Suami Sementara

Suami Sementara
Let's play, Baby


Sania baru terlelap saat merasakan tubuhnya di guncang seseorang dengan sangat keras. Ia pun terpaksa membuka matanya meski terasa sangat berat. Di susul dengan suara keras dari sang ibu mertua.


"Bangun kamu! Mertuanya lagi masak, kamu malah enak-enakan tidur!" wanita itu menarik tubuh Sania yang lemah.


"Bu, saya lagi sakit." ucap Sania terpaksa duduk.


"Sakit apanya? sakit malas?"


"Sudah dua hari kamu di sini dan kerjaan kamu cuma malas-malasan. Tidur sepanjang hari." wanita itu tak berhenti menggerutu. Setelah dari rumah sakit Sania pulang ke apartemen pemberian sang bos. Tapi siapa sangka, keadaan telah berubah. Semua yang pernah di berikan kepadanya di ambil begitu saja tanpa tersisa. Dari apartemen, mobil dan kartu kredit yang pernah ia terima. Tidak ada jalan lain bagi Sania kecuali kembali ke rumah orang tua Farhan. Dan beginilah sekarang, setiap hari mendapat makian dan pekerjaan yang tidak ada habisnya.


"Kamu itu bisanya makan tidur saja! Dasar pemalas!" maki Mama Farhan dengan kesal. Wanita yang tak lagi muda itu berkacak pinggang, menatap menantunya dengan marah. Sementara Sania hanya bisa menahan segala makian serta hinaan itu dalam hatinya.


"Bu, saya sedang sakit. Ibu kan tahu sendiri saya baru keluar dari rumah sakit kemarin. Kandungan saya lemah, Bu." ucap Sania dengan wajah memelas berharap belas kasih dari mertuanya.


"Halah! itu alasan kamu saja. Saya itu lebih berpengalaman dari pada kamu! Kamu mau anakmu lahir nanti jadi pemalas? Kerjanya tidur terus. Apa tidak bosan?"


"Apa sih Bu? Pagi-pagi sudah mengomel. Farhan masih mengantuk." seorang pria berdiri di depan pintu kamar Sania dengan raut wajah kusam khas bangun tidur. Rambutnya berantakan dan sesekali masih menguap meski waktu telah menunjukkan pukul 11.00.


"Kamu tuh salah pilih istri! Makanya kalau mau menikah itu pilih-pilih dulu!" jantung Sania seolah di remas, hatinya bagai tertusuk belati beracun. Sakitnya menyebar ke seluruh nadi, melemahkan tubuh dan membunuh perlahan. Pelupuk matanya telah berair, benteng pertahanannya sebentar lagi akan runtuh. Ia meremas dadanya yang sesak dengan kuat, menatap tak percaya pada sang Ibu mertua yang berbicara seperti itu.


"Memang Farhan salah pilih, Bu. Harusnya Farhan tidak menceraikan Amora. Seharusnya wanita ini yang Farhan buang. Wanita yang tidak berguna sama sekali. Bahkan hanya menyusahkan saja!" ucap Farhan dengan sinis. Ia memandang istrinya penuh dengan kebencian. Sania tak lagi bisa menahan bendungan air mata yang sedari tadi mengambang di pelupuk mata. Bulir bening itu luruh begitu saja membasahi wajahnya.


"Tega kamu, Mas." ia menatap Farhan dengan marah.


"Apa? tega apanya?" Farhan maju beberapa langkah menghampiri Sania yang duduk di tepi ranjang. Sementara Ibunya hanya berdiri dengan pongah menatap anak dan menantunya yang berseteru. Tak ada niatan darinya untuk menengahi pasangan suami istri itu. Bahkan kini ia memandang acuh tak acuh pada kedua orang yang ada di hadapannya.


"Kalian selesaikan saja masalah kalian, Ibu mau siap-siap. Nanti sore Ibu mau arisan." ujarnya lalu dengan cepat berbalik meninggalkan kedua anak manusia yang sama-sama di kuasai emosi.


"Kenapa kamu bilang begitu, Mas? Bukankah kamu lebih memilih menceraikan Amora dan menikahiku? Bukankah kamu bilang waktu itu kamu mencintaiku? Kenapa semuanya jadi seperti ini, Mas!"


