Suami Sementara

Suami Sementara
Kabur


Langkah kaki wanita setengah baya itu tersendat, sesekali menoleh ke belakang berharap anaknya akan menyusul. Tapi yang di harapkan tidak juga menampakkan batang hidungnya sehingga terpaksa dirinya menemui dua orang polisi yang sedang duduk di teras depan.


"Ca-cari siapa, Pak?" tanya Ibu Farhan dengan sedikit bergetar.


"Selamat siang, Bu." dua orang berseragam coklat itu berdiri dan memberi hormat.


"Si-siang Pak."


"Mengapa di dalam terdengar ada keributan? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya salah satu polisi yang berbadan sedikit tambun seraya melongok ke dalam. Menelisik rumah yang tiba-tiba terdengar sepi, tidak seperti tadi.


"Ah, bukan apa-apa kok Pak. Biasa keributan kecil." cicit Ibu Farhan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak bisa berdiri dengan tenang. Rasa gugup serta takut menyergap dirinya. Ia takut jika sampai ketahuan kalau dirinya terkadang juga ikut menyiksa menantunya, Sania. Sesekali ia melirik ke dalam, takut jika tiba-tiba Sania keluar dan mengadukan segalanya.


"Apakah benar tidak ada hal yang serius?"


"Be-benar Pak. Hanya keributan kecil antara anak dan menantu saya." ia meremas ujung bajunya, sementara dua polisi itu menatapnya tajam serta tatapan menyelidik.


"Tapi mengapa kami mendengar ada teriakan? sepertinya bukan teriakan biasa." kedua polisi itu menatap Ibu Farhan dengan curiga. Yang di tatap malah semakin salah tingkah, sesekali menggaruk kepala sesekali membuang muka.


"Tidak ada apa-apa, Pak. Hanya ribut biasa, ya biasalah yang namanya rumah tangga."


Kedua polisi itu saling pandang sebentar, lalu kembali menatap Ibu Farhan.


"Ada apa ya Pak Polisi mendatangi rumah saya?" tanya Ibu Farhan setelah menenangkan dirinya. Berusaha untuk lebih tenang tepatnya.


"Kami membawa surat perintah penangkapan terhadap saudara Farhan atas tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan kepada saudara Reyhan." sontak saja Ibu Farhan terkejut dengan mata yang melotot sempurna. Seorang polisi yang berbadan sedikit lebih kurus menyodorkan surat penangkapan kepada Ibu Reyhan yang terlihat sock. Bahkan dengan mulut terbuka ia menatap surat penangkapan dengan tak tak percaya.


"Ba-bapak pasti salah orang," ucapnya gagap seraya meraih kertas berwarna putih yang di sodorkan padanya. Tangannya gemetar kala menerima kertas itu, perlahan membuka dan membaca isi yang terdapat di dalamnya.


"Ti-tidak mungkin anak saya melakukan ini, Pak. A-anak saya Farhan tidak akan mungkin melakukan tindakan kriminal seperti ini." wanita itu menggelengkan kepalanya, menolak kenyataan yang baru ia terima. Ia mencoba membantah fakta yang memang benar terjadi.


"Maaf Bu, kami hanya menjalankan perintah. Mohon izinkan kami untuk menangkap saudara Farhan."


"Tidak! Kalian tidak bisa membawa anak saya karena dia tidak bersalah. Farhan tidak bersalah! kalian salah orang!" teriaknya marah.


" Mohon kerjasamanya, Bu."


"Tidak! Kalian salah! Anak saya tidak bersalah! Kalian salah orang!" Ibu Farhan berteriak histeris bahkan berdiri di dpwan pintu masuk. Sontak saja teriakan Ibu Farhan membuat para tetangga yang mendengarnya pun berbondong-bondong keluar untuk mencari tahu. Mereka berkerumun sambil berbisik satu sama lain.


"Anda bisa di kenakan pasal 221 KUHP ayat 1:


Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:


barang siapa dengan sengaja menyembunyikan orang yang melakukan kejahatan atau yang dituntut karena kejahatan, atau barang siapa memberi pertolongan kepadanya untuk menghindari penyidikan atau penahanan oleh penjahat kehakiman atau kepolisian, atau oleh orang lain yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi menjalankan jabatan kepolisian;


barang siapa setelah dilakukan suatu kejahatan dan dengan maksud untuk menutupinya, atau untuk menghalang-halangi atau mempersukar penyidikan atau penuntutannya, menghancurkan, menghilangkan, menyembunyikan benda-benda terhadap mana atau dengan mana kejahatan dilakukan atau bekas-bekas kejahatan lainnya, atau menariknya dari pemeriksaan yang dilakukan oleh pejabat kehakiman atau kepolisian maupun oleh orang lain, yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi menjalankan jabatan kepolisian."


