
Happy reading zheyeng 😘
__________________
Amora berdiri di samping jendela apartment, memandang langit yang separuhnya telah kelam. Matahari perlahan menghilang di garis cakrawala sebelah barat, menyisakan beberapa cahaya yang berwarna jingga.
Senyum manis terbingkai indah di wajah wanita itu, menikmati keindahan alam yang di suguhkan begitu apik.
"Ayok, kita sholat Maghrib dulu." suara pria yang beberapa jam lalu mengucapkan ijab Qabul itu terdengar di belakang Amora. Amora menoleh, mendapati penampilan Reyhan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Pria itu mengenakan sarung dan baju Koko, tak lupa peci hitam yang berada di atas kepalanya. Amora takjub, ketampanan Reyhan bertambah berkali-kali lipat dari biasanya. Mampu menyihir Amora hingga diam tak berkutik di depannya.
"Hey, kau kenapa?" Reyhan mengibaskan tangannya di depan Amora yang melongo.
"Amora," Reyhan memanggil Amora sekali lagi karena wanita itu hanya diam memandangnya.
"Eh, iya. Kenapa?" Amora terkesiap. Ia mengalihkan pandangannya dan tersipu malu. Ada desir aneh yang tak sengaja melintas di hatinya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Reyhan memastikan.
"I-iya, aku baik-baik saja." jawab Amora gugup.
"Ayo ambil wudhu, kita sholat berjamaah." ujar Reyhan seraya tersenyum.
"Hah ...." Amora tertegun. Sudah berapa lama ia melupakan kewajibannya. Ia seorang muslim yang tidak taat, bahkan shalat saja bisa di hitung dengan jari selama setahun belakangan ini.
"Kamu ... mau kan sholat berjamaah denganku?" tanya Reyhan ragu.
Mata Amora berembun, ia terharu karna Reyhan mengajaknya sholat berjamaah. Tak pernah ia temui orang yang mengajaknya sholat berjamaah kecuali kakaknya. Selama ini, ia jauh dari agama dan Tuhannya. Selama ini ia terlalu menggebu mengejar dunia bahkan melupakan Tuhannya.
"Iya, aku mengambil air wudhu dulu. Tunggu saja di sana, aku tidak akan lama." Amora meninggalkan Reyhan yang di selimuti tanda tanya.
"Mengapa wajahnya berubah sendu?" tanya Reyhan dalam hati. Keningnya berkerut, menciptakan beberapa lipatan yang tak bisa di sembunyikan.
Beberapa jam lalu, ia mengucapkan janji suci di hadapan penghulu dan para saksi. Pernikahan mereka di hadiri beberapa orang saja. Selain penghulu hanya ada Hanif, Rasty, Ibu Reyhan dan Farhan. Tak ada dekorasi mewah dan baju bak Cinderella, tak ada riasan pengantin ataupun tamu yang bejibun. Karena mereka menikah secara sirih dan sah di mata agama. Tapi meski begitu, Reyhan berharap ini adalah pernikahan satu-satunya dalam hidup. Ia tidak ingin ada perpisahan dan pernikahan lainnya.
Mengajak Amora sholat merupakan kewajibannya, menjadi imam yang baik bagi Amora meski ia hanya seorang muhalil. Ia berharap Amora akan merubah keputusannya saat tiga bulan pernikahan mereka berakhir. Ia berharap Amora akan memilihnya dan melepaskan Farhan. Meski ia tahu saat ini Amora masih sangat mencintai Farhan, tapi ia bertekad akan membuat cinta itu beralih padanya dengan apa adanya.
Reyhan berjalan menuju kamar, menggelar sajadah untuk dirinya dan Amora. Ia melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup.
Mengapa lama sekali? gumamnya dalam hati.
"Mungkin sebentar lagi." ujarnya menenangkan diri sendiri.
Lima menit hingga sepuluh menit berlalu, tapi Amora belum juga keluar dari kamar mandi. Pintu yang berdiri kokoh di sana belum juga terbuka, membuat Reyhan khawatir dan penasaran. Ia tak kuasa menahan rasa penasaran yang sedari tadi menyerangnya.
Pria itu berjalan menuju kamar mandi, mengetuk pintu yang ada di hadapannya.
Tok ... tok ... tok ...
"Amora, mengapa lama sekali? Apa kau baik-baik saja?" tanya Reyhan. Telinganya menempel di balik pintu kamar mandi.
"Iya, aku baik-baik saja. Tunggu sebentar." terdengar teriakan samar dari dalam kamar mandi.
"Jangan lama-lama, nanti keburu waktu Maghrib habis." ujar Reyhan seraya menjauh.
