Suami Sementara

Suami Sementara
Di ruangan Reyhan


Happy reading zheyeng 😘


__________________


Farhan menatap Reyhan dengan kesal. Amarahnya hampir saja meledak, tapi ia berusaha menahannya.


"Kamu jangan bermimpi! Amora itu cinta mati sama aku, jadi buang jauh-jauh harapan yang tidak akan mungkin terjadi itu!" ucap Farhan seraya menatap Reyhan tajam.


"Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan di pilih oleh Amora untuk menjadi suaminya seumur hidup. Aku atau kamu!" tantang Reyhan. Ia tersenyum miring.


Farhan berdiri, ia sangat marah kali ini. Ingin rasanya ia meremukkan tubuh pria yang ada di hadapannya saat ini. Kecemburuan dan obsesi menguasai dirinya, membuatnya tak perduli meski mereka masih bersaudara. Ia menghampiri Reyhan yang sedang duduk santai bersandar di kursi kebesarannya.


"Kami tidak akan pernah memiliki Amora selamanya. Kamu akan tetap jadi suami sementara! Kamu hanya bayangan yang tidak akan pernah jadi nyata! akulah suami Amora yang sebenarnya! Jadi jangan pernah kamu berharap lebih!" Reyhan menggebrak meja kerja Reyhan sehingga membuat apa yang ada di atasnya bergetar.


Reyhan menatap Farhan datar. Wajahnya tampak tenang dan tak terpancing emosi. Sedangkan Farhan tampak jelas sekali sedang di kuasai amarah yang meluap.


Urat-urat di wajahnya menonjol, giginya bergemeletuk menahan marah. Amora hanya akan menjadi miliknya, tidak ada yang boleh memiliki wanita selain dirinya. Ia tidak akan pernah melepaskan wanita itu, ia tidak ingin kehilangan wanita sebaik Amora.


Pintu kerja Reyhan terbuka, membuat kedua pria yang sedang bersitegang itu menoleh secara bersamaan. Tampak seorang wanita paruh bayah masuk dengan wajah sumringah. Reyhan bangun dari duduknya dan menghampiri wanita itu. Ia meraih tangan wanita yang merupakan Ibunya itu dan mencium punggung tangan wanita itu dengan takzim.


"Ibu Ratu, apa gerangan yang membuatmu kesini?" goda Reyhan.


"Apa aku tidak boleh mengunjungi anak sendiri?" protes wanita yang masih terlihat muda dari umur sebenarnya itu.


"Boleh, dong." Reyhan merangkul kedua bahu mamanya dan mengelusnya lembut.


Farhan berusaha menekan amarahnya, menguasai emosi yang tengah mendidih. Ia memaksakan senyum lalu berjalan menghampiri Ibu Reyhan dan mencium punggung tangan wanita itu.


"Tante apa kabar?" ia berusaha mengulas senyum, menekan kembali amarah yang hendak meledak.


"Allhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?" tanya mama Reyhan dengan lembut.


Wanita itu melirik anaknya yang sedang melempar pandangannya ke arah lain. Tak mau menatap wajah Farhan yang terpampang jelas di depannya.


"Bukankah sudah menikah dengan Sania? harusnya lebih bahagia, dong. Siapa tahu nanti bisa memberikan kamu anak. Dan Ibu kamu bisa menggendong cucu. Karena kasihan Ibu kamu, dimana berada selalu bilang pengen punya cucu." sindir Ibu Reyhan.


Farhan hanya mengangguk tak menanggapi. Ia melirik jam rantai berwarna hitam yang melingkar di lengannya. Ia pun pamit untuk pulang.


"Kalau begitu, saya pamit pulang ya tante." Farhan pamit, ia berjalan keluar tanpa berniat pamitan pada Reyhan membuat Mama Reyhan mengerutkan keningnya. Ia heran dengan perubahan sikap mereka yang terlihat tidak akrab dan sedang ada masalah.


"Kalian bertengkar?"


Reyhan menggelengkan kepalanya. Ia menuntun mamanya untuk duduk ke sofa miliknya dengan hati-hati.


"Mama duduklah, nanti kaki mama akan pegal jika lama berdiri."


"Kamu memang selalu perhatian dan baik. Mama bangga memiliki anak seperti kamu." Wanita itu mengelus lengan Reyhan dengan sayang.


"Ada keperluan apa Farhan kesini? " imbuhnya. Rasa penasaran belum mau pergi rupanya.


"Biasa, ma. Cuma mampir kebetulan lewat."


"Kerja apa dia sekarang?" Reyhan mengangkat kedua bahunya menanggapi.


"Laki-laki kok tidak mau kerja, laki-laki apa seperti itu. Pekerjaannya hanya Luntang langung tidak jelas. Kurang duit larinya ke kamu. Butuh ini itu ngadu ke kamu, memangnya kamu Bapaknya!" kesal Mama Reyhan yang bernama Arini itu. Dari dulu ia tidak menyukai sikap Farhan dan Ibunya. Selalu melihat orang dengan sebelah mata tapi tak sadar dengan apa yang mereka punya. Menuntut kesempurnaan dari orang lain tanpa melihat bagaimana dirinya sendiri.


🌸🌸🌸


Maaf ya readers, dikit dulu. Ini author paksain nulis padahal mata dah lima watt.


Jangan lupa like dan komentar, hadiahnya di banyakin. Biar Author semangat dan siapa tau jadi semangat buat crazy up 🀭