Suami Sementara

Suami Sementara
Pelakor teriak pelakor


Evan menyeret langkahnya memasuki kantor polisi, ia melirik enggan pada wanita yang duduk di bangku panjang berbahan kayu di dalam ruang tunggu. Wanita itu Sania, ia sengaja meminta Evan untuk mengantar serta menemaninya menjenguk Farhan.


"Kenapa muka kamu terlihat pucat begitu? Abis ketemu hantu?" tanya Sania dengan terus menatap Evan. Yang di tanya hanya bersikap acuh tak acuh, lalu mendaratkan tubuhnya ke kursi yang sama dengan Sania.


"Dih, di tanya cuma diam. Kesambet dimana sih?"


Evan menyandarkan tubuhnya, netranya menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih. Pikirannya menerawang jauh, sekali lagi menyayangkan status Amora yang kembali menjadi istri orang lain. Ia menghela napas berat lalu menghembuskannya dengan kasar. semua yang ia lakukan tidak lepas dari tatapan penuh keheranan dari Sania.


"Kamu kenapa sih? Perasaan tadi baik-baik saja."


Evan hanya diam seribu bahasa. Ia sedang mengumpulkan kepingan demi kepingan hatinya yang berserakan. Menatanya kembali seperti sebelum-sebelumnya.


"Wah, beneran kesambet dia. Ketemu hantu ini, pasti." ujar Sania sambil menggelengkan kepalanya seraya mengelus perutnya yang membuncit.


"Yang ku temui lebih menakutkan dari pada hantu," lirihnya setelah diam beberapa lama.


Sania yang mendengarnya pun tak kuasa untuk tidak mengernyitkan dahi.


"Sebentar, maksudnya gimana sih?"


"Aku baru bertemu Amora." jawab Evan singkat.


"Apakah kamu serius?" tanya Sania seraya menatap Evan dengan terkejut. Pria itu hanya mengangguk lemah, membenarkan hal yang telah di katakan olehnya di awal.


"Wanita itu ada di sini? Apa yang ia lakukan di sini? Apakah ia menjenguk Mas Farhan?" celetuknya sendiri dengan terus menebak apa yang ada di dalam pikirannya. Evan hanya mengangguk, mengiyakan tebakan Sania yang memang benar adanya seperti apa yang wanita itu pikirkan.


"Wah pelakor tidak tahu malu!" wanita itu tersenyum sinis sembari bersedekap. Di sandarkan tubuhnya yang bergetar menahan kebencian ke sandaran kursi yang sama. Evan menoleh, ia mengernyitkan dahi karena merasa tak setuju dan apa yang terlontar dari bibir Sania.


"Apa maksudmu? Mengapa kamu mengatakan hal yang tidak sepantasnya pada Amora?" tanya Evan dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. Tatapan yang mengandung marah, sedih, terluka serta kecewa yang berkumpul menjadi satu.


"Lah, mengapa kamu marah? Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya." elak Sania dengan sengit.


"Tarik kata-kata kamu! Amora bukan pelakor!" kata Evan marah. Ia benar-benar tidak terima jika ada orang yang berkata hal buruk pada wanita yang telah bersemayam di hatinya itu.


"Dia pelakor! Dia yang membuat suamiku begini. Awalnya hubungan kami baik-baik saja dan pernikahan ku baik-baik saja. Tapi karena dia semuanya jadi begini. Bahkan mertua yang awalnya menyayangiku, kini membuang ku bagai sampah." ia tertawa miris mengingat mertua yang mati-matian ia pikirkan bagaimana arisannya agar tetap lancar, kebutuhannya lancar dan malah membuang dirinya ketika ia sudah tidak memilik apa-apa. Ia beranggapan mertuanya telah di pengaruhi oleh Amora.


"Kamu terlalu bodoh menilai orang, Sania." ucap Evan seraya menggelengkan kepalanya.


"Apa maksudmu? Mas Farhan dan Ibunya begini karena di hasut oleh Amora! Jika tidak, mana mungkin mereka akan melakukan hal itu kepada ku?" bantah Sania dan malah semakin membuat Evan kesal


"Hal apa hah? Bukankah apa yang kamu alami sama saja dengan apa yang Amora alami?"


Evan terkekeh geli dan hampir muak pada wanita hamil yang ada di sampingnya ini.


"Pelakor teriak pelakor!" sinis pria itu seraya menggelengkan kepalanya.


"Kamu mengatai ku?" Sania mendelik marah.


"Menurutmu?"


"Amora yang pelakor!" Sania mendelik marah tak terima.


"Tidak seharusnya kamu mempermalukan dirimu sendiri. Apa kamu tidak sadar bagaimana dulunya kamu menghancurkan rumah tangga Amora?"


Sania hanya diam tanpa kata. Ia menatap keramik berwarna putih yang ada di bawahnya.


