Suami Sementara

Suami Sementara
Takut kehilangan


Happy reading zheyeng 😘😘


_______________________________________


"Tanpa sadar cinta telah merasuk ke dalam relung hati yang terdalam.


Tenggelam hingga ke dasar jurang yang curam.


Berusaha menepis, tapi rasa itu tak mau jua terkikis.


Biarlah cinta ini tumbuh sampai nanti hatimu bisa ku rengkuh.


Biarlah rasa ini terus bersemai, hingga nanti aku menutup mata dengan damai."


💕💕💕


Reyhan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea matanya. Ia mengerjapkan mata, melihat sekeliling. Ruangan ini terasa asing, dengan cat berwarna putih yang mendominasi. Bau obat tercium menusuk hidung, tanpa bertanya ia pun sudah tahu dimana ia berada sekarang. Tangan sebelah kiri terpasang selang infus, sementara tangan sebelah kanan terasa berat.


Tangan sebelah kanan terasa keram dan berat, ia mendapati kepala seorang wanita berambut panjang sedang tertidur di sana. Senyum kecil terbit di wajah pucat pria itu, tangan kirinya terulur untuk mengelus kepala wanita yang menjadi istrinya hampir tiga bulan ini.


"Reyhan, kau sudah sadar Nak?" suara seorang wanita yang merupakan Mama Riana itu terdengar datang dari luar. Wanita itu berjalan cepat kemudian menaruh barang bawaannya ke atas nakas yang tak jauh dari ranjang yang sedang di tempati Reyhan.


"Mama," Reyhan mengangkat tangannya dari kepala Amora.


"Biarkan dia tidur. Amora menjagamu sepanjang malam, bahkan kamu tidak sadarkan diri dari kemarin. Padahal mama menyuruhnya untuk pulang saja. Tapi ia tidak mau dan malah menyuruh mama yang pulang. Ia bersikeras mengatakan akan menjagamu. Pasti dia lelah sekali." Mama Riana membelai pelan rambut Amora yang menutupi wajah cantik wanita itu. Wanita yang masih terlihat muda itu tersenyum lembut penuh kasih sayang.


Reyhan tersenyum tipis, ada sebuah rasa yang tak bisa di jelaskan memenuhi relung jiwanya. Perasaannya membuncah kala mengetahui betapa Amora sangat tulus padanya.


Terimakasih. ujarnya dalam hati.


"Kemarin Amora menemukan kamu pingsan di apartemen. Amora sangat histeris dan berpikir kamu sudah mati. Untung sepupu begundal itu datang dan segera membawamu ke rumah sakit. Amora sangat kacau mengetahui keadaan kamu. Ah kasihan sekali menantu Mama." kini Mama Riana sudah duduk di sofa yang ada di sana. Menatap Amora dengan tatapan sendu.


"Mama tidak kasihan dengan Reyhan?" tanya Reyhan seraya memasang wajah memelas.


"Mama kesal dengan kamu! kenapa kamu main hujan-hujanan sehingga kamu bisa demam tinggi seperti itu! apa masa kecil kamu tidak bahagia? lagi pula kenapa tidak pulang ke apartemen Amora? kamu benar-benar keterlaluan! kamu membuat menantu mama hampir gila karena mencemaskan kamu!" omel wanita itu. Napasnya naik turun menahan emosi.


"Anak mama itu sebenarnya Reyhan apa Amora sih, Ma? disini anak mama sedang sakit tapi malah di omelin." Reyhan pura-pura merajuk, ia memanyunkan bibirnya beberapa senti.


"Makanya jangan bandel jadi orang! bukannya pulang atau memberi kabar ini malah pingsan sendirian di apartemen. Coba kalau Amora tidak menemukan kamu, bisa jadi janda menantu mama."


"Astaghfirullah, Ma. Pedes banget itu mulut kayak cabe rawit."


"Kamu sih, tau istrinya di rumah nungguin. Khawatir sama suaminya, eh malah main hujan kayak anak kecil!"


"Siapa yang main hujan sih, Ma. Reyhan kehujanan pas pulang dari kantor." elak pria itu.


"Memangnya Mama sebodoh itu? buaya mana bisa di kadalin!"


"Aduh Ma, kepala Reyhan sakit." keluh Reyhan. Dengan cepat Mamanya berdiri dan berlari menghampiri anaknya yang pura-pura memegangi kepala.


"Mana yang sakit, Nak? sebelah mana?" wanita itu panik.


