
"Berhenti memaki istri saya!" teriak Reyhan dengan amarah yang berkobar. Netranya terpancar mengerikan menatap tajam pada manik hitam milik mantan mertua sang istri. Ia berjalan dengan cepat menuju ke tempat di mana Amora dan Ibu Farhan berada. Ia menghampiri sang istri dan memeluknya serta mengusap lembut wajah sang istri yang bersimbah air mata. Perasaannya tidak enak ketika berada di dalam meninggalkan Amora bersama sang mantan mertua sehingga ia cepat menghampiri Amora dan benar saja, Amora sedang tidak baik-baik saja.
"Jangan pernah berani-beraninya anda menghina atau bahkan memaki istri saya! Jangan pernah menyakiti istri saya!" teriak Reyhan dengan wajah yang memerah.
"Reyhan? Tante tidak bermaksud begitu. Lagi pula siapa yang menyakiti Amora?" wanita itu berusaha mengelak dengan tubuh yang gemetar. Seumur-umur ia tidak pernah melihat Reyhan semarah ini. Selama ini ia mengenal Reyhan sebagai pribadi yang lembut dan tidak pernah marah pada siapapun. Tapi hari ini dengan mata kepalanya sendiri ia melihat kemarahan keponakannya. Dan dia merasa sangat takut.
"Jangan mengelak! Anda sudah menyakiti istri saya dan membuatnya menangis! Saya tidak terima!" teriak Reyhan semakin kesal. Amarahnya serasa sudah sampai di ubun-ubun. Ingin meledak begitu saja, menyembur keluar tanpa bisa terkontrol lagi. Hatinya sangat sakit mendapati sang istri sedang di maki habis-habisan oleh kakak dari Mamanya itu.
"Reyhan, apa sih yang telah perempuan itu lakukan padamu sehingga kamu sampai semarah ini? Selama ini Tante tidak pernah melihatmu marah-marah bahkan sampai begini."
"Saya akan marah jika ada yang berani menyakiti orang yang sangat saya cintai. Tidak peduli itu siapa, jika berani menyakiti hati atau fisik istri saya, maka urusannya dengan saya!"
"Kamu itu terlalu bucin, Rey. Lagi pula apa yang di harapkan dari Amora?" cibir wanita.
Reyhan menatap Ibu Farhan dengan semakin marah
"Berhenti berbicara dan mengatakan apapun jika lidahmu berharga!"
Ibu Farhan mendelik setelah mendengar ucapan keponakannya. Wanita itu langsung terdiam seribu bahasa. Tapi diam-diam meremat kedua tangannya.
Urat-urat di wajah pria itu terlihat menonjol menahan marah. Ia benar-benar tidak terima dengan apa yang telah tantenya lakukan padanya.
Amora menatap suaminya dengan sedih, ia sebenarnya juga takut mendapati sikap Reyhan yang seperti ini. Ia pun sama dengan mantan mertuanya, baru saat ini ia melihat Reyhan yang begitu marah. Ia juga merasa terkejut dan tidak percaya, sosok pria yang selama ini sangat lembut menyimpan pula amarah yang begitu besar. Terlebih lagi itu menyangkut dirinya. Ada rasa haru yang menyeruak memenuhi relung jiwanya. Tak pernah sebelumnya ia merasakan begitu amat sangat di cintai oleh seseorang. Bersama Reyhan, ia baru merasakan menjadi orang yang begitu berharga.
Amora meraih tangan Reyhan lalu membawanya dalam genggaman. Reyhan yang masih menatap marah pada Ibu Farhan pun menoleh, pandangannya ia alihkan pada wanita yang sangat di cintainya.
"Sayang," lirihnya seraya mengecup pucuk kepala istrinya. Menatap sendu pada mata yang baru saja menangis itu.
"Jangan terlalu marah. Aku baik-baik saja." ucapnya pada Reyhan. Ia mengulas senyum tipis untuk menenangkan.
"Jangan membohongiku dan jangan coba-coba untuk membela wanita ini!" kata Reyhan tidak suka.
"Aku tidak membela siapa pun, Rey. Aku memang baik-baik saja sejak awal. Jangan begini. Bahkan aku tidak mengenali dirimu." lirih Amora sedih. Ia tidak ingin melihat Reyhan yang kasar dan di kuasai Emosi.
