Suami Sementara

Suami Sementara
Ungkapan hati Sania


"Biar saya yang bayar." ucapnya yang sontak saja membuat Sania melotot tak percaya terlebih lagi ia mulai mengenali siapa pria yang kini menjadi sosok pahlawan kesiangan yang membantunya.


"Kamu?" Sania menunjuk pria yang tidak asing lagi untuknya itu.


"Lah, kamu Sania kan?" pria itu sama terkejutnya. Mendapati keadaan Sania yang seperti ini jujur saja membuatnya sok dan tidak percaya.


"Jangan di bayarin mas, nanti kebiasaan. Keenakan orang begini mah kalau di baikin." sahut sang empunya warung seraya memandang Sania sinis.


"Tidak apa-apa, Bu. Biar saya yang bayar, lagipula dia teman saya."


"Kamu yakin mau membayar makanan saya?" tanya Sania ragu. Pria itu tidak menyahut, ia mengangsurkan selembar uang lima puluh ribu ke pada Ibu warung.


"Terimakasih, Mas. Untung ada masnya yang mau bayar, kalau tidak saya pasti sudah rugi. Kalau pun di suruh kerja sehari buat ganti makanannya pun saya pasti bakal lebih rugi karena tipe perempuan begitu mah mana pernah masuk dapur. Yang ada barang-barang saya abis pada pecah."


"Siapa juga yang mau kerja di sini." kata Sania seraya memutar bola matanya jengah.


"Itu kalau tidak ada mas ini yang bayar. Untung kan masnya mau bayar! Dasar sok kaya taunya nelangsa!"


"Jaga mulut Ibu, ya! Saya memang kaya! Jangan seenaknya saja mengatai saya!" teriak Sania marah. Tersulut emosinya karena di katakan sok kaya oleh Ibu warung itu. Ibu itu pun semakin emosi dan maju selangkah mendekati Sania, tapi dengan cepat pria muda itu melerai dan menghalangi aksi Ibu warung yang bisa saja akan menjambak rambut Sania karena kesal.


"Sudah Sania. Ayo kita pergi dari sini!" ajak pria itu tapi Sania bergeming. Ia menatap sengit pada Ibu warung yang bertubuh tambun itu.


"Ayo!" pria itu menarik lengan Sania. Wanita itu ikut keluar dari warung tanpa memutuskan pandangannya dari si Ibu-ibu yang juga menatapnya penuh kesal.


Sesampainya di bawah pohon yang tak jauh dari warung tadi, Sania menghempaskan tangan pria yang menariknya.


"Lepasin!" Pria itu menghentikan langkahnya, berbalik menatap Sania yang kini sedang berkacak pinggang. Cekalan tangannya pada wanita itu sudah terlepas dan ia menatap pada tangannya yang kosong.


"Kenapa kamu membantuku? Kenapa kamu membayar makananku?" tanya Sania sambil melotot.


"Memangnya kenapa?"


"Saya bisa mengatasi semuanya sendiri! Saya tidak membutuhkan pertolongan kamu!" kata Sania angkuh.


"Kalau kamu bisa mengatasi semuanya sendiri, kenapa kamu tidak membayar semuanya sendiri? Mengapa Ibu itu marah-marah?" pria itu mengangkat sudut bibirnya ke atas.


"Dasar tidak tahu terimakasih." sindirnya.


"Apa kamu bilang?"


"Lupakan saja. Aku lupa wanita sepertimu memang tidak punya rasa terimakasih dan seharusnya memang tidak perlu di kasihani. Bodohnya aku malah menolong kamu."


"Aku tidak mau di tolong oleh temannya Amora!"


Pria itu mengernyitkan keningnya sangat dalam.


"Apa hubungannya? Dasar aneh!" katanya seraya menggelengkan kepala.


"Aku tidak suka saja dengan semua hal yang berhubungan dengan Amora. Dan kau tahu itu, Evan!"


"Terserah kau saja." Evan duduk di bangku yang ada di bawah pohon. Mengeluarkan sebatang rokok dari dalam tas kecil yang di bawanya. Pria itu menyulutnya menggunakan korek api, menghisap rokok itu pelan lalu menghembuskan asapnya ke udara.


"Kau tahu kan aku hamil? Apa kau mau aku dan anakku menghirup asap rokok?" protes Sania kesal. Evan yang mendengarnya hanya bisa menghela napas. Lalu tanpa banyak bicara ia segera mematikan api rokok itu dan membuangnya sembarangan.


Sania yang melihat itu pun menyusul duduk di sebelah Evan. Meletakkan kopernya di bawah bangku panjang.


"Mengapa kamu sangat membencinya?"


Sania melirik Evan dengan bingung.


"Maksudnya?"