"Jangan menyalahkan orang lain atas kehancuran mu. Kamu yang menabur, maka kamu juga yg akan menuai. Apa yang kamu rasakan sekarang adalah hasil dari apa yang kamu tanam kemarin. Jika kamu menanam kebaikan, maka kamu akan menuai balasan yang berupa kebaikan pula. Yang akan baik untuk hidup kamu. Tapi jika kamu menanam keburukan, maka bersiaplah atas semua resikonya. Kamu harus menerima semua karma dari hasil perbuatan kamu. Dan jika sekarang kamu merasakan hidupmu hancur, maka ingat kembali apa yang telah kamu lakukan. Jangan malah maling teriak maling. Selalu menyalahkan orang lain." jelas Evan panjang lebar. Bukannya mengerti, Sania malah semakin marah dan tidak terima.


Dengan napas yang memburu, ia berdiri di hadapan Evan seraya berkacak pinggang. Evan terpaksa harus mendongak agar bisa melihat wajah Sania yang memerah menahan amarah.


"Jangan sok jadi ustadz deh kamu! Sok-sokan menceramahi aku. Kamu itu terlalu mencintai Amora, makanya kamu selalu memandang baik pada perempuan itu. Dan kamu terlalu membenci aku sehingga kamu selalu melihat kesalahan pada diri aku. Harusnya kamu ikut membenci dia karena perempuan itu tidak pernah sekalipun melihatmu. Ia tak pernah membalas cinta kamu. Laki-laki kok lemah!" Sania memutar bola mata kesal. Evan mengangkat sudut bibirnya, ia pun segera berdiri di hadapan Sania dengan ekspresi dingin.


"Apa katamu? Aku harusnya juga membenci Amora?"


"Iyalah. Jelas-jelas dia selalu mengabaikan kamu. Tidak pernah merespon perasaan kamu sama dia. Dia itu pasti sudah tahu perasaan kamu ke dia, tapi dia pura-pura tidak tahu."


"Jadi maksud kamu aku harus memaksa dia untuk mencintaiku, begitu?" Sania terdiam. Otaknya berpikir keras. Evan tersenyum miris seraya menggelengkan kepalanya.


"Tidak ku sangka otakmu terlalu sempit dan sangat dangkal, Sania. Apa aku harus membencinya dan balas dendam padanya seperti yang kamu lakukan beberapa waktu lalu?" ia mengangkat sebelah alisnya seraya melihat wajah Sania yang menegang.


"Apa aku harus melakukan cara kotor dengan menjebaknya serta memfitnah orang yang sangat aku sayangi?" sindir Evan yang membuat Sania semakin marah. Deru napas wanita itu semakin memburu.


"Aku tidak akan melakukan hal sepicik itu. Aku tidak bisa memaksa orang untuk mencintai aku atau membalas kebaikan yang aku lakukan karena balasan itu bisa datang dari siapa saja. Cinta itu bukan perihal tentang memiliki. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk tetap bersama kita hanya karena kita mencintainya. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk stay sama kita padahal ia tersiksa. Itu bukan lagi cinta, namanya. Itu obsesi dan keegoisan yang tinggi. Jika kamu mencintai seseorang, maka biarkan dia bahagia. Jangan membuat dia tersiksa dengan cinta yang kamu punya. Jika dia tidak memilihmu, maka jangan kamu paksa dia untuk memilihmu. Jika dia memang di takdirkan untuk bersamamu, maka takdir itu akan menemukan jalannya sendiri. Jika kamu mencintai seseorang, maka biarkan dia pergi. Jika dia kembali, maka berarti dia adalah jodohmu. Jangan memaksakan perasaan kamu pada orang lain. Biarkan dia memilih, kepada siapa dirinya menjatuhkan hati. Hal yang di paksa tidak akan berujung kebaikan. Maka cukup cintai dia dengan ikhlas dan jangan meminta balasan. Karena cinta yang tumbuh di hati kita bukan atas kemauan dia, tak seharusnya kita menuntut balasan cinta pula darinya. Tak sepantasnya pula kita berbuat hal yang tidak semestinya hanya karena cinta kita tak terbalas." imbuh Evan panjang lebar.


Wanita yang ada di hadapannya kini hanya terdiam seribu basa. Berperang dengan hati serta pikirannya yang kacau. Ah mengapa ia begitu membenci Amora padahal dulu mereka adalah sahabat yang sangat dekat.


Evan benar, hanya karena cintanya pada Farhan membuatnya hilang kendali. Amora tidak salah apa-apa dan tidak harus bertanggung jawab pada perasaannya. Ia yang salah karena menjatuhkan hati pada orang yang tidak tepat. Tak terasa setitik bulir bening itu jatuh, tapi dengan cepat ia menghapusnya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun. Ia mengangkat dagunya, menatap pongah pada Evan yang kini juga sedang menatapnya.


"Sudah ceramahnya? Pak us-tadz?!"