"Ibu, apa yang terjadi?" tanya anak perempuannya, tapi tak ada sahutan yang keluar dari bibir wanita setengah baya yang kini menatap kosong pada lantai berwarna putih yang ada di hadapannya.


"Pak, ada apa? Mengapa Ibu mertua saya jadi begini?" tanya Sania pada kedua polisi yang berdiri di depan mereka.


"Kami mendapatkan perintah penangkapan saudara Farhan atas tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan kepada saudara Reyhan."


"A-apa? Suami saya melakukan percobaan pembunuhan kepada Reyhan?" Sania menutup mulutnya yang terbuka. Begitupun dengan adiknya Farhan yang sedang menenangkan Ibunya.


"Benar, Mbak. Ohya, mengapa tubuh dan wajah anda penuh lebam dan ada bercak darah yang mengering? Apa anda mendapatkan kekerasan?" tanya polisi itu penuh dengan selidik sembari menelisik keadaan Sania. Sania hanya mengerling sebentar kepada dua wanita yang kini sesenggukan. Melihat keadaan yang menyedihkan seperti itu membuat Sania enggan untuk mengungkapkan kebenarannya. Ia tidak ingin menambah berat hukuman sang suami. Karna bagaimanapun juga ia sangat mencintai Farhan meski pria itu tak pernah mencintainya dan selalu berlaku kasar padanya.


"Ini bukan apa-apa, Pak. Saya hanya terjatuh." bohong Sania. Ia memaksakan senyum di wajahnya yang lebam.


"Apakah anda yakin?"


"Ya, saya yakin." jawab Sania dengan tegas seraya mengangguk yakin. Ia tidak akan mengadukan perbuatan Farhan karena ia sangat menyayangi pria itu.


"Baiklah, apa saudara Farhan ada di dalam? mohon untuk tidak menghalangi tugas kami."


"Maaf Pak, suami saya sedang tidak ada di rumah."


Polisi itu menatap Sania dengan tatapan mengintimidasi. "Mohon kerjasamanya, Mbak. Jangan menghalangi tugas kami jika tidak ingin di kenakan pasal 221 KUHP ayat 1."


"Saya tidak mencoba menghalangi Bapak, tapi tapi suami saya memang sedang tidak ada di rumah."


"Bukankah tadi anda dan saudara Farhan baru saja bertengkar? Jangan menipu polisi Mbak."


"Saya tidak menipu Anda, Pak. Setelah bertengkar suami saya langsung keluar dan tidak kembali lagi ke kamar hingga saat ini."


jelas Sania.


"Boleh saya masuk ke dalam?"


"Silahkan, Pak." Sania mempersilahkan kedua polisi itu untuk masuk ke dalam rumah. Kedua pria yang berseragam dengan atribut lengkap itu segera menggeledah rumah Farhan. Tapi tidak di temukan keberadaan sang tersangka sehingga mereka kembali keluar dengan tangan kosong.


"Apakah anda mengetahui kemana perginya suami anda?"


"Maaf Pak, saya benar-benar tidak tahu." jawab Sania jujur. Kedua polisi itu berbalik memandang adik Farhan yang langsung di jawab dengan gelengan olehnya.


"Pak itu Farhan!" terdengar teriakan dari salah seorang Ibu-ibu bertubuh gempal yang sedari tadi ikut menonton keributan yang terjadi. Teriakan dari Ibu itu membuat semua yang ada di sana menoleh ke arah yang di tunjuk. Memang benar, terlihat Farhan yang sedang berlari di seberang jalan yang lumayan jauh dengan sesekali menoleh ke belakang. Tanpa membuang waktu, kedua polisi itu segera berlari mengejar Farhan yang tidak mau juga berhenti meski tembakan peringatan terdengar menggema.


"Jangan tembak anak saya! Jangan tembak anak saya!" teriak Ibu Farhan histeris. Wanita itu meraung dengan tubuh lemas, membayangkan jika anaknya terkena tembakan yang akan terasa sangat menyakitkan.


"Farhan! Anakku!" lirih wanita itu penuh dengan luka dan nada pilu. Pandangannya jauh menerawang ke depan, melihat adegan kejar-kejaran antara anaknya dan para polisi yang sesekali menembakkan peluru ke atas.