"Stop! Jangan katakan apapun lagi tentangnya!" potong Sania dengan emosi yang semakin meluap. Evan hanya diam menatap jalanan yang lenggang. Hanya satu atau dua motor yang lewat di gang ini. Jalan yang menuju kontrakannya. Tadinya ia memang ingin makan di warung sebelah, tapi karena ia mendengar keributan yang terjadi membuatnya terpanggil dan membantu. Dan tak di sangka wanita itu adalah Sania. Musuh besar wanita yang di cintainya yaitu Amora.


"Aku sangat membencinya." Sania membuka percakapan setelah lama hening yang tercipta. Ia menjeda ucapannya, menerawang jauh menatap langit yang berwana biru di penuhi awan putih yang berarak beriringan. Sesekali ia menghela napas berat. Mengumpulkan sisa kata yang membuat dadanya sesak lantaran mengingat Amora. Entahlah, ia sendiri tidak tahu mengapa ia sangat membenci wanita itu. Yang ada di hatinya hanya kebencian dan amarah yang menguasai. Sementara Evan hanya diam, menutup mulutnya rapat-rapat guna memberikan waktu pada Sania yang kini ingin mengeluarkan isi hatinya.


"Aku membencinya karena dia sangat baik. Amora sangat naif. Aku benci dia yang di cintai banyak orang. Dari kecil ia selalu mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Setelah besar dia juga sangat di cintai Farhan. Padahal akulah yang pertama kali mencintainya." Evan menoleh. Menatap Sania tanpa kata, menunggu dengan sabar apa yang akan Sania katakan selanjutnya.


"Aku dan Farhan diam-diam menjalin hubungan di belakang Amora. Tak mengapa, pikirku. Setidaknya aku masih bisa bersama meski hanya menjadi selingkuhannya. Ia berjanji akan menikahiku, tapi ia malah menikahi Amora. Padahal aku sudah menyerahkan semua yang aku punya kepadanya waktu itu. Tapi pria itu malah mencampakkan aku begitu saja."


Ia kembali menarik napas berat, dadanya terasa sangat sesak karena mengingat hal bodoh yang ia lakukan.


"Hingga ketika ia memintaku menjadi istrinya walaupun hanya sementara, aku sangat bahagia. Tidak mengapa karena aku yakin dia akan melupakan Amora dan hanya mencintaiku dan aku akan mengendalikannya. Tapi lagi-lagi aku salah. Semua tidak seperti apa yang ku bayangkan. Lagi-lagi aku harus kalah dengan Amora. Bagaimana kerasnya aku berusaha, pada ujungnya


Farhan akan tetap memilih Amora."


Evan hanya mengangguk, sementara Sania menunduk. Memainkan kakinya yang terjuntai dengan kedua tangan yang bertumpu pada bangku yang sedang ia duduki.


"Lalu, mengapa kamu terdampar di sini? Sampai tidak punya uang untuk membayar makanan. Sudah seperti menantu yang di usir mertua saja."


"Memang begitulah adanya." sahut Sania seraya tersenyum getir. Jawaban Sania membuat Evan menoleh dengan cepat.


"Maksudnya?"


"Aku memang di usir Ibunya Farhan." ucap Sania santai.


"Astaga! Aku benar-benar tidak tahu, maaf. Aku hanya bercanda tadi."


Sania hanya diam tak menanggapi.


"Lalu, apa wajahmu yang lebam itu ulah Farhan?"


Sania hanya mengangguk.


"Astaga. Farhan memang bukan manusia. Jelas-jelas dia itu monster."


"Dia bukan monster."


"Dasar bucin! Sudah di perlakukan begitu buruk masih saja membelanya." cibir Evan seraya menggelengkan kepalanya.


"Entahlah. Bagaimana pun buruknya perlakuan Farhan padaku, aku tidak bisa membencinya. Bahkan aku sangat mencintainya meski dari dulu ia memang memperlakukan aku dengan buruk. Bahkan ketika ia marah pada hal kecil ataupun pada Amora, ia akan melampiaskan semuanya padaku." ia tersenyum miris.


"Lalu, dimana pria itu sekarang? Apa dia membiarkanmu di usir begitu saja?"


Sania menggeleng pelan.


"Entahlah, aku tidak tahu ia dimana."


Evan mengernyitkan dahinya bingung. Sania yang mengerti pun menjelaskan semuanya tanpa di minta.


"Dia menjadi buronan karena berusaha membunuh Reyhan." kata Sania sehingga membuat Evan tercengang.


"Apa? membunuh Reyhan?"


Sania mengangguk.


"Benar-benar sudah gila si Farhan. Memangnya kenapa?"


Sania hanya mengangkat bahu karena ia tidak tahu jelas bagaimana kronologi kejadian yang sebenernya. Keadaan kembali hening, hanya terdengar deru mesin motor dan mobil yang lewat sesekali. Kedua anak manusia yang berbeda genre itu hanya menatap kosong ke depan dengan pikiran masing-masing.