Suami Sementara

Suami Sementara
kondisi Farhan


"Jalani hukuman kamu," lirih Ibunya dengan pelan. Apa yang di katakan oleh Ibunya membuat Farhan tertawa geli.


"Hukuman apa? Aku tidak bersalah!" elaknya dengan senyuman mengerikan. Bahkan Fitri sampai bergidik ngeri menyadari sisi kakaknya yang berbeda.


"Kakak merasa tidak bersalah?" tanya Fitri seraya menatap wajah kakaknya dengan putus asa.


"Aku melakukan hal yang seharusnya aku lakukan, jadi mengapa aku harus merasa bersalah?" ujarnya enteng. Ia bersedekap seraya bersandar ke kebelakang, menatap kedua wanita berbeda usia yang ada di hadapannya dengan senyum misterius. Dua wanita yang memiliki darah yang sama dengannya, yang selama ini ia sayangi sekedarnya saja.


"Farhan, bersikap baiklah selama di sini. Jalani semua hukuman kamu dan berubah lah. Ibu menyadari bahwa sikap kita selama ini memang sudah keterlaluan apalagi terhadap Amora. Bahkan terakhir kali sikap kita begitu kejam pada Sania." lirih Ibunya penuh penyesalan. Farhan mengernyitkan dahi. Ia menatap penuh keheranan pada sang Ibu yang biasanya tidak pernah peduli pada siapa pun apalagi menantunya. Bisa mendapatkan uang dari menantunya sudah lebih dari cukup bagi wanita paruh baya itu.


Ia menurunkan kedua tangannya, lalu mengangkat tubuhnya mendekatkan wajahnya pada Ibunya. Ibunya refleks memundurkan tubuhnya karena bisa di katakan ia mulai takut dengan sikap anaknya yang menurutnya semakin hari semakin misterius dan mengerikan.


"Apa selama Farhan di sini Ibu mengikuti pengajian?"


"Ah atau Ibu terjatuh dan terbentur sesuatu?" imbuhnya di selingi senyum mengejek yang sangat kentara di wajahnya.


"Apa yang kakak katakan? Berhenti bersikap mengerikan seperti itu!" ujar Fitri dengan geram. Farhan beralih pada adiknya yang sedang menatapnya penuh kebencian.


"Memang apa yang aku yang aku lakukan? Dan berhentilah menggonggong atau kau akan kehilangan kemampuan untuk bersuara!" ucapnya dengan nada rendah dan pelan, tapi mampu membuat Fitri merinding ngeri. Tatapan itu sangat mengerikan baginya, caranya menatap dan berbicara memang sangat pelan dan lembut tapi penuh misteri yang berarti.


"Sudah jangan bicara apapun lagi. Ibu tidak mau jika kamu kenapa-kenapa nantinya. Kakakmu itu bukan Farhan yang dulu lagi." bisik Ibunya tanpa memutuskan pandangannya pada Farhan yang tidak beralih sedetik pun pada wajah Fitri. Pria itu menatap adiknya seraya menyeringai mengerikan. Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu.


Detik berikutnya, Fitri yang masih menatap kakaknya menjerit kaget.


"Kak hidung Kaka berdarah!" teriaknya seraya menunjuk pada hidung Farhan yang mengeluarkan darah. Sontak saja Ibunya juga melihat ke arah yang di tunjuk oleh Fitri.


"Farhan, kamu mimisan." ujar Ibunya dengan khawatir. Wajah anaknya terlihat pucat dan mimisan begitu banyak. Dengan santainya Farhan mengusap darah yang keluar dari hidungnya.


"Kenapa kau rajin keluar sih?" keluhnya sembari terus mengusapnya dengan ujung baju tahanan miliknya.


"Ini, pakailah." Fitri mengulurkan beberapa lembar tisu pada kakaknya. Farhan menunda apa yang ia lakukan dan menatap adiknya sebentar, lalu beralih pada tisu yang di sodorkan.


"Tidak perlu!" ujarnya dingin. Ia mengusap asal pada hidungnya yang masih mengeluarkan darah, ia mendongak ke atas berharap darahnya tidak keluar. Fitri menarik kembali tangannya dan menatap kakaknya dengan kecewa. Ia sangat mengkhawatirkan kakaknya serta menyayangi pria yang tumbuh bersamanya itu meski sikap pria itu terkadang menyakiti perasaannya. Wanita di sebelahnya mengusap punggung Fitri dengan lembut. Lalu mengangguk sebentar, dan beralih pada anak laki-lakinya.


"Nak, apakah kamu sering seperti ini?" tanya Ibunya dengan khawatir. Tapi yang di tanya hanya diam tak menyahut sehingga sang ibu hanya menghela napas berat.


