Suami Sementara

Suami Sementara
Aku cemburu


Happy reading zheyeng 😘


______________________________


Reyhan duduk di ruang tamu seraya bermain ponsel, melihat beberapa video lucu di sebuah aplikasi. Sudah hampir satu jam ia menunggu Amora keluar kamar sejak wanita itu bilang akan bersiap. Tidak ada tanda-tanda kemunculan wanita cantik itu membuatnya gelisah. Sesekali ia melirik pintu kamar yang tak jauh dari tempatnya itu masih tertutup rapat. Ia menghela napas berat, menunggu merupakan hal yang paling membosankan. Tapi entah mengapa ia tak pernah bosan menunggu Amora membalas cintanya. Cinta terkadang bisa membuat orang hilang akal


Selang beberapa menit, pintu yang di tunggu Reyhan sedari tadi akhirnya terbuka. Ia segera menyimpan ponselnya ke dalam saku kemeja berwarna hitam yang ia kenakan. Ia berdiri lalu menyongsong kedatangan wanita yang di tunggunya sedari tadi.


"Kamu kenapa ...." Reyhan melongo, kata-kata yang tadinya akan meluncur malah tertahan di tenggorokan. Matanya diam tak bergerak, pandangannya jatuh pada wanita yang kini berdiri di hadapannya. Amora memakai gaun berwarna hitam dengan bahu yang terbuka. Rambut hitam panjangnya di biarkan tergerai.


"Cantik ...." gumam Reyhan tanpa sadar membuat Amora mengernyitkan dahi.


"Kamu bilang apa? aku tidak dengar." tanya Amora.


"Ti-tidak. Tidak apa-apa, lupakan!" Reyhan akhirnya tersadar, ia menggaruk kepalanya. Pria itu salah tingkah.


"Jelas-jelas kamu memujiku cantik, kenapa sekarang tidak mengaku!" Amora melotot sedangkan kedua tangannya berada di pinggang. Reyhan tertawa kecil, wanita ini selalu bisa membuatnya tersenyum dengan semua tingkahnya yang menggemaskan.


"Aku tidak bilang apa-apa, kamu saja yang terlalu percaya diri." cibir Reyhan. Ia tak mengaku dengan apa yang ia ucapkan barusan.


"Dasar kulkas sepuluh pintu. Mau memuji cewek saja pakai gengsi segala! pantesan kamu jadi jomblo abadi!" Amora melengos, ia beranjak meninggalkan Reyhan yang terkekeh.


"Siapa bilang aku jomblo?" Reyhan berjalan di belakang Amora.


"Jangan mengelak bujang lapuk. Kamu itu sudah jomblo dari lahir. Dari jaman sekolah sampai sekarang, mana pernah punya pacar."


Ya karena hatiku cuma menginginkan kamu, Amora. Dari dulu hingga sekarang, hatiku tak kan pernah berubah. Kini, esok dan selamanya. Hanya kamu.


Gumam Reyhan dalam hati.


"Tapi sekarang aku bukan jomblo lagi, kau lupa?" Reyhan menaikkan sebelah alisnya. Amora menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Kamu sudah punya kekasih?" tanya Amora penasaran. Sedangkan Reyhan hanya menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Aku sudah punya istri sekarang. Bukan pacar." jawab Reyhan enteng. Senyum manis terbingkai di wajahnya.


"Dasar kau!" Amora memukul pelan dada Reyhan. Wanita itu kembali melangkahkan kakinya dan di ikuti oleh Reyhan di belakangnya. Keduanya berjalan beriringan menuju lift dan turun ke basecamp dimana mobil Reyhan berada. Mereka berencana akan makan malam bersama. Melupakan sejenak segala penat yang ada.


"Aku lama ya?" tanya Amora saat berada di dalam mobil.


"Maksudnya?" tanya Reyhan tanpa menoleh. Ia fokus mengemudi.


"Tadi pas aku bersiap, aku terlalu lama sehingga membuatmu bosan menunggu."


"Ah santai. Namanya juga wanita."


"Kamu memang pengertian sekali. Maaf ya sudah membuatmu menunggu." ucap Amora menyesal.


"Hah? menungguku selama bertahun-tahun? maksudnya?" Amora bingung. Ia menatap Reyhan yang mendelik sebentar lalu pria itu berusaha mengendalikan ekspresinya yang terkejut. Ia keceplosan.


"Tidak. Maksudku, seandainya di suruh menunggu bertahun-tahun juga aku kuat. Ini mau ngerayu sebenarnya, tapi kok malah salah." Reyhan beralasan.


"Oh begitu." Amora hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama ponselnya berdering, ia segera mengambil benda pipih yang berada di dalam tas kecil miliknya. Nama Evan terlihat memanggil di layar ponsel. Amora menggeser ikon berwarna hijau untuk menjawab panggilan telepon itu.


Sedangkan Reyhan hanya bisa meliriknya.


"Assalamualaikum, Evan." Reyhan mendelik.


Evan? siapa dia? kenapa menghubungi Amora? segala pertanyaan muncul di kepala Reyhan.


"Aku sedang di luar."


"Maaf yah, lain kali aku akan keluar denganmu." ucap Amora, lalu tak lama kemudian sambungan telepon terputus. Wanita itu kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.


"Siapa?" tanya Reyhan tanpa menoleh.


"Teman kantor." jawab Amora pelan.


"Oh, Ku kira siapa."


"Kamu, cemburu?" ledek Amora.


"Aku? cemburu?" Reyhan menunjuk dirinya sendiri dan di balas dengan anggukan oleh Amora. Reyhan tertawa kecil, ia tak menatap Amora sama sekali. Pandangannya lurus menatap ke depan, fokus pada jalanan yang ramai oleh pengendara yang berlalu lalang.


"Aku tidak cemburu. Biasa saja." jawab Reyhan datar.


"Benarkah?"


Reyhan mengangguk. Amora mengalihkan pandangannya yang semula menatap pria itu, kini menatap keluar jendela mobil. Entah kenapa hatinya terasa di remas sehingga ia merasakan sakit. Ah, perasaan apa ini? kenapa aneh? Harusnya aku tidak sedih hanya karena Reyhan bilang tidak cemburu.


ucapnya dalam hati.


"Santai saja, Amora. Aku tidak akan cemburu. Tenang saja." ucap Reyhan sekali lagi. Amora hanya diam menatap keluar jendela mobil. Lampu gemerlapan di sepanjang jalan yang di padati kendaraan. Memenuhi jalan Ibukota yang tak pernah sepi. Pikiran Amora ikut membaur bersatu dengan suara hiruk pikuk serta suara klakson dan knalpot yang bising.


"Aku cemburu, Amora. Aku cemburu! tapi aku tidak berhak merasakan cemburu ketika hatimu belum utuh memilihku." ujar Reyhan dalam hati. Ya, hanya dalam hati. Ia berharap suatu saat nanti ia akan bisa menyampaikan bahwa benar ia cemburu.


🌷🌷🌷


Semangat ya All


Jangan lupa like, komentar dan hadiahnya 🥰


makasih yah. Dukungan kalian semua adalah moodbooster buat author.