Suami Sementara

Suami Sementara
Farhan milikku


Happy reading zheyeng 😘😘


_____________________


Amora membuka mata, sedetik kemudian ia terkejut melihat bayangan di cermin. Wajah penuh senyum ejekan dan dendam sedang menatapnya. Amora berbalik seraya menetralkan jantungnya yang hampir copot.


“Kenapa kamu kesini?” tanya Amora kesal. Ia kembali menghadap cermin tanpa menghiraukan Sania yang ada di belakangnya.


“Ini tempat umum, terserah aku mau kesini atau tidak!” jawabnya ketus.


Amora memutar bola matanya terang-terangan. Ia bersedekap dan mengangkat sudut bibirnya. Menatap wanita itu dari cermin.


“Lalu?” Alisnya terangkat.


“Lalu apa? Minggir!” Sania mendorong tubuh Amora hingga tersungkur. Kepalanya membentur ujung wastafel.


“Upss ... Sorry. Aku sengaja.” Ucap Sania seraya terkikik, tangan kanannya menutup mulut yang hampir terbahak.


Amora memegang kepalanya, merasakan sedikit nyeri di dahi. Ia merabanya pelan, meringis sebentar lalu mengangkat kepala. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Memejamkan mata sebentar seraya menggertakkan gigi. Kesabarannya sudah habis sekarang. Ia tidak akan membiarkan dirinya selalu di injak-injak oleh wanita tak tahu diri ini.


Ia berjalan mendekati Sania yang masih sibuk tertawa jahat. Melihat Amora yang mendatanginya dengan wajah marah, Sania mundur beberapa langkah ke belakang. Ia panik. Wajah yang semula penuh dengan tawa itu berubah pucat karena takut.


“Mau apa kau?” tanyanya seraya mundur. Ia sudah tak bisa kemana-mana lagi, tubuhnya sudah merapat ke dinding.


“Jangan macam-macam!” teriak Sania ketakutan. Matanya bergerak ke sana kemari berharap ada orang yang lewat dan membantunya dari amukan Amora. Wajah Amora sangat menakutkan saat ini, selama bertahun-tahun berteman dengannya tak pernah sekalipun ia melihat wajah Amora yang menyeramkan seperti ini.


“Kenapa? Kau takut?” ejek Amora dengan senyum miring yang tercetak jelas di wajah cantiknya. Ia berhenti satu langkah di depan Sania yang berdiri gemetar. Darah menetes dari dahi Amora, meski tak banyak tapi itu bisa membuat Sania semakin ketakutan.


“Ti-tidak! Kenapa aku harus takut dengan wanita bodoh sepertimu?”


“Apa? Bodoh? Siapa yang bodoh?”


“Siapa lagi kalo bukan kamu? Berkali-kali di khianati oleh suami sendiri dan masih mau kembali kepadanya. Apalagi kalau bukan bodoh?” Sania mencoba tertawa untuk menutupi ketakutannya.


“Hahahaha ....” Amora tertawa terbahak-bahak hingga beberapa detik seraya memegangi perut membuat Sania heran dan mengerutkan keningnya.


Kenapa dia? Kemasukan setan toilet? Gumamnya dalam hati.


Beberapa detik kemudian tawa Amora mereda, jemari lentik wanita itu mengusap cairan bening yang tak sengaja keluar di sudut mata. Wajah yang semula penuh tawa itu, kini berganti dengan wajah yang menyeramkan seperti beberapa saat lalu. Membuat Sania bergidik ngeri.


Sepertinya Amora sudah tidak waras. Apa dia mulai stres dan jadi gila? Lagi lagi Sania hanya berani berkomentar dalam hati.


“Kau bilang aku bodoh? Apa itu tidak salah Sania, sayang?” Amora bersedekap. Wajahnya menyiratkan kebencian yang teramat sangat. Sania hanya menggeleng, bibirnya terkatup rapat tak mau terbuka. Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia sangat takut melihat Amora dengan versi yang berbeda dan tak pernah ia lihat sebelumnya.


