Suami Sementara

Suami Sementara
Mencari Reyhan


Happy reading zheyeng 😘😘


___________________________


Berkali-kali ku coba menyangkal rasa ini,


berkali-kali pula aku terjatuh dalam sepi.


Rasa yang tumbuh setiap hari,


rasa yang sebelumnya tak pernah ku sadari.


Amora


❤️❤️❤️


Amora berdiri kaku di depan pintu ruang rawat Reyhan, netranya jatuh pada ranjang dengan seprey berwarna putih yang telah kosong. Hatinya berdenyut nyeri, merasakan kehampaan serta kekosongan yang tiba-tiba saja melibas habis rasa yang ada. Wanita itu menyeret kakinya yang lemah menuju ranjang kosong itu dengan hati yang hampa. Mulutnya terkatup rapat, tak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.


Mengusap bantal yang semula di pakai Reyhan untuk menyangga kepalanya. Bau khas pria itu masih tertinggal di sana, tercium menusuk rongga hidung. Menyebabkan hadirnya rasa rindu yang menyeruak, bagai mengoyak seluruh tubuh. Amora memegangi dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak, kenapa rasanya sakit sekali?


"Maaf, Ibu istrinya pasien yang bernama Reyhan?" Amora menoleh, terlihat seorang suster datang membawa troli untuk membersihkan ruangan itu.


"Iya, saya istrinya." jawab Amora lemah dengan suara sedikit bergetar.


"Apa ada barang yang ketinggalan?" tanya kembali suster itu pada Amora. Amora hanya menggelengkan kepala pelan. Sementara suster itu hanya mengernyitkan dahi dengan bingung.


"Apa Reyhan sudah benar-benar di perbolehkan pulang?" tanya Amora hati-hati.


"Lah, Ibu kan istrinya. Masak tidak tahu keadaan suami?" celetuk seorang suster yang baru datang dengan sinis. Amora hanya tersenyum miris. Wanita berseragam suster itu membantu rekannya yang mengganti seprey dengan yang baru.


"Baiklah, saya permisi. Terimakasih." ujar Amora seraya membungkuk sebentar, tak lupa mengulas senyum tipis. Kedua suster itu hanya mengangguk dan fokus pada pekerjaan yang sedang mereka lakukan.


Amora kembali menyeret langkahnya keluar dari ruangan itu, terdengar bisik kedua suster itu yang membuatnya menghentikan langkah.


"Istri macam apa itu? masak tidak tahu kalau suaminya sudah di perbolehkan pulang." cibir suster yang berwajah jutek.


"Huss kamu ini, jangan ngajakin aku ghibah deh."


"Lah aku kan ngomongin fakta. Masak suami sakit malah di tinggal, pelukan pula sama pria lain di taman."


"Ah yang bener kamu?"


"Aku liat sendiri tadi, karena kebetulan aku sedang menemani pasien yang minta di antarkan ke taman."


"Benar-benar tidak pantas jadi istri, ya. Ah pak Reyhan itu sebenarnya ganteng banget. Aku mau kok gantiin posisi istrinya." lanjutnya dengan senyum merekah, tak sadar jika Amora masih ada di sana. Mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Dan tentu saja hal itu membuat lubang nyeri di hati Amora semakin melebar. Amora tak kuat lagi mendengar kata-kata yang akan menyakiti hatinya, ia memutuskan untuk segera keluar dari ruangan itu.


Ia menuju toilet rumah sakit, menyusuri koridor panjang yang sepi. Tak ada satu manusia pun berada di sana. Sesampainya di toilet, Amora langsung masuk dalam salah satu bilik dan menguncinya. Ia berdiri membelakangi pintu, bulir bening yang mati-matian ia tahan sedari tadi kini mulai berjatuhan. Berkejaran seakan tak mau berhenti.


Ia membiarkan tangisnya pecah, menggigit bibir sekuatnya agar tak sampai mengeluarkan suara. Hingga indera perasa miliknya merasakan rasa asin yang menyelimuti seluruh lidahnya. Ah bibir tipis itu berdarah, mengeluarkan warna merah secara tak sadar. Ia sesenggukan sembari memukul dadanya yang semakin sesak.