Tak ada sahutan sama sekali, Reyhan memilih duduk di sudut ranjang seraya menunggu Amora yang masih belum keluar dari kamar mandi. Matanya tak berpindah sedikitpun dari pintu kamar mandi, berharap akan segera terbuka dan menampilkan wanita yang ia cintai. Tapi, jarum jam telah berputar cukup lama bahkan waktu Maghrib hampir habis. Membuat Reyhan yang terbiasa mengerjakan sholat tepat waktu menjadi gelisah. Ingin rasanya ia masuk ke kamar mandi untuk melihat apa yang Amora kerjakan hingga selama ini, tapi tak mungkin ia lakukan karena menurutnya itu tidak sopan. Sehingga ia hanya berani menunggu di luar dan berharap Amora segera keluar.
"Nawaitu ... ah, nawaitu apa? aku lupa. Astaga." Keluhnya frustasi. Ingin keluar mengambil ponsel untuk mengambil ponsel tapi ia malu jika Reyhan memergokinya dan bertanya nantinya. Ingin meminta Reyhan mengajarinya, ia terlalu malu.
"Ya Tuhan, apa niatnya? aduh, bagaimana ini." ia mengerang frustasi. Ia berusaha mengingat bacaan niatnya, hingga memijit pelipisnya yang berdenyut karena di paksa terus menerus untuk mengingat.
Ia mengangkat kedua tangannya,
"Ya Tuhan, turunkan mukjizatmu. Kirimkan bacaan wudhu beserta caranya. Aku butuh mukjizatmu sekarang." ujarnya lemas. Ia mengacak rambutnya hingga membuat rambut yang semula rapi itu acak-acakan.
"Aku frustasi. Ah, malu sama anak SD." ucapnya pada diri sendiri.
"Apa aku jujur saja pada Reyhan?"
"Ah tidak-tidak. Aku akan di ejek Reyhan seumur hidup." ia menggeleng kuat-kuat. Membayangkan akan menjadi bahan ejekan pria itu, membuat Amora mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan pada Reyhan.
"Tapi, aku harus bagaimana? apa aku bilang saja kalau aku sedang menstruasi? atau bilang saja kalau aku sakit perut?" ide konyol bertebaran di kepalanya. Membuatnya harus memilih salah satu tapi hatinya tak setuju.
"Aku harus jujur, mau di ejek atau tidak itu urusan nanti." begitu pikirnya. Ia pun melangkah menuju pintu kamar mandi yang sengaja ia tutup rapat. Tangannya ragu untuk meraih handle pintu. Tangannya hampir menyentuh handle pintu, tapi kembali ia tarik dan malah ia gigit jari telunjuknya.
"Astaga, apa aku siap jika akan di ejek Reyhan?" gumamnya ragu. Ia pun berbalik, mengurungkan niatnya. Ia melihat gelap mulai merambat dari jendela kecil yang ada di sudut kamar mandi.
"Ah, tapi ini mulai malam. Bagaimana kalau waktu Maghribnya habis? Ah terserahlah, bodo amat. Perkara ejekan pikir nanti." serunya seraya berlari meraih handle pintu dan membukanya. Kepalanya menyembul, matanya mencari seorang pria yang berstatus menjadi suaminya itu. Ia menemukan Reyhan duduk sudut ranjang sembari membaca Al Qur'an kecil yang berada di genggamannya.
"Rey," panggilnya pelan. Sangat pelan bahkan hampir saja Reyhan tidak mendengar.
Kepala Reyhan terangkat, melihat kepala Amora yang menyembul membuat Reyhan segera menutup Al Qur'an yang di bacanya.
"Kau sudah selesai?" senyumnya mengembang. Ia berdiri dan menyimpan Al Qur'an di atas nakas. Tapi Amora tidak bergerak dari tempatnya.
"Ayo, tunggu apalagi?" tanya Reyhan dengan heran.
"Aku tidak bisa." lirih Amora.
Reyhan mengernyitkan dahinya.
"Tidak bisa apa?" tanya Reyhan bingung.
"Aku ..." Amora menggantung ucapannya membuat Reyhan semakin bingung.
"Aku lupa cara wudhu." ucap Amora dengan sangat pelan tapi masih bisa di dengar oleh Reyhan. Wanita itu menunduk malu.
"Hah ....?" Reyhan tercengang. Rahangnya jatuh ke bawah.
🌷🌷🌷
Hai zheyeng 😘
Sehat selalu ya buat kalian.
Makasih atas dukungannya 😘
dukungan dari kalian semua adalah moodbooster bagi author receh seperti aku ini. Makasih ya🥰
Jangan lupa bahagia ❤️