Suami Sementara

Suami Sementara
Sepuluh ribu


Seorang wanita dengan perut sedikit membuncit menyeret langkahnya yang lemah. Sesekali ia terseok dan hampir terjatuh karena menopang beban tubuh yang belum terisi apapun sejak pagi. Tangan kirinya menarik koper yang berisi pakaian miliknya. Tidak tahu kemana langkah kaki akan membawanya. Ia hanya menyusuri sepanjang jalan yang ia lalui. Hingga kini ia memasuki gang kecil yang ia sendiri tidak tahu dimana.


Wanita bersurai pirang itu menghentikan langkahnya, menyeka buliran keringat yang kini berdesakan turun. Sesekali pandangannya menyapu warung nasi yang berjejer di hadapannya.


Kruuukkk ....


Cacing di dalam perutnya berdemo lagi. Ini tidak sekali perutnya berbunyi minta di isi. Entah untuk ke berapa kalinya tapi ia abaikan mengingat ia tidak punya uang.


"Sabar ya nak, Ibu tidak punya uang." ia mengelus perutnya, menenangkan makhluk kecil yang ada di dalam rahimnya. Perasaannya kini semakin sensitif, lebih lembut apalagi menyangkut nyawa yang kini tumbuh di dalam rahimnya. Rasa keibuan itu muncul dengan sendirinya meski selama ini ia tak pernah bersikap baik atau pun ramah pada siapapun.


Lagi-lagi ia hanya bisa meneguk ludah melihat beberapa orang yang sedang menyantap makanan di warteg yang ada di hadapannya. Ia melanjutkan langkahnya yang semakin lemas, tubuhnya terasa gemetar dengan keringat dingin yang mulai keluar dari pori-pori kulit.


Ia menarik kopernya dan menyeret langkahnya sembari terseok menuju bangku panjang yang ada di depannya. Di bawah pohon mangga di tepi jalan, ia duduk di sana untuk beristirahat.


"Dasar mertua tidak ada akhlak. Harusnya kasih bekal dong kalau mau ngusir. Ini barang-barang ku tidak di bawa semua, tidak di beri uang sedikitpun. Setidaknya kalau barang berharga lainnya ada 'kan bisa aku jual. Ini apa yang mau aku jual?" rutuknya sembari membuka koper dan mengecek isinya. Tidak ada barang apapun yang bernilai di sana. Hanya ada pakaian bahkan tidak lengkap. Hanya ada beberapa helai pakaian yang di bawakan oleh sang mertua.


Wanita itu kembali mengelus perutnya yang lapar. Tenggorokannya terasa sangat kering karena belum teraliri air sejak tadi. Kepalanya celingukan melihat ke arah warteg yang tak jauh dari tempatnya duduk. Ia menyipitkan matanya, mencoba melihat tulisan yang tidak terlalu besar itu agar terlihat lebih jelas.


Beberapa detik kemudian mata itu berbinar di susul dengan senyum sumringah.


"Sepuluh ribu bisa buat makan?"


"Apa aku salah lihat?"


Dirinya bagai menemukan harta karun. Matanya berbinar penuh haru menatap selembar uang kertas yang ada di tangannya.


"Ah akhirnya aku bisa makan," ucapnya penuh haru dan mengecup beberapa kali selembar uang kertas yang ada di tangannya.


Tanpa membuang waktu, Sania segera berlari menuju warteg yang memasang harga sepuluh ribu itu. Menyeret kopernya dengan tergesa dan senyum mengembang. Dulu baginya uang sepuluh ribu itu tidak berarti apa-apa. Tapi sekarang lihatlah, betapa senang hatinya hanya karena uang sepuluh ribu yang ia temukan di dalam saku celana bisa menyelamatkan nyawanya dari bencana kelaparan.


"Akhirnya aku tidak jadi mati kelaparan." katanya dengan senyum lebar.


"Bu, saya mau makan. Saya mau ayam, rendang daging sapi, perkedel, sayur sop sama peyek udangnya satu." ucap Sania kepada Ibu-ibu pemilik warung.


Ia sengaja memesan banyak lauk karena ya sangat lapar dan aji mumpung karena harganya sangat murah. Dengan bersemangat ia duduk di salah satu kursi yang tersedia. Menaruh kopernya ke sudut, meraih gelas dan menuangkan air lalu meneguknya dengan rakus.


"Ya Tuhan haus sekali," ia sekali lagi menyangka air putih ke dalam gelasnya lalu kembali menandaskan minumannya seraya menunggu pesanannya datang. Membayangkan makan enak dengan berbagai lauk kesukaannya, membuat ia tidak sabar untuk menikmatinya.


Tak lama menunggu, Ibu-ibu bertubuh gempal datang bersama pesanannya.


Dengan tak sabar, Sania melahap semua yang di hadapannya.


"Thank you sepuluh ribu. Berkat kamu aku bisa makan enak hari ini." sekali lagi, mencium uang sepuluh ribu yang ia genggam.