"Mama panggilkan dokter, ya." Mama Riana akan beranjak ketika tangan Reyhan mencegahnya.


"Jangan Ma. Nanti juga sembuh kok, kalau mama udah nggak ngomel lagi." Reyhan mengedipkan sebelah matanya sehingga membuat ia mendapatkan pukulan di bahu.


"Aduh sakit, Ma." Reyhan mengusap bahunya.


"Pinter kamu, ya bohongin Mama. Suka banget bikin mamanya panik!"


"Hehe, ampun Ma. Abisnya Mama ngomel terus kayak kereta."


"Siapa suruh jadi anak kok bandel banget?"


Bersamaan dengan itu Amora terbangun, wanita itu mengangkat kepalanya. Melihat Reyhan yang sudah bangun, Amora menjerit senang.


"Kamu baik-baik aja kan, Rey?"


"Aku baik-baik aja, Amora. Kau bisa lihat sendiri kan? aku sehat," Reyhan berusaha untuk duduk di bantu Amora dan Mama Riana.


"Kamu membuatku khawatir! aku kira kau sudah mati!"


"Apa kamu mendoa'kan ku?"


"Hah?"


"Kamu mendo'akanku mati?"


"Apa kau bilang? aku tidak pernah mendo'akanmu begitu!" sangkal Amora dengan emosi.


"Lalu tadi itu apa?" Reyhan mengangkat sebelah alisnya.


"Aku sangat mengkhawatirkan kamu! kamu tidak ada kabar. Pulang tidak, ngasih kabar tidak!"


"Apa istriku ini sangat mengkhawatirkan suaminya? ah, rupanya istriku yang galak ini takut kehilangan suaminya." sindir Reyhan seraya tersenyum miring.


Blush ....


Wajah Amora memerah bak tomat.


"Ayo mengaku sajalah! kau takut kehilanganku bukan?" goda Reyhan. Ia menaik turunkan alisnya seraya tersenyum jenaka.


"Kau salah! aku bukan takut kehilangan kamu! aku cuma takut di salahkan oleh Mama karena tidak bisa menjaga anaknya." elak Amora. Ia memalingkan wajahnya untuk menutupi semburat merah di wajah cantiknya.


Sementara Mama Riana yang menyaksikan perdebatan sepasang suami-istri itu hanya senyum-senyum.


"Jadi beneran nggak takut kehilangan nih?" ledek Mama Riana. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Amora menggeleng dengan ragu, ia menoleh perlahan melihat anak dan ibu itu yang menahan senyum.


"Tapi siapa ya, yang dari kemarin sampe semalam nangis-nangis? Sampai bengkak gitu matanya."


Amora kembali memalingkan wajahnya, menghindari tatapan dari Mama Riana dan Reyhan yang membuat pipinya semakin merona.


"Amora harus ke kamar mandi." wanita itu berdiri lalu beranjak meninggalkan kedua orang yang menatapnya dengan penuh tawa itu.


"Eh, mau kemana?" tanya Mama Riana pada Amora.


Amora menoleh. "Ke kamar mandi."


"Kamar mandi ada di sana!" tunjuk Mama Riana ke sebelah kanan, masih dalam satu ruangan yang sama.


"Eh, lupa." Amora berlari kecil menuju arah yang di tunjuk Mama Riana. Ia menutup wajah dengan kedua tangan karena malu.


"Amora ... Amora. Mengaku cinta dan takut kehilangan saja malu-malu. Kayak anak ABG aja." ujar Mama Riana seraya menggelengkan kepalanya. Sementara Reyhan hanya tersenyum, tapi ia kembali terdiam setelahnya.


Benarkah Amora mulai ada rasa padaku? atau mama hanya salah mengira? Ah aku tidak ingin membiarkan hatiku terbang terlalu tinggi. Aku tidak ingin semakin kecewa karena nyatanya Amora masih mencintai Farhan. Aku akan melepaskan Amora jika benar mereka saling mencintai. Akan ku kubur dalam-dalam rasa cinta ini, biarlah rasa ini tak perlu Amora tahu. batin Reyhan seraya tersenyum pahit.


💕💕💕


Hai zheyeng 😘


Jaga kesehatan ya. Jangan lupa selalu dukung Reyhan dan Amora. Makasih yang selalu nungguin author sengklek ini up🙊🙊


Elepyyuuuuuu sekebon duren tetangga 🙊


Follow Ig ku yuk😂😂


Ig@septy_905


💕💕💕💕