"Jangan pura-pura khawatir padaku. Aku mati di sini pun kalian tidak akan peduli. Jadi jangan sok peduli! Biarkan aku mati di sini tanpa kalian ketahui." sinis pria itu setelah beberapa saat. Ia menatap tak peduli pada Ibu dan adiknya.


"Pulanglah! Jangan temui aku jika hanya berbasa-basi. Temui aku jika kalian bisa mengeluarkan aku dari sini." ia beranjak untuk berdiri.


"Bu, kenapa kakak berbicara seperti itu? Dan kenapa hidung Kakak mimisan?" tanya Fitri khawatir. Ia menatap Ibunya lalu menatap punggung Farhan yang menjauh bersama penjaga yang menggiringnya kembali ke sel tahanan.


"Ibu juga tidak tahu mengapa kakakmu mimisan. Dan tubuh kakakmu sekarang sangat kurus dan pucat. Ibu merasa kakak kamu itu sedang sakit, Fit. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Ibu rasakan?" tanya Ibunya seraya menatap anak perempuannya.


"Iya, Bu. Fitri juga merasakan hal yang sama. Fitri bukan seperti melihat kak Farhan yang dulu. Kak Farhan bukan seperti yang dulu. Dia amat berbeda dengan kakak Fitri selama ini. Sikapnya juga sangat mengerikan. Meski terlihat biasa saja, tapi semua itu mengandung arti yang sangat mengerikan. Ah entahlah, Fitri juga bingung dan tidak mengerti apa itu." ungkap Fitri dengan bergidik ngeri.


"Ya, Ibu juga merasakan hal yang sama. Semoga kakak kamu baik-baik saja dan bisa berubah menjadi lebih baik. Ibu sangat mengharapkan itu." lirih Ibunya dengan harapan yang ia lambung kan tinggi-tinggi.


"Ya, Bu. Semoga saja Kakak bisa berubah lebih baik." sahut Fitri seraya mengelus punggung tangan Ibunya dengan lembut.


"Ayo kita pulang," ajak Ibunya seraya berdiri di balas anggukan oleh anaknya. Keduanya melangkah keluar membawa harapan semoga pria yang baru saja mereka temui bisa berubah lebih baik.


Sementara itu, di sebuah toilet penjara seorang pria meringis ketika buang air kecil. Ia melihat miliknya yang semakin parah di bawah sana. Ada banyak benjolan seperti borok dan bisul memenuhi miliknya.


"Mengapa semakin banyak?" keluhnya seraya meringis nyeri. Ia mengamati miliknya yang begitu memprihatinkan.


"Ah sial! Apa aku harus memeriksakan diri?"


Ia berpikir sejenak. Tubuhnya juga semakin melemah serta flu yang ia rasakan semakin parah dan tak kunjung sembuh. Tenggorokannya sakit serta kepala yang sakit sangat menyiksanya.


"Ah tidak perlu memeriksakan apapun. Ini hanya gejala panas dalam dan sebentar lagi juga akan sembuh. Atau hanya karena ruangan yang ku tempati itu terlalu kotor dan tidak cocok dengan tubuhku. Terlalu berdebu dan sangat tidak baik untuk manusia. Sapi saja ku rasa akan jatuh sakit bila berada di ruangan itu."


Ia mengamati miliknya sekali lagi.


"Ah sudah lama milikku ini tidak merasakan kenikmatan. Aku harus keluar dari sini apapun caranya. Dasar Ibu tidak berguna! Tidak bisa di andalkan. Aku harus berusaha sendiri. Aku akan mencari cara untuk keluar dari tempat terkutuk ini!" ujarnya penuh tekad.


"Sabar, ya. Kita akan bersenang-senang setelah ini." ujarnya seraya menatap miliknya yang ada di bawah sana.


"Amora ... Aku tidak akan merelakan kamu bahagia bersama Reyhan. Aku akan merebut kamu kembali." ujarnya seraya tersenyum menyeringai.


"Aku sangat merindukanmu, Amora. Sangat ...." lirihnya. Ada kesedihan yang terselip di sela kata-katanya. Entahlah, wanita itu tetap menjadi ratu di hatinya. Meski banyak perempuan yang sudah tidur bersamanya, baginya Amora tidak akan pernah tergantikan. Wanita itu begitu spesial dan sangat berbeda dari semua wanita yang pernah ia temui.


Ketika ia akan keluar dari kamar mandi, ia merasakan cairan hangat yang kembali keluar dari hidungnya.


"Ah sial! Kenapa keluar terus sih!" ujarnya seraya mengusapnya dengan kasar.