
"Dasar psikopat gila!" umpat Reyhan seraya memutar bola matanya terang-terangan.
"Mending pulang sana! kasihan Ibu kamu nyariin! Ibumu mau masak, butuh pisau untuk mengupas bawang." ejek Reyhan seraya mengulum senyum. Wajah Farhan semakin memerah, membuatnya semakin terbakar emosi. Ia mengarahkan pisau itu ke tubuh Reyhan.
"MATI KAMU!"
Reyhan menatap remeh pada Farhan yang benar-benar tersulut emosi. Ia tidak menghindar ketika pisau itu menusuk bahunya dengan cepat.
"Akh ...." ia meringis pelan ketika Farhan menarik ujung belati yang tertancap. Darah segar mengalir keluar, membasahi kemeja putih yang pria itu kenakan. Ia menatap tak percaya pada Farhan yang benar-benar menusuknya. Ia pikir sepupunya ini hanya sekedar mengancam dan tidak akan benar-benar berani melakukannya. Tapi ternyata ia salah, bahkan pria itu tengah tertawa terbahak-bahak tanpa rasa bersalah.
"Kau?"
Reyhan menatap pria yang berdiri di hadapannya itu dengan bingung. Netranya melirik ke samping, melihat bahu kanannya yang terluka lalu menyentuh luka yang masih mengeluarkan darah segar yang tak mau berhenti. Ia menekan luka tusukan itu dengan tangan kiri. Ia berdesis nyeri kala luka itu terasa sakit. Ia tak menyangka sepupunya bisa senekat ini.
"Apakah itu terasa nikmat?" tanya Farhan seraya mengulum senyum yang sedari tadi tidak mau pergi dari wajahnya. Ia merasa puas ketika melihat wajah Reyhan yang meringis kesakitan.
Pria yang ada di hadapannya memegangi lukanya yang masih meneteskan darah ke lantai putih.
"Kau benar-benar tidak waras!" desis Reyhan.
"Ayolah, itu baru sedikit. Nanti aku akan memberikan kamu kejutan lainnya yang lebih menyenangkan."
Reyhan mengamati tingkah laku Farhan yang sangat berbeda dan ia baru menyadarinya sekarang. Sepupunya ini bukanlah Farhan yang kemarin, semuanya telah berbeda. Ia bukan pria yang Reyhan kenal selama ini.
"Katakan padaku! Kau mau bagian mana lagi yang akan aku tusuk?" pria itu berkata seraya tersenyum miring. Tatapan matanya sangat tajam mengamati mangsa yang ada di hadapannya. Mengunci sasaran dan tak ingin lengah agar tak kehilangan sang buruan.
"Apa mau mu?" tanya Reyhan seraya menatap Farhan tanpa takut. Tangan kirinya masih berada di bahunya yang terluka. Farhan terkekeh, kemudian berjalan beberapa langkah mendekati Reyhan kembali. Reyhan menatap sepupunya dengan waspada, ia tidak ingin sampai kecolongan lagi.
"Aku ingin membunuhmu." bisik Farhan di telinga kiri Reyhan.
"Apa kau sudah benar gila? aku ini sepupu kamu! Lagi pula apa kamu mau masuk penjara? Jangan bertingkah konyol, Farhan. Kita bisa membicarakan semuanya baik-baik. Kita sama-sama sudah dewasa, jangan seperti anak kecil!" kata Reyhan. Senyum yang semula terus berada di wajah Farhan menghilang. Berganti dengan emosi yang kini meluap, menyebar ke seluruh tubuh hingga membuat keinginan membunuh dari pria itu semakin kuat.
"Kau bilang apa? seperti anak kecil?" Reyhan hanya diam, tak mau menyahuti perkataan Farhan yang nantinya akan memancing kemarahan pria ini. Ia memikirkan cara agar bisa terlepas dari sepupunya yang telah keluar dari jalur.
"Kau itu yang anak kecil! suka sekali merebut milik orang lain!"
Reyhan tak segan mengernyitkan dahi, bahkan kini ia tersenyum miring mendengar ucapan pria itu.
"Kau bilang aku merebut?"
"Iya, kau merebut milikku! Amora itu milikku!" geram Farhan dengan emosi yang semakin menjadi.
"Bukankah kau yang meminta tolong padaku agar menikah dengannya? Bukankah kau yang mendatangiku waktu itu? apa kau amnesia sepupuku?"
"Tapi aku menyuruhmu menikahinya agar aku bisa kembali padanya setelah tiga bulan! Kau hanya suami sementara, Rey!"
"Ah aku lupa mengatakan, bahwa pada saat itu aku berjanji pada diriku sendiri akan membahagiakan Amora. Aku sungguh-sungguh menikahinya dan tidak sekedar main-main. Aku mencintainya, jadi sudah sewajarnya aku membuat wanita yang ku cintai bahagia. Bukan malah membuatnya menderita." sindir Reyhan tepat sasaran. Farhan mengepalkan tangannya, wajahnya kini memerah. Urat-urat menonjol di wajahnya, dengan gigi yang gemeletukan.
"Ternyata kau memang bosan hidup, Rey." ia tersenyum mematikan. Tanpa aba-aba ia kembali menyerang Reyhan.
"Aku akan benar-benar membunuhmu kali ini! aku tidak akan melepaskan mu!"
"Aku akan membunuhmu, sepupu!"