“Kau tahu siapa orang paling bodoh di dunia ini?”


“Kamu!” Amora menunjuk wajah Amora tepat di depan matanya. Sania melihat telunjuk Amora dengan melotot. Ia mengutuki diri yang tak bisa berbuat apa-apa kecuali diam. Ia mengutuki diri yang tak bisa menarik rambut Amora yang tergerai. Padahal ia sangat ingin melakukannya, tapi entah mengapa tubuhnya kaku diam tak bergerak. Seolah semua sendinya lumpuh tak berdaya.


Amora menurunkan jari telunjuknya.


“Wanita yang hanya di jadikan selingkuhan dan penampung air! Yang bisa di buang kapan saja dan nilainya tak lebih dari sampah! Apa yang kamu dapat? Uang? Kebahagiaan? Atau apa?”


“Apa kamu bahagia telah merusak rumah tangga sahabatmu sendiri? Kamu bangga bisa menjadi selingkuhan suami sahabatmu sendiri? Bangga bisa tidur dengan atasan? Kamu bangga? Kamu merasa paling pintar karena sudah melakukan itu semua?” Amora tertawa miris. Napasnya naik turun.


“Kamu tahu? Aku kecewa sama kamu, Sania.” Wanita itu tertunduk. Ada sedikit nyeri di sudut hatinya. Sungguh, ia tidak ingin mengucapkan kata kasar seperti tadi dan ia menyesali ucapan yang telah di lontarkan.


Amora berbalik, melangkah menjauhi Sania yang masih mematung. Ia menuju wastafel untuk mengelap keningnya yang berdarah dengan tisu yang ia ambil dari dalam tas kecilnya. Meninggalkan bekas memar dan kemerahan dan sedikit darah yang di sana. Wanita itu Mencuci muka sekali lagi, dan mengeringkannya.


Amora meraih tasnya lalu meninggalkan wastafel, langkahnya terhenti di depan Sania yang masih setia berdiri. Hanya mata wanita itu yang bergerak memperhatikan Amora.


“Maaf.” Ucap Amora pelan. Ia menatap Sania sebentar, lalu melanjutkan langkahnya hendak meninggalkan toilet. Tapi belum sampai ia keluar, Amora terjungkal ke belakang. Rambutnya di tarik oleh Sania dengan kuat.


“Aww ....” Amora meringis, memegangi rambutnya yang di tarik dengan kuat oleh Sania.


“Dasar wanita ******! Atas dasar apa kau berani menghinaku! Kau yang murahan! Tak tahu diri! Aku membencimu! Sangat membencimu!” teriak Sania dengan amarah yang meluap. Ia tak melepaskan tangannya dari kepala Amora.


“Rasakan ini!” Sania semakin menarik rambut Amora dengan kuat. Membuat Amora kewalahan dan merasakan kulit kepalanya hampir terlepas. Sudut matanya berair, menahan sakit yang teramat sangat.


“Lepaskan, Sania.” Pinta Amora dengan pelan.


“Apa? Lepas? Huh ... Tidak akan!” Sania tertawa. Ia merasa menang telah bisa membalas Amora.


“Kau tahu? Setelah aku menikah dengan Farhan, maka aku tidak akan melepaskan dia! Aku akan memiliki Farhan selamanya! Dan kau, akan menjadi janda yang sangat menyedihkan. Aku akan membuat Farhan membencimu dan tidak akan kembali padamu!” Sania tertawa terbahak. Suaranya menggema memenuhi toilet. Amora hanya bisa memejamkan mata menahan sakit dan berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman tangan Sania.


“Dasar wanita tidak tahu diri! Masih saja berharap kembali pada Farhan! Farhan itu milikku! Hanya milikku!” teriak Sania lagi.


🥀🥀🥀


Hai zheyeng 😘


Gimana? Kesel nggak sama Sania?


Sama, aku juga kesel. Hihihi🤭🤭


Enaknya kita apain ya si Sania??


Koment dong🤭🤭