"Heh wanita ******! Kamu dengarkan baik-baik! Kamu itu cuma istri sementara. Kamu itu cuma menjadi perantara agar aku bisa kembali pada Amora." pria itu menunjuk istrinya dengan kesal.


"Apa yang kamu lihat dari Amora sih, Mas? Bukankah aku jauh lebih baik dari dia?" kini Sania berdiri. Menantang ucapan suami yang membuatnya sakit hati.


"Kamu itu tidak jauh lebih baik dari sampah! Sampai kapan pun kamu itu tidak akan pernah pantas di bandingkan dengan Amora. Ingat itu baik-baik!"


"Lalu mengapa kamu masih menjalin hubungan denganku selama bertahun-tahun? Apakah tidak ada cinta sama sekali di hatimu untukku, Mas?" air mata itu semakin deras. Di sertai rasa sakit yang kian mendera.


"Kamu tanya kenapa?" Farhan tersenyum miring. Ia mengangkat sebelah alisnya.


"Iya! Kenapa Mas? Bukankah kamu bilang aku lebih baik dari Amora? Bahkan kamu selalu memuji permainan ku di atas ranjang! Aku selalu bisa memuaskan kamu di bandingkan wanita bodoh itu! Kamu selalu memujiku dan kamu bilang juga mencintaiku." dada Sania kembang kempis. Hatinya bagai di remat sedemikian rupa. Mengenang kembali pujian-pujian yang selalu di lontarkan oleh Farhan. Nyanyian-nyanyian indah yang selalu menggaung di telinganya dan membuat bunga indah bermekaran di taman hatinya.


"Ya, benar. Tapi kau tahu kan perbedaan kerikil di jalan dengan berlian? Begitulah kira-kira perbedaan kamu dengan Amora!"


"Jangan mimpi kamu, Sania! Kamu itu tidak lebih dari sekedar pelampiasan saja! Amora jauh lebih baik daripada kamu! Kamu ingat itu!"


"Aku benci kamu, Mas. Kamu jahat!"


"Jahat? lebih jahat mana dengan kamu?"


"Tega mengkhianati sahabatnya sendiri demi cinta. Padahal Amora dan keluarganya sudah sangat baik kepada kamu. Apa itu namanya sahabat dan balas Budi?"


"Apa? balas Budi?" Sania hampir tersedak mendengar ucapan Farhan.


"Tahu apa kamu tentang balas budi, mas? Apa kamu tidak sadar jika kamu juga manusia yang tidak tahu balas Budi, hah? Jangan sok mengajariku tentang balas Budi!"


"Kurang ajar kamu!"


Plakk ....


Sebuah tamparan mendarat di pipi putih milik Sania. Wajahnya memerah dengan bekas tangan yang terlihat jelas. Amora meraba pipinya yang terasa panas, menyeka cairan berwarna merah di ujung bibir.


"Kenapa kau selalu menamparku, mas? Apa ketika dengan Amora kau juga melakukan hal yang sama?"


"Tidak. Aku menyayanginya. Mana mungkin aku melukainya."


Sania tersenyum sinis.


"Tidak melukai katamu, mas?"


"Iya, tidak secara fisik! Tapi secara batin!" katanya penuh dengan emosi yang kian bergulung dan terasa akan meledak.


"Sania ... Kamu benar-benar sudah sangat berani sekarang." pria itu mengepalkan kedua tangan. Menggeram penuh dengan kekesalan dan amarah yang besar. Rasa ingin membunuh membuatnya mendekati Sania. Membayangkan dengan cara apa untuk melenyapkan wanita yang sekarang masih menjadi istrinya yang sah.


"Apa kamu menyayangi anak yang ada di dalam perutmu itu, Sania?" pria itu memandang perut Sania yang sedikit membuncit.


"A-apa maksud kamu Mas?" lirih Sania takut. Ia memeluk perutnya, berusaha melindungi janin yang ada di dalamnya.


"Let's play, Baby." ucap Farhan dengan seringai licik mengerikan. Membuat Sania bergidik ngeri melihat kelakuan pria yang ada di hadapannya.


"Jangan lakukan apapun pada kami, mas!" kata Sania takut. Ia mundur ke belakang, berusaha menjauhi Farhan dan menyelamatkan diri.


❤️❤️