Suami Sementara

Suami Sementara
Sama-sama sampah


"Katakan Sania! Apa kau menyayangi anak itu?" tanya Farhan dengan suara rendah. Setengah berbisik di telinga kanan istrinya. Sementara wanita yang ada di bawahnya meringis menahan sakit serta ketakutan yang sangat nyata.


"Ampun, mas. Jangan sakiti aku dan anakku lagi," mohon Sania dengan tangis yang berderai. Wanita itu menengadah keatas karena rambutnya di jambak oleh Farhan dengan keras. Seringai licik tersemat di wajah suami yang tak punya hati itu.


"Aku sangat suka melihatmu tersiksa dan memohon seperti ini ,Sania. Teruslah memohon hingga hatiku tersentuh. Siapa tau dengan begitu, aku akan memaafkan kamu dan melupakan perselingkuhan yang kamu lakukan."


"Aku tidak selingkuh!" elak Sania dengan takut.


"Tidak selingkuh katamu?" Farhan tertawa mengejek.


"Ampun mas, lepaskan aku mas. Aku mohon ... Sakit mas." mohon Sania lagi. Kulit kepalanya terasa sangat sakit dan perih. Sesekali ia memejamkan mata karena rasa sakit yang ia rasakan.


"Mengakulah Sania! Siapa ayah dari bayi yang kamu kandung!"


Sania hanya menggeleng kuat-kuat. "Itu anak kamu, mas." lirihnya takut.


"Apa kamu bilang? jangan bercanda kamu Sania!" teriak Farhan dengan marah.


"Bukankah sudah aku bilang bahwa aku mandul? Apa kamu lupa? Hah?" pria itu semakin emosi karena Sania tidak juga mau mengakui siapa ayah dari anak yang di kandungnya.


Sania hanya sesenggukan sembari menahan sakit di kepalanya. Bahkan kini perutnya juga ikut terasa sakit.


"Katakan padaku! Siapa pria itu, Sania!" Sania hanya menggeleng takut. Melihat amarah Farhan yang seperti ini membuatnya ingin melarikan diri. Ia sangat memahami pria ini dan ia tidak mau jika selalu mendapatkan kekerasan apalagi jika hal itu sampai pada anaknya.


"Le-lepaskan ... Mas. Aku mohon ...."


"Katakan dulu! Siapa pria itu, hah?"


Tak ada pilihan lain baginya, Sania harus mengatakan semuanya agar ia selamat. Ia tidak ingin mati sia-sia di tangan Farhan sebelum membuat mantan sahabatnya menderita lebih lama lagi. Dendamnya pada Amora tidak akan pernah padam, malah semakin hari semakin berkobar terlebih lagi Farhan selalu membandingkan dirinya dengan wanita itu. Ia tidak akan pernah terima jika selalu di sandingkan dengan Amora apalagi Amora lebih unggul darinya.


Dan Farhan tak sekalipun mencintainya meski berbagai cara dan upaya telah ia lakukan.


"Katakan! Aku tidak ingin mendengar kebohongan kamu yang lain!" geram Farhan semakin memperkuat jambakannya sehingga membuat Sania semakin meringis dan menangis.


"Sakit, Mas. Ampun ...."


"Cepat katakan atau aku akan membuat semua rambut kamu terlepas dari kulitnya!" membayangkan saja Amora sudah ngeri bukan main.


"Bo-bos Handoko, Mas."


"Apa? coba lebih keras lagi!"


"Aku mengandung anak Pak Handoko, Mas. Ini anak Pak Handoko." cicit Sania dengan takut.


"Brengsek!" Farhan menghempaskan tubuh dan kepala Amora begitu saja sehingga wanita itu tersungkur di lantai. Kepala Sania terbentur ke tembok sehingga mengeluarkan darah. Wanita itu meraba keningnya yang terasa sakit dan detik selanjutnya matanya melebar kala mendapati tangannya yang penuh darah.


"Kamu keterlaluan, Mas." lirih Sania seraya memegangi kepalanya yang terasa pening.


Ia menatap Farhan dengan kebencian yang mendalam. Farhan menoleh, memandang Sania dengan kemarahan yang tiada lagi bisa di bendung.


"Kamu yang keterlaluan, Sania! Apa yang kamu lihat dari pria botak menjijikkan itu, hah?"


"Dasar wanita murahan!" makinya kesal.


