
Happy reading zheyeng 😘
_______________________
Sania keluar dari kamar dengan mata bengkak. Jejak air mata serta bekas tamparan tangan Farhan terlihat sangat jelas di wajahnya. Ibu Farhan yang melihat menantunya itu langsung menghampiri dengan wajah sumringah tanpa rasa iba sedikitpun.
"Akhirnya kamu keluar juga."
Sania melihat wanita itu dengan malas. Ia menghembuskan napas kasar.
"Ada apa Bu?"
"Ibu kan mau pergi arisan nanti sore,"
Sania mengernyitkan dahi.
"Lalu?"
"Ya Ibu kan nggak punya uang. Kamu punya uang nggak?"
Sania melongo. Bukannya menanyakan keadaannya tapi malah minta uang. Sania tak habis pikir dengan wanita yang di panggil Ibu ini. Tidak ada belas kasihan sama sekali dengan dirinya yang telah di perlakukan tidak baik oleh anak kandungnya.
"Ibu minta uang buat arisan nanti." ujar Ibu Farhan tanpa ragu sehingga membuat Sania semakin kesal.
"Sania tidak punya uang." Sania melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Jangan bohong. Sama mertua sendiri pelit. Bagaimana pernikahan kamu dan Farhan bisa bahagia kalau sama Ibu suamimu aja pelit." Sania berhenti, kedua tangannya terkepal dengan geram. Sedetik kemudian ia berbalik dan menghampiri kembali mertua yang tidak tahu malu itu.
"Uang Sania baru di ambil sama Mas Farhan. Sania tidak punya uang."
"Kan kamu masih punya uang simpanan. Ayolah, jangan pelit begitu. Lihat Amora, dia pelit dan sekarang berpisah dengan Farhan. Kamu mau jadi janda juga?"
Sania terdiam, mencerna baik-baik ucapan wanita yang ada di hadapannya ini.
"Butuh berapa?" tanya Sania akhirnya.
"Nggak banyak kok. Cuma Sepuluh juta."
"Apa? sepuluh juta?" Sania mendelik,
Ibu Farhan mengangguk tanpa dosa.
"Uang segitu Ibu bilang, cuma? itu banyak Bu."
"Ya sudah kalau kamu nggak mau ngasih, Ibu tinggal bilang ke Farhan untuk menceraikan kamu secepatnya." ancam wanita itu dengan licik.
"Oke, oke. Nanti Sania transfer." Sania mengalah.
"Bagus. Gitu dong, jadi menantu baik dan penurut." senyum Ibu Farhan semakin lebar.
Sania hanya menggelengkan kepalanya, lalu beranjak pergi meninggalkan rumah Ibu mertua yang mata duitan itu di iringi senyum puas dari Ibu Farhan.
Sesampainya di apartemen yang di belikan oleh bosnya beberapa waktu lalu, wanita itu menghempaskan tubuh lelahnya ke atas ranjang. Ia berbaring melihat langit-langit kamar berwarna putih. Ia memijit pelipisnya yang terasa pening. Ponselnya berdering tapi ia abaikan hingga benda berbentuk pipih itu senyap kembali. Tapi beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering sehingga membuatnya semakin kesal.
Ia meraih tas yang ia bawa tadi, mengambil ponsel itu dan melihat nama mertuanya di layar ponsel. Dengan kesal ia gerakkan jempolnya untuk mengangkat panggilan telepon dari Ibu mertuanya itu.
"Kok belum di transfer? Ibu butuh uang itu secepatnya." terdengar suara tinggi di seberang sana sehingga membuat Sania menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Transfer sekarang atau Ibu akan menyuruh Farhan untuk menceraikan kamu!"
Klik. Sambungan telepon terputus. Sania melemparkan ponselnya ke ranjang. Ia berdiri, menyapu semua alat makeup yang ada di meja rias dengan kedua tangannya sehingga semuanya jatuh berserakan di lantai.
"Aku benci kalian!" teriaknya frustasi. Ia menjambak rambutnya yang panjang tergerai. Kepalanya hampir meledak dengan kelakuan anak dan Ibu itu. Tak lama terdengar kembali dering ponsel. Ia menyambar gawainya dengan marah.
"Apa lagi?" tanya Sania dengan berang. Nyatanya Ibu Farhan kembali menghubunginya.
