
Evan sedang memasak mie instan ketika terdengar suara ketukan berulang kali di pintu kontrakan. Ia sengaja mengabaikan karena takut jika mie miliknya akan bengkak jika di tinggalkan. Hingga ia selesai memindahkan mie yang ada di dalam wajan ke mangkuk, bunyi ketukan itu masih terus menggema mengganggu indera pendengarannya.
"Siapa sih, malam-malam begini bertamu!" kesalnya seraya meletakkan semangkuk mie buatannya ke atas meja kecil yang ada di sudut dapur. Ia bergegas menuju pintu dan membukanya. Matanya hampir saja lepas ketika di depannya sudah berdiri seorang wanita dengan perut buncit berdaster seksi yang sedang memanyunkan bibirnya.
"Ke-kenapa kamu kesini malam-malam begini?" tanya Evan gugup. Biar bagaimanapun juga, ia pria normal. Melihat Sania mengenakan daster pas body tanpa lengan membuatnya salah tingkah. Meski sedang berbadan dua, tubuh wanita itu masih terlihat seksi.
"Aku lapar," Sania mencebik seraya mengelus perutnya yang buncit.
"Lalu? Apa urusannya denganku?"
"Apa kamu punya makanan? Aku lapar sekali. Aku belum makan apapun sejak tadi."
"Haish kamu menyusahkan saja! Kamu bersikap seolah-olah aku ini suamimu! Minta makan, minta rumah. Besok-besok minta mobil!" gerutu Evan kesal.
"Apa boleh?" tanya Sania dengan polos. Matanya berbinar menatap pria yang berdiri di hadapannya itu.
"Boleh. Bahkan jika kamu meminta pesawat pun akan aku belikan." geram Evan dengan kesal.
"Wah kamu baik sekali. Kalau begitu, belikan aku rumah yang besar. Tidak-tidak, lebih baik kamu belikan aku makanan di restoran favorit aku. Aku sangat lapar, anakku juga. Lihatlah dia sudah berteriak minta makan sejak tadi."
"Baru kali ini ada yang bilang cabang bayi bisa teriak. Ini aku yang salah dengar atau kamunya yang gila sih."
"Enak aja bilang aku gila. Aku itu waras. Ayo cepat belikan aku makanan di restoran. Aku sangat lapar."
"Ya sudah aku belikan. Tapi kamu jadi tumbalnya, kamu mau?" pria itu mengangkat sebelah alisnya. Sontak saja Sania mengernyitkan dahi karena bingung.
"Kok tumbal sih?" tanya Sania bingung.
"Ya aku mau mencari pesugihan. Dan kamu jadi tumbalnya! Mau kamu?"
"Ihh kamu mah sembarangan. Enakan di kamu dong."
"Ya kan sama-sama enak. Katanya kamu mau makan makanan restoran?" Sania mengangguk.
"Ya sudah, itu jalan satu-satunya. Mau beli kan tidak punya uang. Mau jual ginjal, kasian nanti aku tidak akan sehat kalau ginjalnya tinggal satu. Mau jual mata, gimana nanti mau melihat. Mau jual jantung, mati nanti aku."
"Dasar aneh! Siapa juga yang mau beli organ tubuh."
"Ya makanya kamu jadi tumbalnya. Biar aku mencari pesugihan. Nanti kamu aku kasih satu persen, terus mati jadi tumbal."
"Dasar gila! Di kira aku ayam kok jadi tumbal."
umpat Sania kesal.
"Nah kamu sih. Aneh-aneh aja. Dapat uang dari mana aku? Uang aku sudah habis, tadi kan sudah bayarin kontrakan kamu."
"Masak kamu tidak punya uang lagi, Van?"
"Ish, ini semua gara-gara Sania. Bengkak kan, mie-nya." kata Evan seraya mengaduk dan mendorong sesendok full mie miliknya.
"Kamu sedang apa?" tiba-tiba suara Sania terdengar mengejutkan di sampingnya.
"Astaga! Kamu mengejutkanku!" Evan hampir berteriak. Ia memegangi dadanya yang berdebar karena terkejut. Sementara Sania hanya tersenyum tanpa dosa dengan gigi putih yang berjejer rapi.
"Kamu makan apa?" Kepala wanita itu melongok pada semangkuk mie yang sedang di pegang oleh Evan.
"Makan mie. Kenapa?"
"Aku lapar," wanita itu memasang wajah sendu seraya mengelus perutnya.
"Ya cari makanan sana!"
"Tidak punya uang." lirihnya.
"Ah kamu merepotkan!" kesal Evan. Pria itu meletakkan mie miliknya ke tempat semula. Ia berlalu menuju dapur tanpa berkata apa-apa. Sania yang benar-benar kelaparan, segera meraih semangkuk mie milik Evan dan memakannya.
"Ah biarlah mie instan, juga. Yang penting aku kenyang." lirihnya seraya memasukkan mie milik Evan ke dalam mulutnya.
"Ah enak ternyata." ucapnya dengan mata berbinar. Suapan demi suapan masuk ke dalam perutnya, menghilangkan rasa lapar yang sejak tadi menyerangnya. Hingga beberapa menit berlalu, wanita itu menandaskan semangkuk mie milik Evan.
"Ah kenyang sekali." ia mengusap perutnya yang kekenyangan. Tak lama Evan datang dengan sebungkus mie instan di tangannya.
"Ini ambil!" ia menyodorkan sebungkus mie instan pada Sania.
"Tidak. Terimakasih. Aku sudah kenyang, terimakasih ya. Aku mau pulang." ujar Sania mengacuhkan sebungkus mie yang di sodorkan padanya. Wanita itu berlenggang begitu saja, meninggalkan Evan dengan berjuta tanya.
"Nah kenapa dia? Bukankah dia bilang lapar? Kenapa sekarang mendadak menjadi kenyang?" ia menggaruk kepalanya yang gatal.
"Ah terserah! Palingan dia kelaparan." kata Evan seraya menggelengkan kepalanya.
"Tapi aku tidak tega." lirihnya membayangkan wajah Sania.
"Tapi ah, biarlah." ia kembali ke dapur mengembalikan sebungkus mie yang ia bawa tadi.
Ia kembali dari dapur, berniat meneruskan menikmati mie yang tadi tertunda. Alangkah terkejutnya Evan ketika semangkuk mie itu sudah kosong tanpa bekas.
"Sania! Kembalikan mie milk-ku!" teriak Evan kesal. Tapi percuma saja ia berteriak, karena mungkin saja wanita berperut buncit itu sudah sampai rumah. Gara-gara mie instan miliknya di habiskan oleh Sania, Evan terpaksa kembali memasak mie yang stoknya hanya satu-satunya itu.
"Dasar wanita aneh. Pantesan dia menolak ketika aku berikan mie." rutuknya tanpa henti. Ia terpaksa memasak mie-nya kembali demi menenangkan para penduduk kampung yang tengah berdemo dj perutnya.
"Gara-gara dia aku harus masak mie dua kali. Awas saja besok! Akan aku buat perhitungan dengannya!" ujar Evan dengan terus menggerutu seraya memasak mie instan terakhir miliknya.