"Aku begini juga karena kalian, Mas! Aku menjadi simpanan pak Handoko karena kamu dan Ibu kamu! Seandainya kalian tidak selalu membebaniku, mungkin aku tidak akan pernah mau tidur dengan pria buncit berkepala botak seperti dia! Aku juga selalu risih dan jijik ketika di sentuh oleh dia! Tapi karena tuntutan kalian begitu besar, membuat aku rela melayani kapanpun pria itu mau!" teriak Sania dengan marah.


"Jadi kamu menyalahkan aku dan Ibu?" Sania hanya diam dan takut. Ia beringsut semakin menjauh menghindari Farhan yang terbakar amarah. Tapi belum sempat ia melarikan diri, Farhan sudah mencengkeram dagunya dengan kuat.


"Katakan sekali lagi, Sania! Apa kau sengaja menjual dirimu karena aku dan Ibu?!"


Air mata itu semakin deras, semakin membuat basah wajah wanita yang kini terlihat tampak kacau. Sudut bibirnya yang berdarah di tambah dengan kepalanya yang ikut berdarah. Tapi entah mengapa pemandangan itu membuat hati Farhan semakin senang. Wajah Sania yang penuh ketakutan dengan luka yang ikut serta menghiasi wajah wanita itu. Entahlah, ia merasakan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. Belum lagi wajah yang memelas minta di lepaskan dan di ampuni, membuatnya lebih bersemangat.


"Jadi kamu keberatan karena memenuhi kebutuhan aku dan Ibu?" Sania menggeleng takut.


"Kamu keberatan jika aku dan Ibu selalu meminta uang kepadamu, Sania?" pria itu semakin mempererat cengkramannya.


"Ti-tidak Mas. Aku mohon, lepaskan aku," Sania memegang tangan Farhan yang berada di dagunya. Berusaha menjauhkan tangan pria itu darinya.


"Kau tidak keberatan?" Sania terpaksa menggeleng.


"Lalu, mengapa tadi kamu bilang begitu? Kau berselingkuh dan menjadi simpanan bos botak itu demi mencukupi kebutuhan aku dan Ibu?" Begitu maksudmu, Sania?" Sania hanya tergugu pilu. Ia tak mengerti mengapa nasibnya sungguh sangat buruk. Berharap akan bahagia hidup bersama pria yang di cintainya dan telah berhasil membuat Amora sahabatnya menderita. Tapi kini malah ia yang harus merasakan penderitaan yang tiada hentinya.


"Kau bukan terpaksa, Sania. Kamu juga menikmatinya bukan? Jika tidak, mana mungkin kamu bisa sampai hamil? Bahkan mengaku-ngaku jika itu anak aku! Dasar tidak tahu malu!" ia menghempaskan kepala Sania dan berdiri. Sania bisa bernapas dengan lega sekarang. Bersamaan dengan itu, Ibu Farhan muncul.


"Apa maksud kamu Farhan? anak siapa?" tanya wanita itu kebingungan.


"Sania selingkuh, Bu. Bahkan mengandung anak selingkuhannya. Dan sekarang dia menyalahkan kita karena dia terpaksa menjadi simpanan bos botak itu demi memenuhi kebutuhan kita." jelas Farhan yang membuat wajah wanita setengah baya itu memerah menahan marah.


"Dasar menantu tidak tahu diri! Berani sekali kamu!"


Plakk ....


Lagi, Sania mendapat tamparan di pipinya. Ia memegangi pipinya yang perih. Netranya melebar menatap mertuanya dengan nyalang.


"Ibu? kenapa menamparku?"


"Kenapa kamu bilang?"


"Kamu tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan? Sudah berani berselingkuh dan mengungkit apa yang kamu berikan pada aku dan Farhan? Bahkan kamu sampai hamil anak pria lain! Berani-beraninya kamu masih mengakui itu anak Farhan dan kembali ke rumah ini! Dasar perempuan murahan! Tidak tahu diri! Dasar sampah tidak berguna!"


Sania berdiri perlahan. Ia tidak ingin selalu di hina oleh dua orang yang ada di hadapannya. Ia menatap mertua serta pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu dengan marah. Ia mengelus perutnya sebentar, biar bagaimanapun dirinya ia tidak akan menggugurkan kandungannya. Ia masih punya hati nurani meski sudah lama ia membuang nurani itu demi balas dendam.


"Memangnya Ibu pikir anak Ibu ini baik? Ia tidak lebih dari sampah!" ucap Sania dengan emosi. Napasnya naik turun.


"Kalau Ibu mengatakan saya sampah, maka kita semua adalah sampah! Sama-sama sampah!" teriak Sania dengan amarah yang semakin memuncak. Anak dan Ibu yang di katakan sampah itu pun semakin marah dan emosi. Bahkan kini Farhan tak segan ingin membunuh Sania.