"Berani kamu ya membentak saya!"
Sania diam, mengatur napas yang naik turun bahkan terasa akan meledak.
"Transfer uangnya sekarang!"
Belum sempat Sania berbicara, telepon di matikan. Wanita itu memejamkan mata menahan emosi yang sudah berada di atas ubun-ubun. Ia menghubungi seseorang.
"Halo sayang. Ada apa?" terdengar suara berat seorang pria di seberang sana.
"Bos, kirimkan aku uang. Aku sedang butuh uang sepuluh juta."
"Hanya sepuluh juta?"
"Iya, cuma sepuluh juta."
"Baiklah, aku transfer sekarang. Tapi nanti malam aku mau kamu temenin."
"Iya, pasti dong."
"Oke. Datang ke hotel biasanya." Setelah itu sambungan telepon terputus, tak lama ia menerima pesan jumlah transfer masuk ke rekeningnya. Ia segera mengirim uang itu ke rekening Ibu Farhan.
"Keluarga itu benar-benar seperti lintah." ucapnya dengan kesal. Ia kembali melempar ponselnya ke atas ranjang dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Berendam sebentar menjelang malam agar bisa memberikan yang terbaik untuk bosnya. Ia tak ada pilihan lain untuk memenuhi menunjang kehidupannya dan keluarga Farhan. Ia rela menjadi simpanan bos berkepala plontos itu agar tetap hidup.
Sementara itu Amora untuk Reyhan tiba di rumah ketika matahari mulai terbenam. Keduanya segera mandi dan bersiap untuk melaksanakan ibadah Sholat Maghrib. Sehari semalam di rumah mama Riana meninggalkan kesan luar biasa di hati Amora. Ia kembali merasakan keutuhan keluarga yang sudah lama tak ia rasakan. Kehangatan yang menjalar hingga relung hatinya yang terdalam.
Setelah menunaikan kewajiban, keduanya duduk di depan tv dengan sofa singlebad berwarna abu tua yang cukup di duduki berdua.
"Kenapa kamu tidak cerita kalau sudah di pindahkan ke bagian lain?" tanya Reyhan di sela obrolan mereka. Amora mengerlingkan mata, bingung akan menanggapinya.
"Pasti mama yang cerita ya?" tebak Amora dan di jawab dengan anggukan oleh Reyhan.
"Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir." ujarnya seraya mengambil keripik kentang yang ada di dalam toples kecil berbentuk bulat. Amora memasukkan keripik itu ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya.
"Setidaknya kamu harus cerita apapun hal yang kamu alami," ujar Reyhan menatap Amora dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan.
"Kita ini suami istri, Amora. Meski aku hanya suami sementara, tapi di mata agama dan Allah pernikahan kita ini sah. Aku hanya berusaha menjadi suami yang baik, yang mengerti keadaan istrinya. Aku ingin tahu semua tentang kamu dan jika bisa aku pasti akan membantu kamu."
Amora terdiam. Ia tak biasa menceritakan kesusahan serta kegagalannya kepada siapapun. Tadi ketika di rumah Mama Riana, entah kenapa ia bisa bercerita tanpa beban dan mengatakan kalau ia sudah di pindahkan ke bagian lain. Tak di sangka mama Riana menceritakan pada Reyhan tentang keadaannya.
"Katakanlah, supaya aku bisa membantumu."
"Aku tidak apa-apa. Lagi pula aku sudah sangat nyaman di bagian marketing," Amora mengulas senyum dan menenangkan.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Oh ya, terimakasih atas perhatiannya. Aku akan tidur duluan." ujar wanita itu seraya berdiri meninggalkan Reyhan.
Setelah kepergian Amora, Reyhan mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
"Cari tahu siapa yang menggantikan posisi Amora serta cari tahu apa yang menyebabkan Amora di pindahkan ke bagian marketing!" perintah Reyhan pada orang di seberang telepon. Pria itu segera mengakhiri sambungan telepon dan menggenggamnya dengan kesal. Rahangnya mengeras dengan emosi yang membakar jiwa. Ia tidak suka jika ada yang menggangu atau menyakiti orang yang ia sayang.
🌷🌷🌷
Hai zheyeng 😘
Jaga kesehatan ya. Makasih udah setia baca karya recehku 😘 salam sayang untuk kalian semua.