
Happy reading zheyeng π
_________________________________
Reyhan duduk di kursi kebesarannya, berkutat dengan setumpuk dokumen yang menemaninya setiap hari. Kacamata berbingkai persegi berada di pangkal hidung menambah ketampanan pria itu. Tak lama terdengar suara pintu ruangan yang di ketuk.
Tok ... tok ... tok ....
"Masuk!" ucap Reyhan tanpa menoleh.
Pintu ruang kerja itu terbuka, menampakkan seorang pria muda berusia sekitar dua puluh lima tahunan dengan pakaian rapi lengkap dengan jas berwarna hitam menghampiri meja Reyhan. Pria itu menundukkan kepala menyapa Reyhan.
"Selamat pagi, Pak. Saya membawa laporan yang Bapak minta." ujarnya seraya menyerahkan amplop besar berwarna cokelat. Reyhan mengangkat kepalanya, meninggalkan beberapa dokumen yang sejak tadi menemani.
"Bagus," Reyhan menerima amplop itu seraya mengangguk.
"Kamu boleh keluar!"
"Mengenai sekretaris baru ...."
"Tidak perlu! saya sudah menemukan sekretaris yang cocok. Kamu boleh keluar sekarang!" Pria itu mengangguk, tapi tak bisa di pungkiri ia sedikit bingung.
"Saya permisi." ia segera berlalu meninggalkan ruangan Reyhan.
"Kalau bisa nyari sendiri kenapa repot-repot nyuruh aku nyari sekretaris segala." rutuk pria itu setelah keluar dari ruangan Reyhan.
Sementara Reyhan meletakkan amplop besar berwarna cokelat itu di atas meja. Ia kembali membaca beberapa dokumen lalu menandatanganinya. Tapi ia kembali melirik amplop yang di berikan bawahannya tadi. Reyhan penasaran.
Ia meletakkan pulpen yang ia pegang sedari tadi, membuka kacamata yang bertengger sejak awal ia bekerja. Reyhan meraih amplop cokelat itu, lalu membuka isinya. Ada beberapa foto di sertai informasi yang tertulis di belakangnya. Reyhan mengamati satu persatu. Ia mengangkat sudut bibirnya usai membaca keterangan di satu foto yang tidak asing baginya.
"Jadi ini ulah kamu rupanya," rahang Reyhan mengeras dengan tatapan setajam mata elang. Ia mengepalkan tangannya dengan geram.
"Tunggu saja! aku akan menghancurkan kamu sampai menjadi debu."
π·π·π·
"Amora bukankah kamu yang menyimpan file untuk pemasaran?" tanya Evan pada Amora yang sedang sibuk dengan layar monitor di hadapannya. Wanita itu mengangguk tanpa menoleh, Evan berdiri tepat di belakang kursi Amora. Kedua tangannya bertengger di sandaran kursi sehingga membuat jarak di antara mereka sangat dekat. Bahkan Evan bisa mencium harumnya aroma rambut Amora. Membuat pria itu tersenyum malu dengan wajah yang merona, ia menggelengkan kepalanya agar pikirannya tetap fokus pada pekerjaan. Sementara rekan yang lain hanya melirik dengan tersenyum jahil. Tapi tidak dengan Tiara,. ia memandang keduanya dengan sorot mata tidak suka serta penuh kebencian.
"Kok nggak ada, ya." Amora kembali mencari file yang telah ia simpan sebelumnya. Mencari di semua data yang ia simpan tapi tetap saja tidak menemukannya.
"Coba ingat-ingat lagi kamu menyimpannya di mana." Evan mencoba menenangkan Amora yang sedang panik.
"Aku sangat ingat kemarin aku menyimpannya di sini."
"Jangan sampai hilang loh, itu file sangat penting dan nanti siang sudah harus siap." ujar Tiara dengan wajah kesal.
"Kemarin sudah aku selesaikan dan seingatku memang sudah di simpan. Tapi kok aneh, kenapa tidak ada di mana-mana."
"Kamu punya salinannya?"
Amora menggeleng. Evan memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.
"Makanya kalau kerja itu yang benar. Jangan kerja sambil pacaran, begitu kan jadinya." sindir Tiara. Wanita itu tersenyum miring, memandang Amora dengan kebencian.
"Apa sih maksud kamu? siapa yang pacaran?" Amora menoleh, menatap Tiara dengan sangat kesal.
