Suami Sementara

Suami Sementara
Amora dan Reyhan


Sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti di pelataran rumah mewah milik keluarga Reyhan. Seorang pria turun dengan sedikit tergesa seraya mengitari mobil miliknya, membuka pintu mobil sebelah kiri. Tak lama turun seorang wanita cantik yang mengenakan heels berwarna hitam seraya mengulas senyum.


"Terimakasih, Rey. Harusnya kamu tidak perlu melakukan ini. Aku bisa membukanya sendiri." ujar Amora sembari tersenyum canggung pada suaminya.


"Tidak ada penolakan! Aku hanya melakukan hal yang semestinya." ucap Reyhan seraya mengulas senyum manis.


"Rey, ini berlebihan. Aku bukan seorang ratu."


"Bagian mana yang berlebihan?" tanya pria itu serius. Sebelah alisnya terangkat seraya menatap sang istri. Tangannya masih berada di pintu mobil, sementara Amora berdiri di hadapannya.


"Sudah selayaknya seorang suami meratukan istrinya,bukan? Memberikan perhatian kecil seperti ini merupakan tugasku, sayang. Jangan menolak sekecil apapun perhatian yang aku berikan. Aku tidak ingin ada penolakan yang keluar dari bibir kamu. Aku ini suami kamu dan sudah sewajarnya aku menjadikan kamu Ratu dalam hidupku." imbuhnya seraya menatap Amora dengan dalam. Di tatap seperti itu, membuat wajah Amora bersemu merah.


"Tapi, Rey."


"Sstt ... Diamlah. Hatiku akan terasa sakit jika kamu menolak ku." ujarnya seraya pura-pura sakit hati dan memegang dada sebelah kiri.


"Baiklah. Terimakasih ya atas semuanya."


"Don't say thank you, Honey."


"Then i have to say?"


"Say I love you,"


Wajah wanita itu semakin merona, ia menyembunyikan wajahnya agar Reyhan tak memergokinya ketika sedang malu.


"Kenapa harus malu? Ayo katakan! Aku ingin mendengarnya sekarang." todong Reyhan seraya menatap Amora. Ia menunggu wanitanya mengatakan hal sakral dalam hidupnya.


"Sekarang?" tanya Amora ragu. Reyhan mengangguk dengan semangat.


"Apakah harus sekarang?" tanya wanita itu sekali lagi. Reyhan menahan napas sebentar, lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Tahun depan!" sahut Reyhan kesal.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Tahun depan saja." jawab Amora enteng.


"Astaga! Dasar wanita kaku! Tidak peka. Ya Tuhan, beri aku kesabaran yang lebih. Perluas lagi rasa sabar ku." lirih Reyhan dengan putus asa.


Amora terkikik geli melihat wajah Reyhan yang berusaha menahan kesal.


"Kenapa kau malah tertawa?"


Amora menggelengkan kepalanya seraya menutup mulut. Menatap suaminya dengan jenaka.


"Jangan menertawakan suamimu!"


"Aku tidak menertawakan kamu." elak Amora seraya berusaha menahan mati-matian gelak tawa yang sebentar lagi akan meledak.


"Terserah ah, aku mau masuk." ujar Reyhan pura-pura merajuk. Ia berbalik dan meninggalkan Amora.


"Rey, tunggu. Kenapa kau cepat sekali tersinggung dan merajuk? Sudah seperti wanita yang sedang datang bulan saja." Amora cepat-cepat menutup pintu mobil dan mengejar suaminya. Heels yang lumayan tinggi membuatnya kesulitan untuk berlari mengimbangi langkah Reyhan yang lebar.


Hingga ia menghentikan langkahnya dengan napas yang memburu.


"Reyhan tunggu!" Pria itu terus berjalan dengan pura-pura merajuk.


"Reyhan, i love you!" teriak Amora sehingga membuat pria yang ada di depannya segera menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Apa? Apa yang kau ucapkan barusan?" kata Reyhan seraya menatap Amora dengan penasaran. Sebenernya tadi ia mendengar teriakan Amora, tapi ia ingin mendengarnya sekali lagi sehingga mengatakan bahwa dirinya tidak mendengar teriakan istrinya.


"Ucapkan sekali lagi. Aku tidak mendengar apa yang kamu ucapkan. Suaramu kecil sekali." katanya seraya menahan senyum.


"Ah kau sengaja. Aku tahu itu," Amora mengerucutkan bibirnya.


"Tidak, sayang. Ayo katakan lagi." Reyhan melangkah mendekati istrinya yang menatapnya dengan kesal.


"Aku tidak mau!" tolak Amora.


"Tidak ada remedial!"


"Ayolah! Ucapkan sekali lagi. Aku sangat ingin mendengarnya."


"Tidak!"


