasa pergelangan tangannya akan patah.
"Lepaskan, mas! sakit." rintihnya seraya menangis.
"Apa? Lepaskan? enak saja! aku tidak akan pernah melepaskan kamu! karena kamulah sebab hancurnya hidup aku!" ia melotot dengan marah.
"Mas, tolong lepaskan. Sakit, mas." ujar Sania seraya memohon. Wajahnya terlihay menyedihkan, dengan sudut bibir yang koyak. Ada sebercak darah di sana.
"Katakan! siapa pria itu! aku akan membunuh kalian berdua! aku tidak terima jika milikku di sentuh orang lain!"
"Dasar pria iblis! harusnya aku tidak merebut kamu dari Amora. Aku menyesal mencintai kamu, mas! Aku menyesal!" teriaknya pilu. Farhan menyeringai, menatap Sania dengan tajam dan dengan tatapan mengerikan.
"Apa kamu bilang? aku Iblis?"
Sania terdiam karena takut. Tubuh Farhan di selubungi aura gelap yang menakutkan. Membuat tubuhnya merinding ketakutan. Bahkan ia merasa sekujur tubuhnya menggigil kedinginan.
"Ayo, katakan sekali lagi! aku ingin mendengar sekali lagi." ujarnya pelan.
Sania menggeleng seraya tetap berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria itu. Tangannya terasa sangat sakit, bahkan perut bagian bawahnya terasa sangat nyeri. Ia tidak ingin kehilangan anak yang ada dalam perutnya, karena ia mulai berpikir anak itu akan bisa mengancam bosnya untuk menikahinya.
"Katakan atau aku patahkan tanganmu!" ancam pria itu dengan marah. Giginya gemeletukan menahan amarah.
"PRIA IBLIS!" entah kekuatan dari mana Sania bisa mengatakannya. Tampak sekali kebencian dari sorot matanya.
Plak ....
Sekali lagi, tamparan itu mendarat di wajah cantik wanita itu. Di susul dengan jatuhnya tubuh Sania yang telah sangat lemah. Ia pingsan!
"Dasar ****** lemah!" Farhan melepaskan tangan Sania yang sedari tadi di cengkramnya. Bahkan ia menendang tubuh lemah itu tanpa perasaan. Tak ada belas kasihan yang terbersit di hatinya sedikit pun.
"Aku pria iblis? ya, aku memang iblis." ujarnya seraya melangkah keluar apartemen. Meninggalkan tubuh Sania yang tergolek lemah tanpa daya. Ada seringai menyeramkan yang tercetak jelas di wajah pria itu.
❤️❤️
Hai zheyeng 😘
Jangan lupa like, komentar dan hadiahnya tak. hehe😂
Salam sayang untuk kalian semua😘