
Seorang wanita terbaring lemah di dalam ruangan ICU dengan tubuh yang terpasang banyak alat di tubuhnya. Evan hanya bisa melihat wanita itu dengan perasaan hancur dari balik kaca transparan yang ada di sana.
"Sania, ku harap kamu bisa melalui semua ini. Aku janji, akan menikahimu setelah kamu sembuh." lirih pria itu dengan mata yang berembun. Jemarinya menyentuh kaca yang menjadi penghalang di antara mereka, seolah menyentuh wajah orang yang di kasihinya.
Sentuhan di bahunya membuatnya tersentak, ia segera menoleh untuk mengetahui siapa yang ada di belakangnya. Ia terkejut, netranya melebar ketika mendapati Amora dan Reyhan yang berada di hadapannya.
"A-amora," lirihnya tak percaya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Amora sedih.
Evan terkesiap, ia sempat menatap rindu pada wanita yang pernah singgah di hatinya itu. Tapi dengan cepat ia menepis segala rasa yang sempat mampir kembali untuk menyentuh hatinya yang sudah menjadi milik Sania.
"Ia sudah koma selama tiga hari dan sampai sekarang Sania belum sadar." ucap Evan seraya kembali menatap wanita yang ada di balik kaca tersebut.
Amora ikut mengintip sahabatnya dengan perasaan sedih, Evan bergeser untuk memberikan ruang pada Amora. Ia menjabat tangan Reyhan dan bertukar kabar.
"Mengapa ia bisa seperti ini?" tanya Amora tanpa mengalihkan pandangannya. Bisa ia dengar dengan jelas helaan napas Evan yang terasa berat.
Pria itu menyeret langkahnya menuju kursi tunggu yang berada tak jauh dari mereka. Menghempaskan tubuhnya yang lelah seraya menatap ke atas.
Reyhan menyentuh bahu Amora dengan lembut sehingga membuat Amora menoleh, Reyhan memberi isyarat dengan lirikan mata. Amora pun mengangguk lalu berbalik, ia ikut menyusul Evan untuk duduk.
"Apakah masalahnya begitu berat?" Amora menatap Evan menunggu jawaban.
Evan hanya mengangguk lemah, ia menghapus sudut matanya yang berair.
"Ya, sangat berat." Evan menghela napasnya yang sesak.
Sementara Amora hanya diam, dan Reyhan ikut menyimak seraya tetap berdiri di sebelah istrinya.
"Sania mengidap HIV AIDS." kata Evan.
"Astaghfirullah," Amora dan Reyhan terkejut bukan main.
"Dan anak yang ia kandung, beresiko tinggi untuk tertular."
Amora tak bisa lagi untuk membendung air matanya. Bagaimana pun sikap Sania di masa lalu, ia tak bisa mengabaikan kebersamaan mereka sebelumnya. Ia masih sangat menyayangi Sania, lebih dari seorang sahabat.
Reyhan mencoba untuk menenangkan istrinya, ia ikut duduk di sebelah Amora dan mengusap bahu Amora yang bergetar karena tangis.
Ia tak menyangka sahabatnya akan mengalami hal seperti ini.
Ketiganya hanya terdiam di lorong rumah sakit itu dengan pikiran masing-masing. Hanya terdengar isak tangis Amora yang pilu.
"Aku baru mengetahuinya kemarin, saat memeriksanya. Aku tidak sengaja menemukan Sania sudah bersimbah darah dengan luka yang menganga di lengan kirinya. Untung saja aku belum terlambat, ia kehilangan banyak darah dan kondisinya sangat kritis. Bayinya terpaksa harus lahir dengan operasi agar selamat." jelas Evan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dimana sekarang bayi itu?" tanya Amora pada Evan.
"Ada di ruangan khusus." ujarnya.
Evan membawa Amora dan Reyhan ke ruangan bayi. Pria itu menunjuk box kaca yang berisi bayi laki-laki yang sedang tidur dengan tenang.
"Dia sangat lucu," ujar Amora dengan senyum mengembang. Ia menatap wajah bayi itu yang sangat mirip dengan Sania.