"Umm ... Baiklah." ucap Reyhan dengan sangat pelan, menekan rasa kecewa yang dalam-dalam. Ia pun berbalik, ingin kembali melanjutkan langkahnya yang sengaja ia hentikan dan mengulang ke belakang demi mendengar kata sakral yang istrinya ucapkan. Tapi istrinya tidak mau mengulanginya, membuat hatinya sedikit kecewa.


"Reyhan!" teriak Amora. Reyhan berhenti sebentar, mengulas senyum pahit tanpa menoleh. Ia mendengar langkah kaki yang mendekat dari arah belakang lalu detik berikutnya ia merasakan tubuhnya di peluk dari belakang.


"Aku mencintaimu. Aku sangat-sangat mencintaimu." ujarnya seraya menyandarkan kepalanya di punggung sang suami. Tubuh pria itu terasa seringan kapas, hatinya bagai di penuhi bunga yang bermekaran. Perasaannya membuncah, senyum bahagia yang tak terkira tercetak indah di wajah tampan pria itu. Ia menggenggam lembut jemari wanita yang sangat di cintainya itu. Ia membalikkan tubuhnya, menghadap pada istrinya dan menatap manik coklat itu dengan penuh rasa cinta.


Rasa kesal dan kecewa yang tadi sempat hinggap, kini hilang begitu saja tak berbekas. Berganti dengan rasa bahagia yang memenuhi seluruh pelosok hati serta sanubari. Menguasai hingga tak bisa lagi berkata apa-apa. Lidahnya kelu, ia hanya bisa menatap istrinya yang tersenyum malu dengan semburat merah di wajahnya yang terlihat enggan untuk pergi.


"Aku lebih mencintaimu, sayang. Terimakasih sudah mau membuang rasa gengsi kamu yang terlalu tinggi itu." pria itu menoel mesra hidung mancung milik istrinya.


"Apa sih, Rey? Siapa yang gengsi?" Amora melotot membantah ucapan Reyhan yang sejujurnya adalah benar.


"Hilih. Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tahu, gengsi kamu itu sangatlah tinggi."


"Apa sih? tidak jelas." cibir Amora.


Cup ...


Satu kecupan mendarat di bibir wanita itu, hingga membuatnya menjerit kecil.


"Rey!" ia terbelalak sembari memegangi bibirnya.


"Apa yang kau lakukan?" Amora terkejut bukan main.


"Aku hanya mencium bibir istriku. Apa salahnya?"


"Kau sangat jelas salah, Rey."


"Salahnya dimana? Kita sudah halal, lagi pula kita sudah sering melakukan hal yang lebih dari ini. Kenapa kamu terkejut bak ABG yang kehilangan ciuman pertama?"


"Bukan begitu, Rey. Nanti di lihat orang." ujar Amora seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru.


"Ya biarkan saja, sih. Kan kita bukan pasangan mesum? Tidak akan ada yang mau menggiring kita ke rumah Pak RT dan tidak akan ada yang akan mengarak kita keliling kampung!"


"Astaga aku lupa suamiku agak sedikit tidak waras." cibir Amora kesal.


"Astaga kamu durhakim sekali sudah mengatakan suamimu ini tidak waras."


"Ya abisnya, kamu sih. Jika di lihat Mama atau si mbok dan Pak satpam gimana?"


"Ya memangnya kenapa? Mereka juga pasti akan sangat mengerti kok. Pengantin baru jangan di ganggu." ujarnya seraya menaik turunkan alisnya.


"Rey, aku malu jika mereka benar-benar melihat."


"Aku tidak peduli?" ujar Reyhan seraya menarik pinggang istrinya agar lebih mendekat. Tubuh keduanya menempel, hanya terhalang pakaian yang mereka kenakan. Deru napas keduanya saling beradu, menerpa wajah masing-masing. Amora menatap manik hitam milik suaminya, berusaha menyelami dalam-dalam manik hitam kelam yang seluas samudera itu.


Reyhan mendekatkan wajahnya, menatap bibir ranum milik sang istri yang sangat menggoda. Tinggal beberapa senti lagi bibir keduanya menempel ketika terdengar suara seorang perempuan yang memanggil Amora.


"Amora," panggil seorang wanita yang bertubuh agak tambun berdiri di belakangnya.


Amora refleks mendorong tubuh Reyhan dengan kuat.


"Kenapa kau mendorongku?" protes Reyhan yang hampir jatuh.


"Reyhan? Maaf aku refleks melakukan hal itu." ucap Amora dengan rasa bersalah.


"Amora," panggil orang yang telah merusak kemesraan keduanya. Amora menoleh, wajahnya berubah canggung ketika melihat siapa yang telah memanggilnya. Sementara Reyhan segera memasang wajah marah dan kesal.


"I-ibu?" Amora tergagap dengan melebarkan matanya dan menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Ia tidak menyangka jika wanita yang ada di hadapannya akan datang di waktu seperti ini.