Suami Sementara

Suami Sementara
Sania ( Istri sementara)


Happy reading zheyeng 😘


______________________________


Di rumah Ibu Farhan


Semuanya berkumpul di satu meja yang sama, menikmati makanan yang di bawa oleh Sania.


"Enak banget, ya. Sering-sering aja begini. Lumayan kan memperbaiki gizi." ucap Ibu Farhan memakan ayam goreng crispy dengan lahap. Sania hanya tersenyum menanggapi.


"Ibu kok norak banget sih? seperti orang yang tidak pernah makan ayam aja." celetuk adik Farhan itu. Ia menggelengkan kepala melihat tingkah Ibunya. Ia hanya duduk mengamati semua orang yang sedang menyantap makanan yang di bawa Sania dan Farhan.


"Kamu ini. Ini kan gratis! lagipula Ibu mana ada uang buat beli makanan enak begini."


"Sania akan membawakan Ibu dan Fitri makanan enak setiap hari." ujar Sania dengan ramah.


"Wah benarkah? kamu memang menantu yang baik hati. Tidak seperti Amora yang pelit itu." ucap Ibu Farhan. Wajahnya berubah masam ketika mengingat Amora.


"Ibu kenapa sih selalu menjelekkan kak Amora? kurang baik apa kak Amora kepada keluarga kita?" protes Fitri. Ia tidak sedikitpun menyentuh makanan yang di bawa oleh kakak iparnya itu.


"Kamu diam saja! jelas Sania dan Amora berbeda. Sania lebih baik berkali-kali lipat daripada wanita mandul itu!" ucapan Ibu Farhan membuat Sania bagai terbang di atas awan. Ia tersenyum menang.


"Astaghfirullah, Bu. Kenapa Ibu tega berbicara seperti itu tentang kak Amora?"


"Kamu itu anak kecil tau apa? diam saja kamu! Untung Farhan menceraikan Wanita itu dan lebih memilih Sania."


"Terserah Ibu saja. Aku yakin suatu saat kak Farhan dan Ibu akan menyesal! Dengan bodohnya kalian menukar berlian hanya untuk memungut kerikil di jalan." cibir Fitri. Ia segera berdiri seraya menatap Sania dengan sinis. Melangkah meninggalkan meja makan yang sudah seperti neraka itu.


"Kamu ini kenapa berbicara seperti itu? mau kemana kamu? habiskan makanan kamu dulu!" teriak Ibu Farhan kesal.


"Lebih baik Fitri makan mie instan daripada makan makanan dari wanita itu." ujarnya tanpa menoleh. Ia masuk kamar dan membanting pintu kamar dengan kasar.


"Anak itu ya, tidak ada sopan santun sama sekali." rutuk Ibu Farhan. Ia melanjutkan untuk makan. Sedangkan Sania mencoba menahan amarah yang kian memuncak. Kepalanya seperti berasap mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari adik iparnya.


"Awas saja kamu, Fitri. Aku akan membuat perhitungan nanti!" gumamnya dalam hati.


Tak lama Farhan yang sedari tadi diam saja kini berdiri.


"Mau kemana, mas?" tanya Sania mengulas senyum manis. Ia ikut berdiri mengelus lengan suaminya itu tapi sedetik kemudian Farhan dengan cepat menepis tangan Sania yang berada di lengannya sehingga membuat Sania terkejut.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Sania dengan hati terluka. Farhan tak menghiraukan, ia segera berlalu dan meninggalkan meja makan menuju teras di iringi dengan tatapan penuh luka oleh Sania.


"Adik dan kakak sama saja. Biarkan mereka berdua, kita nikmati dulu makanan enak ini." ujar Ibu Farhan acuh. Ia melanjutkan kunyahan yang tertunda. Sementara Sania memandangnya dengan tatapan kesal.


"Ibu makan saja, Sania akan menyusul mas Farhan." pamitnya. Ia segera berjalan menyusul Farhan ke depan rumah mengabaikan Ibu mertuanya.


"Ya sudah kalau kalian semua tidak mau. Aku akan menghabiskan semuanya. Kapan lagi kan makan enak." ujarnya seraya makan dengan lahap.


Sesampainya di teras, Sania melihat Farhan sedang sibuk menghubungi seseorang.


"Kamu menghubungi siapa mas?" tanya Sania ketika sampai. Ia berdiri di belakang Farhan yang sibuk dengan ponselnya.


"Aku ini istri kamu, mas. Wajar kalau aku bertanya dan ingin tahu."


Farhan berbalik, tangan kanannya mencengkram dagu Sania dengan kasar sehingga wanita itu meringis kesakitan dan memegang tangan Farhan yang berada di dagunya.


