Suami Sementara

Suami Sementara
Apa kau mencintainya?


Rasa itu pernah ada


Dan pernah bersemayam di dada


Tapi jika hanya menyebabkan lara


Apakah harus ku pertahankan segalanya?


-


Amora menata berbagai makanan di atas meja makan. Nasi lengkap dengan ayam panggang serta sambal, ada perkedel, tempe goreng serta buah dan puding yang tersusun rapi. Senyum manis tak pernah surut dari wajah cantik wanita berusia 27 tahun itu. Membayangkan makan malam romantis bersama Reyhan, lagi lagi ia tersipu.


"Aku akan makan malam di rumah malam ini." masih terdengar jelas suara Reyhan di telinganya ketika tadi sore menghubunginya.


Entah apa yang merasuki wanita itu sehingga ia kembali tersenyum serta tersipu. Sesekali ia menutup kedua wajah.


"Astaga! aku sudah seperti anak ABG saja." ia terkekeh malu sendiri dengan segala tingkah lakunya yang sedikit aneh menurutnya. Seingatnya, ketika dulu bersama Farhan ia tidak pernah seperti ini.


"Ah, ku rasa otakku sudah mulai bergeser. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan yang baru, agar aku tidak gila selalu berada di rumah sendirian." gumamnya seraya tertawa geli.


"Semuanya sudah siap, apalagi yang kurang ya?" jemarinya mengetukkan dagu. Netranya menatap satu persatu hidangan yang tersedia dengan begitu cantik di atas meja.


"Rasanya semua sudah cukup. Tinggal mempercantik diri. Ah semenjak kapan aku jadi genit begini? Ya Tuhan! Apa aku benar-benar mulai gila sekarang?" ia menggelengkan kepala, lalu berjalan perlahan menuju kamar. Tapi baru beberapa langkah sebelum sampai, ia mendengar bel apartemen yang terdengar. Tubuhnya refleks berbalik, melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 16.15


"Ah, apa Reyhan pulang secepat ini?" keningnya berkerut tapi tak urung untuk melangkah juga.


"Tunggu sebentar," langkahnya terhenti.


"Bukankah seharusnya Reyhan tak perlu memencet bel?" kerutan di dahinya semakin dalam. Rasa penasaran menyeruak menyelimuti hati dan kepalanya. Ia melangkah dengan cepat, ingin segera mengetahui siapa yang datang.


"Mas Farhan?" Amora terbengong ketika mendapati sang mantan suami sudah berdiri di hadapannya dengan setangkai mawar merah di tangannya. Mengulas senyum manis yang malah membuat kerutan di dahi semakin bertambah.


"Hai sayang, bunga ini untukmu." ujarnya menyodorkan bunga itu pada Amora. Amora bergeming, tangan kanannya masih memegangi pintu yang semula ia buka. Tak ada keinginan untuk menyambut sesuatu yang Farhan berikan padanya.


"Amora, apa kau mendengarkanku?" tanya Farhan seraya mendekatkan wajah, menelisik wajah wanita di hadapannya. Sontak saja hal itu membuat Amora memundurkan tubuhnya ke belakang. Ia terkejut dengan apa yang di lakukan Farhan barusan.


"Apa yang kamu lakukan, mas?"


"Aku hanya memastikan kamu tidak melamun." kemudian dengan cepat ia meletakkan bunga itu ke dalam genggaman Amora. Wanita itu melihat setangkai bunga yang di selipkan di tangannya.


"Jangan banyak melamun, itu tidak baik." Amora hanya mengangguk kikuk.


"Apa aku boleh masuk?"


"Hah? apa?" Amora masih belum menyadari situasi. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi.


"Kan, masih melamun. Sudah di bilang jangan melamun." Farhan menoel hidung Amora. Refleks wanita itu kembali menjauhkan diri dari pria yang pernah ada di hatinya tersebut.


"Mas, jangan begini." ujarnya dengan sedikit kesal. Farhan mengernyitkan dahi, menatap wajah Amora yang ketakutan.


"Hei, kamu kenapa? kenapa terlihat begitu takut? apa aku begitu menyeramkan?"


"Mas, Reyhan sedang tidak ada di rumah. Sebaiknya mas jangan masuk. Jika ada yang ingin di bicarakan, silahkan bicarakan sekarang dan tidak perlu masuk."


"Amora, kenapa ....?" pria itu menatap Amora dengan kecewa.


"Mas, kita sudah bukan suami istri. Lagi pula, mas sudah punya istri dan aku sudah punya suami. Tidak seharusnya kita bertemu seperti ini. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, mas."


"Amora, apa kamu lupa? Bukankah Reyhan hanya suami sementara? Dia hanya menjadi muhalil dan setelah tiga bulan dia akan menceraikan kamu. Dan setelah itu, kita akan kembali bersama. Bukankah seperti itu kesepakatan kita?"


"Maafkan aku, mas."


"Apa maksud kamu?"


Amora hanya diam. Ada rasa bersalah di hatinya ketika melihat wajah Farhan yang luar biasa kecewa dan marah.


"Maafkan aku, mas." lirihnya sekali lagi seraya menunduk. Farhan menarik rambutnya dengan kesal. Ia menatap Amora sekali lagi dan dengan sekali langkah, ia mencengkram kedua bahu wanita itu dengan kasar sehingga membuat Amora meringis sakit.


"Katakan Amora, apakah kamu mulai mencintai pria itu?" Farhan menatap Amora dengan berang tanpa melepaskan cengkraman tangannya.


"Mas, tolong lepaskan. Kau menyakitiku." kata Amora. Ia masih meringis kala cengkraman tangan Farhan semakin kencang.


"Katakan padaku, Amora! Apa kau mulai mencintai pria brengsek itu?!" tanya Farhan sekali lagi. Giginya gemeletukan menahan emosi, sementara cengkramnya semakin kuat di bahu Amora. Amora menatap mantan suaminya dengan takut.


"A-aku ...."