Suami Sementara

Suami Sementara
Kamar Reyhan


Happy reading zheyeng 😘


_____________________


Mobil yang di kendarai Reyhan sampai di depan gerbang yang menjulang tinggi, seorang satpam membuka pintu gerbang tanpa di suruh.


Reyhan membuka kaca mobil ketika melewati satpam yang telah bekerja di rumahnya selama sepuluh tahun lebih itu.


"Malam, Pak." sapa Reyhan seraya mengulas senyum.


"Eh den Reyhan, selamat malam." balasnya ramah. Reyhan melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah yang luas. Di hiasi taman bunga yang di tata rapi dengan berbagai jenis bunga di dalamnya. Mama Riana sangat menyukai bunga, maka tidak heran jika pekarangan itu tampak asri.


"Ini rumahmu?" tanya Amora. Netranya mengamati sekeliling, pasalnya ia belum pernah menginjakkan kaki di rumah Reyhan meski mereka sudah berteman lama.


"Ini rumah Mama, rumah peninggalan almarhum Papa." jelas Reyhan seraya melepaskan sabuk pengaman.


"Sama saja." celetuk Amora seraya mengerucutkan bibirnya.


"Beda lah. Aku belum punya rumah, nanti aku akan bangun rumah bersamamu." ucap Reyhan serius sehingga membuat Amora hanya terdiam sambil mengerlingkan mata.


"Mau 'kan?" tanya Reyhan seraya menatap bola mata Amora yang berwarna coklat.


"Aku ingin membangun rumah bersamamu, rumah tangga yang sebenarnya. Bukan rumah tangga sementara tapi selamanya." ujar Reyhan serius. Amora tak bisa berkata apapun. Ia hanya diam menatap pria yang ada di hadapannya saat ini. Ia terbius dengan pandangan mendamba dari Reyhan. Tak pernah selama ini ia melihat wajah Reyhan seserius ini.


"Reyhan! Kalian kenapa lama sekali! Ayo turun!" terdengar teriakan mama Riana yang berdiri di depan pintu. Keduanya terpaksa memutuskan pandangan, lalu bersiap turun.


"Pikirkanlah. Aku serius." kata Reyhan pada Amora sebelum turun. Amora yang sedang berusaha melepaskan sabuk pengaman bengong sebentar lalu mencoba kembali membuka benda yang sedang melingkar di tubuhnya itu. Entah kenapa sabuk pengaman itu tiba-tiba sangat susah ia buka.


"Kok susah banget sih." rutuknya kesal.


Tiba-tiba pintu mobil di samping kirinya terbuka, Reyhan dengan cepat segera membuka sabuk pengaman itu dengan mudah.


"Makanya pakai hati. Apapun itu lakukan dengan sepenuh hati agar hasilnya baik." ucap Reyhan lalu segera berlalu meninggalkan Amora yang masih terbengong-bengong.


"Apa sih maksudnya? dia menyindirku?"


"Dasar pria kulkas menyebalkan." ucap Amora kesal. Ia segera turun menyusul Reyhan yang sudah terlebih dulu menemui Mama Riana yang berdiri menyambut mereka.


"Amora! menantu mama!" teriak Mama Riana dengan merentangkan kedua tangannya menyongsong kedatangan Amora dan melewati Reyhan, anaknya sendiri. Hal itu membuat Reyhan mendelik tak percaya.


"Ma, ini anakmu!" teriak Reyhan tidak terima. Kepalanya memutar melihat mama Riana yang tak menghiraukannya.


"Amora menantu mama yang cantik. Kok basah bajunya? kamu kehujanan?" tanya Mama Riana seraya memutar tubuh Amora. Baju bagian depan Amora basah ketika memeluk Reyhan.


"Tidak, Ma. Tadi ada insiden kecil." jawab Amora seraya tersenyum malu, ia melirik Reyhan yang sedang kesal melihat kelakuan Mamanya. Pipi Amora terasa panas mengingat apa yang terjadi di dalam mobil beberapa waktu lalu. Semburat merah sangat terlihat di wajah wanita itu.


"Benarkah?" tanya Mama Riana memastikan dan di jawab dengan anggukan oleh Amora.


"Bagaimana kabar kamu?" Mama Riana memeluk Amora dengan sayang. Amora membalasnya dengan hangat.


"Allhamdulillah, baik Ma. Mama apa kabar?" seraya melepaskan pelukannya.


