
Happy reading zheyeng ππ
____________________________
Reyhan duduk di kursi taman yang tak jauh dari apartemen. Membawa hatinya yang hancur. Ia menatap langit gelap yang tak berbintang dan tanpa bulan. Gelap gulita seperti perasaannya saat ini. Mendung dan hampir turun hujan dengan membawa sejuta kilat yang terkadang terlihat membelah langit.
Ia menghirup udara yang berhembus menerpa wajahnya, terasa dingin menusuk tulang. Ia hanya mengenakan kemeja putih yang sama sejak tadi siang. Tanpa jas ataupun jaket yang bisa menghalau sedikit rasa dingin yang menelusup masuk menusuk kulit. Kedua tangannya bertumpu di kursi panjang menopang tubuh yang duduk tegak dengan wajah menengadah ke langit. Memejamkan mata menikmati semilir angin yang berhembus semakin kencang. Tampaknya benar-benar akan turun hujan malam ini.
Ia membuka mata dan menurunkan wajah ketika terdengar tawa sepasang muda-mudi yang duduk di kursi taman tak jauh darinya. Saling bersenda gurau dengan tawa ceria tanpa beban. Melihat hal itu membuatnya merasa dejavu. Malam itu ia dan Amora duduk di sini, di kursi taman yang sama. Duduk bersebelahan seraya memandang langit yang sama. Sepasang muda-mudi duduk tak jauh dari mereka, menikmati masa muda dengan canda tawa dan penuh cinta.
Kini, ia hanya sendiri. Semua sama seperti malam yang pernah mereka lalui waktu itu, ketika dengan sabar Reyhan mendengar keluh kesah dari wanita yang teramat sangat ia cintai itu. Menjadi pendengar yang baik dan sandaran ternyaman bagi wanita yang bertahun-tahun mengisi hatinya. Semua itu terlihat sama, tapi bedanya ia hanya sendirian di sini. Ia duduk sendiri tanpa Amora, hanya di temani gerimis yang perlahan mulai turun.
Reyhan tersenyum miris, mengabaikan air hujan yang semakin turun dengan deras. Beberapa muda-mudi yang awalnya bersenda gurau itu berlarian mencari tempat berlindung, sementara Reyhan tak bergerak. Ia tetap diam di tempatnya, wajahnya kini menghadap ke atas. Menantang hujan yang mengguyur tubuhnya. Kemeja putih itu basah, rambut yang biasanya tertata rapi kini terlihat lepek dan basah. Reyhan menikmati tetes demi tetes air yang turun dari langit, matanya tertutup dengan senyum pahit yang terbingkai di wajahnya. Bias lampu berwarna-warni menjadi background. Ia hanya sendiri di sana, berteman sepi dengan backsound suara hujan yang mengguyur kota Jakarta dengan deras malam ini.
"Apa aku harus kembali merelakan kamu bersama Farhan? Apa aku harus kembali menyimpan serta membuang jauh-jauh perasaan ini? Aku mencintaimu, Amora. Tapi aku sadar bahwa cinta tak harus memiliki. Jika Farhan memang sumber bahagia untukmu, maka aku akan berusaha ikhlas. Aku tak akan memaksakan perasaanku padamu, aku akan mengubur dalam-dalam perasaan yang telah lama tumbuh hanya untukmu." bulir bening itu jatuh tersamarkan oleh air hujan. Reyhan menatap langit gelap dengan pilu. Hatinya sangat sakit mendapati kenyataan bahwa cintanya kembali bertepuk sebelah tangan. Melihat kedua orang yang berlainan jenis itu berpelukan, dua orang yang pernah hidup bersama dan saling mencintai itu berkata rindu. Ah, tak ada yang lebih pahit dari rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
π€π€π€
Amora berkali-kali menghubungi Reyhan, tapi tak di jawab oleh pria itu. Ia khawatir karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi pria itu tak kunjung pulang ataupun memberikan kabar.
"Kamu kemana sih, Rey? Kenapa tidak ada kabar?"
Ia melihat kilat yang seakan membelah langit, membuatnya takut. Amora berjalan cepat menutup tirai jendela yang tersingkap.