Wajah yang semula tegang karena amarah itu berangsur mengendur setelah melihat istrinya yang sedikit ketakutan. Ia pun merasa bersalah dan segera memeluk Amora dengan erat.
"Sayang ... Maafkan aku. A-aku terlalu takut melihatmu terluka. Aku tidak terima jika wanita itu menghina kamu seenaknya." ia mengepalkan tangannya di belakang punggung Amora. Sedikit sisa emosi dan kemarahan membuatnya kembali tersulut ketika mengingat apa yang telah di lakukan sang Tante pada istri yang sangat di cintainya.
"Aku tidak rela jika kamu sampai tersakiti meski hanya dengan ucapan. Aku tidak rela, sayang."
Amora mengangguk di dalam rengkuhan suaminya. Di dalam hatinya, ia sangat bersyukur karena di cintai begitu dalam oleh Reyhan. Tak pernah ia merasakan cinta yang sedalam dan setulus ini sebelumnya.
"Jangan membelanya, aku tidak suka."
"Aku tidak akan membelanya. Hanya saja aku mohon, jangan terlalu emosi. Karena jujur aku takut." Rasa trauma pada orang yang kasar dan suka marah-marah membuat Amora takut. Ia tidak ingin memiliki suami yang sama seperti saat pertama kali. Ia tidak ingin mempunyai suami yang temperamental seperti Farhan. Sudah cukup ia merasakan pernah punya suami seperti itu dan ia ingin tidak lagi merasakan hal yang sama.
"Maafkan aku, karena sudah membuatmu takut." Reyhan mengeratkan pelukannya. Ia merasa sangat bersalah karena membuat istrinya takut dan melihat ia kehilangan kendali seperti ini. Ia pun bingung mengapa dirinya sangat emosi dan kehilangan kendali sebegitu parah. Karena selama ini seemosi apapun dirinya, ia tidak akan sampai kehilangan kendali dan mampu menguasai diri.
Reyhan melepaskan dekapannya, merangkum wajah istrinya. "Masuklah sayang, biar aku yang menyelesaikan semua ini."
Amora menggeleng.
"Aku ingin kita hadapi bersama atau jika tidak, kita masuk bersama."
"Sayang, aku mohon. Masuklah dan beristirahat lah. Biar aku yang menyelesaikan semuanya dan akan ku pastikan mantan mertua kamu ini tidak akan pernah bisa mengganggu kamu lagi." Amora terdiam sebentar, lalu mengangguk setelah beberapa saat sehingga membuat Reyhan tersenyum.
"Istri yang pintar. Penurut sekali, sih. Jadi makin cinta." ujar pria itu seraya mengacak rambut Amora dengan gemas dan Amora hanya tersenyum manis.
"Aku masuk, ya. Jangan terlalu emosi," ujarnya mengingat kan.
"Siap komandan." Reyhan bersikap hormat pada istrinya. Mengangkat tangan kanannya membentuk hormat dengan senyum jenaka membuat Amora terkikik geli. Rasa takut serta sedih yang beberapa menit lalu menghinggapinya kini hilang dengan cepat karena dekapan serta sikap jenaka dari suaminya.
Ia pun menyeret langkahnya meninggalkan Reyhan bersama sang mantan mertua. Ia melirik sebentar pada Ibu Reyhan yang menatapnya dengan sinis dan masih di liputi amarah yang besar.
"Tidak usah pamit. Orang seperti ini tidak bisa di perlakukan dengan baik." ujar Reyhan yang membuat Amora tersentak dan menoleh pada suaminya.
"Rey ...." Amora ingin melayangkan protes, tapi dengan cepat Reyhan mengangguk memberi peringatan.
"Masuklah!"
Amora hanya bungkam dan tidak dapat membantah ketika ia melihat wajah Reyhan yang tampak sangat serius.
"Baiklah." lirihnya seraya melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Ia terus berjalan tanpa menoleh lagi dengan di iringi tatapan oleh Reyhan hingga ia menghilang dibalik pintu. Tatapan Reyhan berpindah pada wanita yang kini menatapnya dengan ketakutan.
"Apa yang anda inginkan?" tanya Reyhan tanpa basa-basi.
______________
*Rasa trauma akan selalu ada di setiap masing-masing orang. Apapun itu, yang pernah membuatnya sakit dan takut akan membekas di ingatannya dan akan sulit hilang serta bisa membutuhkan waktu seumur hidup untuk menghilangkannya.