"Jangan sok cantik! di sini yang di butuhkan itu kinerja bukan wajah! kalau mau di puja laki-laki dan terus berpacaran mending open BO sana. Atau berdiri di tepi jalan, pasti banyak tuh yang mau. Atau jadi simpenan bos botak aja. Pasti si bos ganjen itu mau banget tidur sama kamu!" ketus Tiara.
"Kamu kalo ngomong di jaga ya!" ucap Amora marah. Ia berusaha mengontrol emosi yang sudah naik sampai ke ubun-ubun.
"Benarkan? kamu itu mengandalkan wajah!"
"Tiara kamu apaan sih? kenapa kamu seperti ini ke Amora? jaga bicaramu!" kali ini Evan yang berbicara, sedangkan kedua temannya hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa. Mereka tahu kalau Tiara sedang cemburu dengan kedekatan Evan dan Amora.
"Iya, aku percaya. Kita cari lagi, ya." Evan memegang kedua bahu Amora. Menatap wanita itu dengan tersenyum lembut.
"Coba kalau itu aku, pasti udah ngomel sampe besok pagi." cibir Tiara dengan tatapan tidak suka. Evan dan Amora memilih mengabaikan Tiara sehingga menambah kekesalan wanita itu.
"Mungkin kamu lupa menyimpan file nya, Ra?" monolog Dewi. Ia terlihat khawatir dan kini melangkah menghampiri dan Evan. Evan melepaskan tangannya lalu mengelus pucuk kepala Amora perlahan membuat Tiara semakin terbakar. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, sehingga kukunya yang tajam menusuk telapak tangan.
"Aku sangat yakin kalau sudah menyimpan file itu sebelum pulang. Aku inget banget."
"Sini aku bantu." Dewi beralih duduk di kursi Amora, mencoba membantu wanita itu mencari file yang di maksud. Sedangkan Tiara kini berdiri meninggalkan mereka. Ia tidak ingin dadanya benar-benar terbakar dengan kedekatan Evan dan Amora. Kini Rizky pun ikut mendekat, melihat layar monitor yang terpampang di hadapan ke empat orang itu.
"Kok bisa hilang ya?" ucap Dewi bingung.
"Nggak mungkin kan itu file di colong hantu." kata Rizky yang langsung mendapatkan cubitan di pinggangnya oleh Dewi sehingga pria itu meringis kesakitan.
"Ya kali hantu mau nyolong file. Dasar aneh."
"Siapa tahu, kan." Rizky meringis.
"File itu bisa hilang jika ada yang menghapusnya atau memindahkannya." ucap Evan seraya fokus menatap layar monitor. Ketiga orang itu menatap Evan, mencerna baik-baik apa yang di ucapkan pria dengan mata sipit itu.
"Benar juga yang di katakan Evan. Tidak mungkin file itu kabur sendiri. Pasti ada yang telah menyebabkannya hilang." sahut Rizky seraya mengetukkan jemarinya ke dagunya yang agak berisi. Sementara Amora dan Dewi saling berpandangan dengan pikiran masing-masing.
"Kita harus mencari tahu siapa orang yang telah menyebabkan file itu hilang." ujar Evan.
"Masalahnya, siapa yang mau mencuri data kita?" tanya Rizky bingung.
"Kalau kita tahu, nggak mungkin kita harus mencari tahu dudul!" kali ini Dewi menoyor kepala Rizky dengan kesal. Rizky hanya terkekeh dengan senyum yang menampakkan deretan gigi putih miliknya.
"Kan siapa tempe? ngomong-ngomong makan tempe mendoan enak nih."
"Dasar otak kambing! yang di pikiran kamu itu makan aja!"
"Ya wajar dong, makan untuk hidup."
"Terus hidup kamu untuk makan? gitu?" kesal Dewi.
"Ya nggak juga, sih." Rizky menggaruk kepalanya yang terasa gatal.
"Nggak jelas kamu, mending kita pikirin kemana ini file. Kok bisa ngilang gitu aja."
"Ya, Dewi benar. Sebenarnya file nya kemana?" tanya Evan bingung.
π·π·π·
Halo zheyeng π
Jaga kesehatan ya.
Tetap semangat dan jangan lupa senyum ππ
Semangat semangat semangat. Meski yang membuatmu semangat tak bisa lagi kamu dekap. Asekkππ
Maaf Author gajeπ€π€
Jangan lupa apa?
Like, komentar, hadiah & vote nya dong. Hehe. makasih allππ
Elepyyuuuuuu full pokoknya π₯°