"Allhamdulillah baik juga dong. Lihat mama sehat begini." wanita tertawa, menampakkan deretan gigi putih yang berjejer rapi.


"Ma, anak Mama itu Reyhan apa Amora sih!" Protes Reyhan. Tangan kanannya ia letakkan di pinggang sedangkan tangan kirinya menenteng bungkusan mie ayam yang ia bawa.


"Mentang-mentang punya menantu, anaknya di lupain. Biarin aja mie ayamnya Reyhan makan sendiri!" ujar Reyhan pura-pura merajuk. Ia berjalan meninggalkan Kedua wanita yang berbeda usia itu.


"Reyhan bawa mie ayam?" tanya Mama Riana seraya menatap Amora dengan serius.


Amora mengangguk.


"Kenapa tidak bilang, sih." ucap Mama Riana.


"Memangnya kenapa, ma?" tanya Amora bingung.


"Kan mama suka banget sama mie ayam. Nanti kalau di habiskan sama Reyhan kan bisa gawat. Ayok ah buruan masuk. Keburu kehabisan." Mama Riana menarik tangan Amora dengan tergesa. Sedangkan Amora hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Mama Riana selain baik, beliau juga sangat lucu menurut Amora.


Mama Riana mencari-cari keberadaan Reyhan. Ia tidak ingin anak itu menghabiskan mie ayam kesukaannya. Kepalanya celingukan kesana kemari.


"Amora, kamu langsung ke kamar Reyhan saja ya. Ganti baju kamu, baju kamu ada di lemari. Mama sudah menyiapkan untukmu tadi siang." ujar Mama Riana sembari tersenyum.


"Terimakasih, ma."


Mama Riana mengangguk, "Oh ya, kamar Reyhan ada di lantai atas. Pintu kamar yang warna hitam ya." Mama Riana mengelus lengan Amora lalu beranjak ke dapur.


Amora melangkah menuju lantai atas, menapaki beberapa anak tangga. Sesampainya di depan pintu yang menjulang tinggi berwarna hitam, ia segera menekan handle pintu dan mendorongnya.


Ia masuk seraya melihat kamar yang luas itu. Dengan dinding berwarna putih dan beberapa dekorasi sederhana, menggambarkan karakter empunya. Perpaduan warna hitam dan putih memenuhi kamar ini.


Ranjang dengan ukuran luas berwarna hitam berada di ujung ruangan. Dengan seprey dan selimut berwarna abu-abu yang berada di atas ranjang. Ada satu bufet berwarna putih di sana, diatasnya ada lampu tidur beserta foto masa kecil Reyhan yang sedang tersenyum melihat kamera.


Amora meraih pas foto itu dan mengamatinya. Reyhan terlihat sangat manis dan tampan. Ketampanan pria ini memang bawaan lahir. Dari Reyhan kecil saja sudah bisa menebak bagaimana tampannya pria ini ketika dewasa.


"Kamu kok bisa ada di sini?"


Amora terkejut, ia menoleh ke arah sumber suara. Seketika matanya melotot sempurna kala mendapati tubuh Reyhan yang hanya di mengenakan handuk berwarna putih sebatas pinggang. Rambut pria itu basah, terlihat tetesan air turun dari ujung rambutnya. Tubuhnya sangat sempurna, dadanya berbentuk kotak seperti roti sobek. Pria itu terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan dari biasanya. Amora merasakan jantungnya berpacu lebih cepat. Darahnya berdesir, seketika pipinya memanas. Ia yakin pipinya sudah merona saat ini. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya pada dada Reyhan yang bidang. Menggodanya untuk menyentuh jengkal demi jengkal tubuh kekar itu.


"Apa yang kamu lihat?" Reyhan mendelik seraya bersedekap. Ia menaik turunkan alisnya.


"Akhh ...."Amora menutup kedua matanya dengan tangan. Ia berbalik, tak ingin menatap Reyhan lebih lama. Ia merasa sangat malu sekarang.


"Halah sudah puas baru menjerit. Bilang saja kalau pengen pegang. Sini pegang! aku ikhlas." Goda Reyhan seraya terkekeh.


"Siapa yang mau pegang! aku tidak sengaja melihatnya. Lagi pula kamu kenapa cuma pakai handuk?" elak Amora.


"Lah, mana aku tahu kamu di sini? jadi, siapa yang salah?"


Amora menepuk jidat. "Iya aku yang salah." gumamnya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hai zheyeng 😘


Semangat terus dan jaga kesehatan yah.


i Love you all😘😘😘