Terbayang tiga jam sebelumnya, ketika ia baru saja meninggalkan Farhan dan Sania yang berdebat tentang kehamilan Sania. Ketika ia akan kembali ke ruangan Reyhan, kakaknya menghubunginya dan mengatakan sudah ada di depan apartemen miliknya. Tanpa pikir panjang, Amora segera pulang dan mengurungkan niatnya untuk kembali menemui Reyhan. Tak di sangka, hal itu ternyata malah membuat semuanya jadi begini.


Setelah satu jam menumpahkan semua air mata itu, Amora mulai menyeka wajahnya. Ia membuka pintu toilet dengan pelan lalu menuju wastafel untuk mencuci wajahnya. Terlihat sangat jelas bengkak di sekitar matanya, wajahnya sembab khas orang habis menangis.


"Apa benar bahwa aku mulai mencintai Reyhan? ah rasanya tidak! Ini hanya perasaan bersalah dan tak nyaman saja. Aku hanya tak ingin ia salah paham." monolognya. Ia menampik kenyataan bahwa rasa itu kini sudah mulai tumbuh subur tanpa bisa di halangi. Tapi semakin ia menyangkal rasa itu, hatinya semakin terasa sakit. Relung hatinya berteriak tak terima dengan apa yang keluar dari mulutnya.


Amora mengendarai mobil miliknya membelah jalanan ibukota yang ramai, menuju gedung Apartemen miliknya. Mencari pria itu, tapi tak jua ia temui. Hingga ia memutuskan kembali mencari Reyhan di rumah mertuanya.


"Reyhan tidak ada di sini. Mungkin sudah pulang ke apartemen kalian?" ucap Mama Riana dengan senyum kaku.


"Tidak ada, Ma. Tadi Amora sudah menghubungi kak Hanif, tapi Reyhan tidak pulang kesana. Di apartemen miliknya juga tidak ada. Amora bingung mau mencari Reyhan kemana lagi." ujar wanita itu putus asa. Mama Riana melihatnya dengan tatapan iba, ia hanya bisa diam menatap menantu kesayangannya dengan perasaan yang campur aduk.


"Amora akan mencari Reyhan dulu, Ma. Amora pamit." Amora mencium punggung tangan mertuanya dengan takzim. Wanita yang umurnya terpaut sangat jauh itu mengelus lembut kepala Amora.


"Maafkan Reyhan, ya Nak."


"Tidak, Ma. Ini salah Amora. Seharusnya Amora tidak pergi ke taman dan langsung pulang ketika kakak datang. Seharusnya Amora menemui Reyhan terlebih dulu dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi. Amora pamit, meninggalkan rumah besar itu dengan perasaan hampa.


"Keluar!" teriak Mama Riana dengan kencang.


Keluar seorang pria yang berkaos oblong dengan celana jeans pendek sebatas lutut dari tempat persembunyiannya dengan wajah cengar-cengir seraya menggaruk kepalanya yang gatal.


"Tega kamu, ya!" tuding Mama Riana marah.


"Reyhan cuma ingin tahu, apakah Amora mencintai Reyhan atau tidak." jelas pria itu seraya duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


"Memangnya tidak ada cara lain apa?"


"Hanya ini satu-satunya cara untuk mengetahui perasaan Amora."


"Dengan menyakitinya?"


"Membuatnya bingung,"


"Menangis, jahat kamu!"


"Ma, dengan begini Reyhan akan tahu sebenarnya Amora mencintai Reyhan atau tidak."


"Dengan apa?! menyiksa perasaan anak orang?!


"Kita akan tahu perasaan kita yang sebenarnya ketika sudah kehilangan."


❤️❤️❤️


Halo Zheyeng 😘


Malam ini ngantuk n capek banget, tapi aku sempetin buat up karena takut kalian nunggu lama. Maafkan author sengklek ini yak. Jangan lupa selalu dukung karya ku, biar makin semangat 🤗🤗😚😚


Jaga kesehatan ya All


Jangan lupa bahagia, meski mimpi tak Sudi menjadi nyata.