
Happy reading zheyeng 😘
_______________________
Amora mengenakan piyama berlengan panjang berwarna navy polos tanpa motif. Ia berjalan keluar kamar, mencari keberadaan Reyhan yang tak tampak sejak tadi. Insiden yang terjadi di kamar mandi masih teringat jelas di ingatannya. Ia menutup wajahnya kala kejadian itu tak sengaja melintas kembali di benaknya.
"Ah aku sangat malu. Jangan-jangan Reyhan sudah melihat semua bagian tubuhku."
"Rupanya pria itu tak sepolos dugaanku. Dia pasti sengaja masuk ke kamar mandi karena ingin mengintip. Awas saja! aku akan memberikan pelajaran kepada pria mesum itu." ujarnya seraya menggertakkan gigi. Tangannya terkepal dengan kesal. Ingin sekali rasanya ia memberikan hadiah bogem mentah pada Reyhan.
Ia celingukan mencari keberadaan pria itu. Ia berjalan ke ruang tamu, tapi tidak ada di sana.
Ia berinisiatif mencari ke kamar, ia membuka pintu yang tak terkunci. Tangan kanannya mendorong pintu itu perlahan dengan kepala yang menyembul. Matanya liar mencari keberadaan pria itu, tapi tetap saja ia tak menemukan Reyhan. Tak terdengar suara gemercik air dari kamar mandi, menandakan Reyhan juga pasti tidak ada di sana. Amora kembali menutup pintu kamar Reyhan, dan berniat pergi mencari ke dapur. Tapi baru saja ia memutar tubuh, Amora di buat kaget kala kepalanya menabrak sesuatu yang keras.
"Aduh!" Amora memegangi keningnya. Ia meraba benda keras yang ia tabrak.
"Duh, semenjak kapan dindingnya pindah kesini? kok kerasnya beda?" Amora meraba-raba tubuh Reyhan yang ia kira dinding. Sedangkan Reyhan mati-matian menahan tawa serta geli ketika tangan halus Amora menelusuri bagian dadanya.
Amora mendongak ke atas. Matanya melebar sempurna kala mendapati wajah Reyhan yang tersenyum mengejek menatapnya. Sedangkan kedua tangannya masih betah berlama-lama berada di dada kekar milik pria itu.
"Re-Reyhan !" Setelah beberapa detik kemudian Amora baru tersadar, ia menjauhkan tubuhnya dan menarik tangan yang tak sengaja menjelajahi dada bidang pria itu.
"Kenapa? ayo lanjutkan!" ujar Reyhan sehingga menimbulkan semburat merah di pipi putih milik Amora.
"Apanya? aku tidak sengaja melakukannya!" sahut Amora seraya mendelik. Ia menutupi rasa malunya dengan pura-pura marah.
"Tidak sengaja? tapi kamu terlihat menikmati sekali." senyum penuh ejekan tercetak jelas di wajah pria itu. Ia melipat kedua tangannya ke depan dada.
"Mana ada! lagipula kenapa kamu tiba-tiba berdiri di situ?" kesal Amora dengan pipi yang mengembung serta bibir yang mengerucut.
"Aku?" Reyhan menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan ucapan Amora. Wanita itu mengangguk dengan wajah cemberut. Hal itu terlihat sangat menggemaskan di mata Reyhan.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau mengintip kamar perjaka? tidak sopan!" ucap Reyhan dengan berkacak pinggang. Ia pura-pura marah pada Amora.
"Apa? perjaka? aku tidak salah dengar?" Amora menahan tawa.
"Apa? aku masih perjaka asal kau tahu."
"Apa kau yakin?"
Reyhan mengangguk mantap.
"Masak sih, pria mapan yang usianya sudah tiga puluh tahun masih perjaka?" ucap Amora ragu.
"Kau tidak percaya?" Reyhan mendelik. Ia cukup kesal karena di ragukan keperjakaannya. Karena memang selama ini ia tidak pernah menyentuh wanita manapun. Ia sangat menjaga dirinya untuk istrinya.
Amora mengangguk. " Ya, aku sangat tidak percaya!"
"Ayo kita buktikan!" Reyhan menarik lengan Amora. Tangan sebelah kanan membuka pintu kamarnya. Sontak saja hal itu membuat Amora terkejut. Ia memberontak minta di lepaskan, tangannya tak berhenti memukul lengan Reyhan yang menariknya secara paksa.
"Bukankah kau tidak percaya? Ayo kita buktikan biar kau percaya aku masih suci!"
Perkataan Reyhan sontak saja membuat Amora tertawa. Ia geli mendengar kata-kata Reyhan. Ia seperti anak perawan yang membela diri ketika di vonis sudah tidak perawan.