"Hujan semakin deras, tapi Reyhan belum pulang juga. Kamu kemana, Rey?" Amora sangat khawatir karena tidak biasanya Reyhan seperti ini. Pria itu akan menghubunginya jika pulang terlambat.
Tadi ia menghubungi kantor Reyhan, tapi satpam di sana mengatakan Reyhan sudah pulang sejak tadi sore. Hal itu semakin membuat wanita berambut panjang itu khawatir. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu dengan Reyhan. Amora berjalan mondar-mandir di ruang tamu, berharap bisa menghilangkan kekhawatirannya. Setelah kakinya mulai lelah, ia berbaring di sofa panjang yang ada di sana sambil terus melihat layar ponsel berharap muncul notifikasi dari pria yang sedari di tunggu dan lama-kelamaan tanpa sadar ia tertidur di sana.
Sementara itu Reyhan pulang dengan tubuh yang basah. Ia berjalan dengan langkah gontai menuju apartemen Amora. Tangannya terulur untuk membuka pintu yang ada di hadapannya, tapi urung ia lakukan. Tangannya kembali turun, netra pria itu menatap sendu pintu yang ada di hadapannya. Tanpa banyak bicara ia membalikkan tubuhnya menuju lift dan menekan lantai tiga. Ia tidak ingin bertemu Amora dengan keadaan seperti ini. Ia berniat pulang ke apartemennya malam ini.
"Reyhan ...!" Amora terbangun ketika terdengar suara Guntur yang sangat keras. Ia duduk dengan napas yang memburu. Pikirannya tertuju pada Reyhan, melihat jam dinding yang menunjuk pada angka dua. Wanita itu meraih ponsel yang berada di atas meja kaca kecil, mencoba menghubungi kembali nomor Reyhan.
Suara operator terdengar di telinga Amora, dan berkali-kali hanya itu yang ia dengar sedari tadi sehingga membuat Amora frustasi.
Amora menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, menghirup udara dengan rakus. Dadanya terasa sesak, butuh pasokan udara lebih banyak.
"Kamu kemana, Rey? kenapa kamu tidak menghubungiku?" tanpa terasa cairan hangat itu turun. Entah mengapa Amora merasa sedih dan khawatir sedemikian rupa karena tidak mendapatkan kabar dari pria itu.
"Sebenarnya aku kenapa? Apa aku?"
"Ah, tidak! aku hanya menghawatirkan pria itu. Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengannya. Karena jika terjadi sesuatu dengan Reyhan, apa yang akan aku katakan pada Mama Riana?" sangkal Amora.
"Awas saja kamu, Rey. Aku akan marah habis-habisan nanti jika kita bertemu. Beraninya kamu membuat aku khawatir. Aku yakin kamu hanya mengerjai aku. Lihat saja nanti, aku akan memarahimu tanpa ampun!" ujarnya dengan kesal. Ia menghapus bulir bening itu, bukannya berhenti tapi tangisnya semakin menjadi.
"Kamu jahat, Rey! kamu jahat! Kenapa kamu tidak menghubungiku! kenapa kamu membiarkan aku khawatir seperti ini!" katanya di sela isak tangis. Amora tergugu, ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Hujan masih turun dengan deras di luar, kilat menyambar menambah ketakutan wanita itu. Amora berlari masuk ke dalam kamar Reyhan dan segera berbaring di ranjang yang tak terlalu besar itu. Bergelung di bawah selimut berwarna abu-abu yang tebal. Seketika bau tubuh Reyhan menyeruak masuk ke indera penciumannya, membuat perasaan Amora tenang. Perlahan tangisnya mulai reda, hidungnya mengendus bau Reyhan yang tertinggalnya di bantal dan selimut yang ia pakai.
Amora kembali tertidur, merasa nyaman seakan Reyhan ada di sana. Secara tak sadar ia merasa rindu pada pria menyebalkan yang sering mengganggunya itu.
π€π€π€
Hai zheyeng π
Author udah crazy up nih, hayo dukungannya di kencengin biar author makin semangat π€π€
Sehat-sehat ya kalianππ
Jaga kesehatan dan pola makan. Jangan pikirkan apa yang membuat kita sakit. Nikmati semuanya dan jika ada yang hilang dalam hidup kalian,, "Ingat, ini hanya dunia."
Elepyyuuuuuu full zheyeng π