Suami Sementara

Suami Sementara
Aku merindukanmu


Seorang wanita menghambur ke dalam pelukan Reyhan yang tengah berbaring di brangkar rumah sakit.


"Aww ...." rintih pria itu ketika tak sengaja tangan Amora mengenai luka di beberapa bagian tubuhnya yang di tutup kain kasa.


"Ma-maaf Rey, aku tidak sengaja." ujar Amora seraya menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Ia menatap suaminya penuh kekhawatiran sembari memindai seluruh tubuh Reyhan.


"Mana yang luka? mana yang sakit?"


"Apa di sebelah sini? atau ... di sebelah sini?" tanya Amora dengan sangat khawatir. Ia mengabsen satu persatu bagian tubuh Reyhan sementara pria itu hanya terkekeh kecil melihat apa yang di lakukan istrinya.


"Kenapa kau malah tertawa? aku mengkhawatirkan kamu!" Amora mendelik. Kedua tangannya masih berada di bahu suaminya.


"Sakitnya di sini." Reyhan menunjuk dadanya seraya mencebik.


"Dimana? apakah itu sangat sakit? Tapi itu tidak terluka. Apa perlu aku panggilkan dokter?" Amora berdiri hendak memanggil dokter, tapi tangannya segera di tarik oleh Reyhan hingga wanita itu mengurungkan niatnya lalu kembali menoleh pada Reyhan yang memasang senyum jenaka.


"Duduklah, sayang. Aku tidak butuh dokter." ujarnya. Amora mengernyitkan dahi, menatap bingung pada suaminya yang masih terus menatapnya lekat.


"Kau bilang tadi sakit. Apa sekarang sudah tidak sakit lagi?"


Reyhan mengangguk seraya mengedipkan mata perlahan.


"Sekarang sudah tidak sakit lagi."


"Benarkah?"


"Iya."


"Apa kau yakin?"


Reyhan hanya mengangguk demi menanggapi pertanyaan sang istri yang di penuhi rasa khawatirnya yang berlebihan.


"Sini, duduklah!" Reyhan menepuk ranjang di sebelahnya yang kosong. Amora menurut saja meski sejuta pertanyaan dengan kebingungan masih menghinggapi segala perasaan serta pikiran.


"Sekarang sudah sembuh, sayang." kata Reyhan seraya mengusap wajah Amora dengan lembut. Ia menyelipkan beberapa helai surai coklat milik istrinya ke belakang telinga.


"Mengapa cepat sekali?"


"Karena obatnya sudah ada di sini,"


"Obat? obat apa?"


"Kamu obatnya."


"Hah?" Amora tak bisa untuk tidak terkejut. Bahkan mulutnya setengah terbuka karena ia benar-benar belum paham dengan semua kondisi yang menurutnya sangat rumit dan tiba-tiba. Semuanya terjadi begitu saja secara tiba-tiba dan beruntutan. Ketakutannya pada sikap Farhan yang menyeramkan, hingga kabar masuknya Reyhan ke rumah sakit dengan luka hampir di seluruh tubuh pria itu.


"Tadinya, sakit itu ada di sini. Di dalam sini." kata Reyhan seraya meletakkan tangan kanan Amora di dadanya. Amora masih belum mengerti, terlihat dari wajahnya yang menunjukkan kebingungan luar biasa. Tapi Reyhan tetap tersenyum bahkan kini mengecup punggung tangan wanita yang sangat ia cintai itu.


"Sakitnya itu karena rindu, sayang. Dan kini sakit itu sudah terobati karena kedatangan kamu. Kamu dokter cintaku."


"Rey? aku benar-benar khawatir dengan keadaan kamu dan kamu malah mengerjaiku?" tanya Amora tak percaya. Ia menarik tangannya yang di genggam Reyhan dengan cepat. Ia sengaja membalikkan badannya membelakangi Reyhan yang sedang terbaring. Pria itu bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang rumah sakit. Kembali menarik jemari sang istri. Meski mendapatkan penolakan, ia tidak berhenti di situ. Ia kembali meraih jemari lentik itu meski berkali-kali di tarik kembali oleh sang pemilik.


"Sayang, aku serius. Aku sangat merindukanmu. Cuma kamu obatnya." Amora bergeming. Ia membuang muka karena kesal telah di kerjai. Saat mendengar kabar Reyhan di rawat saja membuatnya hampir hilang akal. Terburu-buru mencari ojek agar cepat sampai. Bahkan ia meninggalkan Mama Riana yang masih mencari keberadaan tasnya saat di rumah. Dan setelah sampai sang suami malah mengerjainya.


"Maaf sayang. Bukan maksudku mengerjai kamu, tapi semuanya benar adanya. Aku sangat merindukanmu." Reyhan memeluk tubuh Amora dari belakang. Menyurukkan wajahnya ke ceruk leher sang istri dan mengendusnya pelan. Menghirup aroma tubuh wanita yang selalu menjadi candu baginya.


"Jangan marah. Aku tidak bisa jika kamu marah. Tolong maafkan aku ya. Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku baik-baik saja, apalagi sekarang ada kamu. Aku semakin baik-baik saja dan langsung sembuh."


"Mana bisa begitu."


"Bisa sayang. Buktinya sekarang bisa."


"Karena kamulah dokter cintaku." bisik Reyhan dengan mesra di telinga Amora. Wanita itu tersipu, entah mengapa ucapan Reyhan yang sedikit alay mampu membuatnya malu dan berbunga.


"Kenapa kamu seperti anak ABG yang baru merasakan jatuh cinta?" protes Amora di sela senyumnya.


"Kenapa memangnya?"


"Alay bin Lebay." cibir Amora. Ia melirik pria yang masih memeluknya dengan Posesif.


"Tapi kamu cinta 'kan?"


"Apa sih,"


"Jangan malu-malu. Malah kamu yang seperti anak ABG."


"Kok jadi aku?"


"Benar kan?"


"Mana ada."


"Ada sayang ada."


"Terserah!"


"Astaga! jangan marah-marah nanti cepat tua sayang."


"Memangnya kenapa kalau tua? kamu mau cari yang muda?" Amora melepaskan diri dari belitan sang suami. Kini matanya melotot menatap Reyhan dengan penuh penghakiman.


"Astaga. Aku salah lagi." keluh Reyhan menyesal.


"Kamu sih! Jangan bilang aku tua! Kalau kamu Sudah tidak suka, katakan! Jangan ...."


Cup ....


Satu kecupan mendarat di bibir Amora yang tadinya mengomel. Bibir itu terkatup mendadak dengan mata yang kini melebar sempurna.


"Reyhan,"


"Iya sayang." sahut Reyhan tanpa dosa. Bahkan senyumnya kini semakin melebar.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Kenapa? mau tambah?" pria itu menaikkan sebelah alisnya ke atas.


"Kau ...." belum sempat Amora kembali mengomel, Reyhan telah membungkam bibirnya.


"Aku merindukanmu, Amora." ucap Reyhan di sela ciumannya.


❤️❤️❤️


Jangan lupa like, komentar, hadiah dan votenya ya zheyeng 😘


Tetap semangat yah.


Sesulit apapun keadaannya, serumit apapun situasinya dan sesakit apapun prosesnya. Nikmati, jalani dan syukuri.


I LOVE YOU ZHEYENG 😘