"Kenapa kau tertawa?" Reyhan mengernyitkan dahi seraya menatap aneh pada Amora.
"Tidak. Kau sangat lucu! Kau seperti anak perawan yang akan membuktikan kesucianmu." Amora tak berhenti tertawa membuat Reyhan semakin ingin menjahili wanita ini.
"Sini kamu! Ayo kita buktikan!" Reyhan menarik kembali lengan Amora yang masih ada dalam genggamannya. Amora menghentikan tawanya, dengan cepat ia mengigit lengan Reyhan sehingga pria itu menjerit kesakitan.
"Aw .... Sakit!" Reyhan melepaskan genggamannya. Ia meringis kesakitan sementara Amora sudah berlari tunggang langgang menuju kamarnya. Reyhan melihat bekas gigi yang tercetak sempurna di lengannya. Cukup sakit menurutnya.
"Dasar perempuan aneh!" umpatnya kesal. Ia meniup bekas gigitan Amora untuk menghilangkan rasa sakit yang di tinggalkan wanita itu. Terlihat sedikit membiru dengan agak kemerahan di sekelilingnya.
"Awas saja kamu!" ucap Reyhan. Ia menuju dapur karena perutnya sangat lapar. Ia mencari makanan tapi tidak menemukan apapun. Lalu mencari sayuran di dalam kulkas. Pria itu mengeluarkan udang, cabai, bawang dan beberapa buah wortel lalu mencuci semua bahan serta memotongnya. Menjadikan sebuah makanan yang akan menenangkan penduduk di kampung tengah agar tidak terus-menerus berteriak minta isi.
Sementara itu, Amora yang juga lapar memegangi perutnya. Ia membuka pintu kamar, lalu mengintip sebentar. Aroma masakan dari dapur menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya membuat penghuni perutnya semakin berontak.
"Aduh, Reyhan masak apa sih. Kenapa baunya sangat menggoda." keluhnya. Ia bimbang, harus keluar atau menahan rasa lapar hingga pagi. Ia hanya makan sedikit ketika bersama Evan tadi. Ia yang suka sekali makan pasti tidak akan kenyang dengan nasi Padang yang porsinya sedikit dan harus berbagi dengan Evan. Amora kembali mengelus perutnya dengan wajah sendu.
"Sabar ya, tunggu besok saja." Amora berjalan dengan lemas ke atas tempat tidur. Ia berbaring dengan terlentang menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.
Perutnya kembali berbunyi, membuatnya mengerang frustasi.
"Ah aku lapar." ia mengacak rambutnya yang panjang lalu duduk bersila.
"Ah terserahlah. Yang penting aku tidak kelaparan." ucapnya setelah berdiam diri selama beberapa menit. Kakinya turun dari ranjang, menginjak lantai yang dingin. Lalu berjalan perlahan menuju dapur dengan menebalkan muka dan takut-takut. Jujur ia takut jika Reyhan kembali menyuruhnya untuk membuktikan keperjakaan pria itu.
"Ah memangnya perjaka bisa di buktiin? Emang gimana caranya? kan pria tidak sama dengan wanita. Bagaimana cara membedakannya?" ia bingung sendiri dengan isi kepala yang berperang. Memikirkan cara untuk membuktikan keperjakaan seorang pria. Hingga tak sadar ia sampai di dapur. Reyhan terlihat sedang bertarung dengan spatula dan wajan. Pria itu terlihat sangat keren dari belakang. Mengenakan celemek milik Amora berwarna pink, pria itu tampak serius dan lucu bersamaan. Amora tersenyum,
"Mengapa dia sangat sempurna? mapan, tampan, punya dada bidang dan tubuh kekar. Pintar memasak dan sangat perhatian. Ah, kenapa dia memiliki semua tipe pria idaman?" gumamnya tanpa sadar. Tapi beberapa detik kemudian ia tersadar dengan ucapannya. Ia memukul perlahan bibirnya, menarik kembali ucapannya.
"Apa yang kau pikirkan, Amora? bisa-bisanya kau memikirkan hal seperti itu!"
"Apa yang kau pikirkan?" tiba-tiba Reyhan sudah berada di depannya dengan spatula di tangannya, hal itu sontak saja membuat Amora mundur ke belakang seraya memegangi dadanya berdebar. Jantungnya yang seakan ingin meloncat keluar.
❤️❤️❤️
Halo zheyeng 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak yaak
like dan komentarnya author tunggu😘
Karena dukungan kalian semua adalah moodbooster bagi author sengklek ini😂😂
Jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia ❤️