"Ya, dia sangat lucu. Apakah kamu mau juga, sayang?" tanya Reyhan dengan jahil.
"Tentu aku mau. Siapa yang tidak mau jika di berikan makhluk kecil selucu ini?"
"Nanti kita buat yang tidak kalah lucu dari ini." bisik Reyhan di sela tawanya. Sontak saja bisikan Reyhan membuat wajah Amora memerah, ia menatap Reyhan dengan marah.
"Apa kau tidak malu di dengar oleh Evan?"
"Tidak. Kenapa harus malu? Kita ini suami istri, jadi mengapa harus malu?"
"Terserah kau saja!" kata Amora seraya mengerucutkan bibirnya.
Evan yang melihatnya pun hanya tertawa kecil. Ia pun turut merasa bahagia karena akhirnya Amora mendapatkan seseorang yang bisa membuatnya bahagia. Ya, meski kebahagiaan itu bukan darinya, tapi setidaknya Amora sekarang bahagia. Apapun alasannya, yang pasti Amora telah merasakan kebahagiaan dan ia harus ikut bahagia meski ia tak bisa memilikinya.
Mereka bertiga keluar dari ruangan itu dengan tawa kecil, menuju ruangan Sania kembali seraya berbincang tentang baby boy yang baru saja mereka kunjungi.
"Kami akan pulang terlebih dulu, besok kami akan kembali." Amora berpamitan pada Evan.
"Terimakasih sudah mau menjenguk Sania,"
"Aku akan terus mengunjungi sahabatku itu, dan juga keponakanku yang menggemaskan. Tolong jaga Sania dan keponakanku baik-baik, " pesan Amora pada Evan.
"Pasti." ucap Evan seraya tersenyum meyakinkan.
Amora dan Reyhan pun berpamitan pada pria yang kini berdiri seorang diri melihat kepergian Amora dan suaminya. Ia berjalan kembali memasuki ruangan Sania. Pria itu duduk di satu kursi yang ada di sana, menggenggam erat jemari yang sangat kurus itu.
"Segeralah sadar agar kamu bisa melihat malaikat kecil yang menggemaskan. Aku ingin kita merawatnya bersama." ia mengecup lembut jemari yang lemah itu.
"Apa kau tahu? malaikat kecil itu sangat menggemaskan. Ia sangat lucu sekali, wajahnya sangat mirip denganmu. Ku harap, ia nanti tidak akan secerewet dirimu. Hahaha." Evan tertawa sendiri. Mengingat betapa cerewetnya Sania ketika sehat.
"Ohya tadi Amora beserta suaminya datang menjengukmu. Bahkan ia melihat baby boy, katanya ia sangat lucu dan menginginkan anak juga. Lihatlah, bahkan orang lain ingin sekali memiliki malaikat kecil seperti milikmu. Apa kamu tidak mau melihatnya juga?"
"Bangunlah. Kita akan merawatnya bersama. Ku harap kau segera sadar dan sembuh, agar kita bisa menikah. Aku akan menjadi suami dan ayah yang baik bagi baby boy." ucapnya seraya tersenyum. Ia menekan dalam-dalam rasa sakit yang menggerogoti hatinya.
Ia pun meninggalkan Sania seorang diri di ruangan itu setelah panjang lebar bercerita.
Sementara itu, Amora baru menyelesaikan sholat Maghrib berjamaah bersama Reyhan dan Mama Riana ketika ponselnya berdering. Dengan cepat ia menjawab panggilan.
Matanya melebar dengan mulut yang menganga ketika mendengar kabar duka dari seseorang yang ada di seberang telepon.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un," lirihnya di susul bulir bening jatuh di wajahnya. Reyhan dan Mama Riana yang mendengarnya pun segera mendekat.
"Siapa yang meninggal, Ra?" tanya Reyhan pada istrinya.
Amora hanya diam dan terlihat shock, Reyhan mengambil alih ponsel yang ada di genggaman istrinya.
"Halo, saya Reyhan suami Amora. Siapa yang meninggal?"
"Apa?" Reyhan pun tampak terkejut setelah mendengarnya.