"Kamu itu istri sementara! jadi jangan bertingkah seolah istri sebenarnya! jaga batasan kamu. Diam dan jangan banyak tingkah kalau tidak mau aku talak hari ini juga," ucap Farhan dengan geram.


"Mas, lepaskan! sakit." kata Sania. Matanya berair menahan sakit di rahangnya. Ia memegangi tangan Farhan dan mencoba melepaskannya.


"Apa kamu bilang? sakit?" Sania mengangguk.


"Makanya jadi perempuan jangan cerewet! masih untung kamu aku jadikan istri sementara!" Farhan melepaskan dagu Sania dengan kasar. Ia berlalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Sania yang meringis kesakitan memegangi dagunya yang terasa akan lepas.


"Jahat kamu, mas." Ia pun ikut masuk setelah menyeka bulir bening yang sengaja turun mewakili sakit hati yang ia rasa. Ia kira dengan menjadi istri Farhan ia akan merasakan kebahagiaan seperti yang ia impikan selama ini. Tapi siapa sangka impian itu hanya sebatas impian yang malah menjadi mimpi buruk dalam hidupnya. Menjadi sapi peras serta di perlakukan buruk oleh suaminya sendiri. Tapi hal itu tidak menyurutkan misi terpendam yang ia susun. Membalas Amora, mengambil satu persatu kebahagiaan wanita yang pernah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun sedari kecil.


Sania membuka pintu kamar, melihat Farhan yang sedang berdiri di depan jendela kamar sedang menghubungi seseorang. Terdengar tawa renyah milik Farhan yang sedang berbicara dengan seseorang di seberang telepon.


"Tunggu di tempat biasa ya sayang." suara Farhan terdengar menggelegar di telinga Sania. Tanpa pikir panjang wanita itu berjalan dengan cepat dan merampas ponsel yang sedang berada di telinga suaminya.


"Dasar ******! jangan pernah menghubungi suamiku lagi!" teriaknya dengan wajah memerah penuh amarah. Ia menekan ikon berwarna merah untuk mengakhiri panggilan.


"Dasar wanita tak tahu diri!"


Plakk ....


Kepala Sania terpelanting ke samping, sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Sania. Meninggalkan jejak kemerahan di sana. Sania meringis memegangi wajahnya yang terasa perih.


"Kenapa kamu ikut campur urusanku?!" teriak Farhan dengan keras. Ia merebut ponsel yang berada di tangan Sania.


"Aku ini istri kamu, mas. Kamu tega selingkuh di belakang aku? jahat kamu mas!"


"Bukankah sudah aku bilang kalau kamu itu hanya istri sementara! kamu tidak punya hak apa-apa! Cukup diam dan tunggu tiga bulan! setelah itu aku akan menceraikan kamu dan kembali pada Amora. Jadi kamu nikmati saja waktu yang aku berikan! jangan banyak tingkah kamu!" hardik Farhan. Urat di lehernya terlihat menonjol, menandakan ia sangat marah dan berteriak dengan keras.


"Kamu jahat mas! kamu bilang mencintaiku. Kamu bilang kamu sayang aku, mas. Kenapa kamu malah melakukan semuanya mas?" Isak tangis wanita itu memenuhi kamar serta terdengar di kamar Fitri yang kebetulan berada di sebelahnya. Fitri yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala lalu menyumbat telinganya dengan airphone.


"Jangan banyak tingkah! Berikan aku uang. Aku mau keluar!" Farhan menarik tas wanita itu. Mengambil beberapa lembar uang kertas berwarna merah dari dompet wanita itu. Tak lupa pula kartu kredit yang terselip di jajaran kartu yang ada di dompet berwarna hitam itu.


"Kembalikan mas." Sania mencoba merebut uang yang di ambil Farhan tapi dengan cepat pria itu mendorong tubuh istrinya hingga terjatuh ke lantai yang dingin.


"Diam kamu! jadi istri itu jangan pelit! durhaka kamu!" ujarnya seraya berjalan keluar kamar dan meninggalkan Sania yang berbaring meringis kesakitan di lantai. Tak lama terdengar suara mobil Farhan yang meninggalkan pelataran rumah Ibunya. Tangis Sania semakin menjadi, melihat sikutnya yang memerah akibat membentur lantai dengan keras.


🌺🌺🌺


Hai zheyeng 😘


Jaga kesehatan ya, semangat terus ngadepin hidup yang gk mudah ini. 😚😚


Jangan lupa like, komentar, hadiah serta vote nya biar author sengklek ini makin semangat buat up🀭🀭


i love you zheyeng 😘