Suami Sementara

Suami Sementara
Pelakor


Masih di ruang kerja Pak Handoko.


"Pa, apa yang terjadi sih?" sang istri masih kebingungan dengan apa yang terjadi.


"Sayang, kita harus secepatnya memecat sekretaris tidak tahu diri ini." pria itu menatap istrinya dengan tatapan memohon.


"Wanita ini ...."


"Saya hamil!" Sania menyela ucapan bosnya. Pria itu memejamkan mata, menggeram dengan kesal. Sementara sang istri bos mengangkat sebelah alisnya.


"Lalu? apa hubungannya dengan suami saya?"


"Karena yang saya kandung adalah anak suami Ibu."


"Apa? jangan sembarangan kamu!" teriak perempuan itu dengan marah. Ia mendelik tak percaya.


"Saya berkata yang sebenarnya."


"Sayang, tolong jangan dengarkan perempuan gila ini. Dia berkata seperti itu karena tidak terima aku memecatnya." elak Pak Handoko dengan suara lembut yang menyimpan emosi serta ketakutan yang serasa akan meledak. Diam-diam ekor matanya terarah pada Sania. Wanita itu menatap istrinya dengan yakin. Tak ada keraguan serta ketakutan yang terpancar dari wajahnya.


"Anda harus mengakui semuanya, Pak. Bukankah kita sudah sering melakukannya berkali-kali?" ucap Sania dengan segaris senyuman penuh percaya diri.


"A-apa?" wanita itu menatap sang suami beserta sekretarisnya dengan marah.


"Sayang, jangan dengarkan. Wanita ini sudah gila!" kata Pak Handoko panik.


"Gila? berarti selama ini kamu mendapatkan kepuasan dari orang gila?" mengangkat alis, tersenyum mengejek menatap pria di hadapannya.


"Apa yang kamu katakan! jangan mengatakan omong kosong!" teriak bosnya dengan marah.


"Ohya? omong kosong?" Sania melipat kedua tangannya. Menikmati wajah sang bos yang terlihat sangat ketakutan dan panik.


"Lalu, bagaimana dengan. Umm ... pelayanan sang istri yang tidak memuaskan dan sangat membosankan?"


"Apa maksudmu?"


"Suami Ibu bilang, permainan Ibu tidak memuaskan. Bahkan cenderung membosankan." Sania tersenyum sinis.


"Dasar perempuan gila! keluar dari sini!" pria itu kini mendekati Sania yang masih berdiri dengan tenang. Menatap Pak Handoko dengan tatapan mengejek.


Jika aku hancur, maka kau juga harus hancur! mari hancur bersama-sama. bisiknya dalam hati.


"Tunggu, " cegah sang istri seraya ikut mendekat. Membuat senyuman Sania semakin lebar.


"Apa yang kamu inginkan? apa yang sebenarnya kamu mau sehingga memfitnah suami saya seperti ini? kamu butuh uang? Suami saya tidak mungkin berselingkuh. Apalagi dengan sekretarisnya sendiri."


Sania menatap wanita yang berdiri di depannya dengan mulut yang terbuka. Betapa bodoh dan naifnya wanita yang berdiri di hadapannya saat ini.


"Apa aku harus mengatakan posisi yang sangat kamu sukai? haruskah aku ceritakan bagaimana wajah Bapak saat mengerang nikmat ketika di bawahku?" Sania menatap Handoko dengan seringai licik. Pria itu melotot, tak percaya jika Sania akan senekat itu.


"Stop! jangan katakan apapun! dasar pelakor!" teriak wanita itu dengan marah.


"Oh ya? saya hanya ingin mendapatan uang, dan suami anda ingin mendapatkan kehangatan serta kepuasan. Apakah saya salah? saya hanya menjalankan tugas."


Sania mengangguk dengan santai.


"Keluar kamu! dasar wanita tidak tahu diri!" maki Handoko dengan kesal. Amarah dan ketakutan semakin menggulung, menyebar ke seluruh tubuh sehingga membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih.


"Kita sama-sama tidak tahu diri, Handoko yang terhormat," sinis Sania dengan tatapan tajam.


"Tapi jangan lupa, janin yang ada di dalam perutku ini adalah darah daging Anda. Jadi bagaimana pun anda mengelak, dia tetaplah anakmu! jangan pernah lupakan itu!"


Wajah Handoko terlihat pucat dan sangat gusar.


"Sayang, kamu percaya kan padaku?" kembali membujuk sang istri. Berharap jika sang istri tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Sania. Tapi istrinya hanya diam mematung dengan pikiran kacau. Ia tidak bisa merespon dengan baik apa yang di katakan suaminya. Jiwanya terguncang, jiwanya bagai melayang dan tak berada di tempatnya. Mengumpulkan keping demi keping perasaan yang hancur berantakan.


"Bapak harus bertanggung jawab! Nikahi saya!" tuntut Sania. Tak pelak kata-kata wanita itu membuat sepasang suami istri itu membelalak.


"Dasar perempuan gila!"


Plak ....


Terdengar suara tamparan keras di ruangan itu. Sania memegangi pipinya yang terasa panas. Melihat siapa yang telah menamparnya. Istri Handoko berdiri di hadapannya dengan tubuh yang gemetar.


"Dasar pelakor! jangan coba-coba menghancurkan keluarga saya! Pergi kamu dari sini dan jangan kembali lagi!" usirnya seraya mendorong tubuh Sania keluar ruangan. Sementara Handoko hanya terdiam di tempatnya, melihat aksi sang istri yang tak pernah di perkirakan sebelumnya.


"Saya hanya ingin meminta pertanggungjawaban!" teriak Sania tak terima.


"Kamu salah tempat! pergi dari sini! Wanita murahan! dasar pelakor!" wanita itu mendorong tubuh Sania dengan kuat. Sehingga Sania jatuh terjerembab ke luar ruangan. Para pekerja yang sedari tadi mendengar keributan dari luar, sama-sama terkejut. Mendapati tubuh Sania yang tiba-tiba terlempar keluar.


Sania meringis kesakitan. Memegangi bawah perutnya yang terasa sakit. Ia mencoba duduk, seraya menatap suami istri yang berdiri di ambang pintu sedang menatapnya.


"Dasar tidak punya perasaan! aku bersumpah akan membalas kalian semua!" teriak Sania di sela kesakitan yang di rasakannya.


Ada cairan hangat yang keluar dari sela kakinya. Ia lantas menoleh ke bawah, terlihat darah yang mengalir di sana.


"A- apa ini?" lirihnya dengan mata yang melebar. Sementara semua yang ada di sana ikut melotot dan terkejut dengan darah yang mengalir di kaki Sania dengan deras. Bahkan banyak para pekerja perempuan yang menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Sania, ada darah!" pekik salah satu pekerja itu seraya menunjuk kaki Sania yang terjulur.


Sepasang suami istri yang masih setia berdiri di hadapannya menegang ketakutan.


❤️❤️❤️


Maaf ya, jarang up. karena selain nulis di sini, author juga nulis di berbagai platform. Jadi harap maklum. Terimakasih buat kalian yg setia nungguin kelanjutan cerita ini.


saranghae ❤️


Sambil nungguin Amora up, boleh baca novel/cerpen author di sini ya. Hehe


Yang penasaran Ama novel di platform lain, boleh kunjungi di aplikasi warna Pink ya.


makasih