
Seorang wanita yang tengah berbaring di brangkar rumah sakit mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk menusuk kornea mata. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan, tidak ada siapapun di sana.
Ruangan bernuansa putih itu terasa sepi, bau obat-obatan menyeruak menusuk indera penciuman.
Seketika ingatannya kembali pada waktu dimana sebelum ia jatuh pingsan. Saat itu tubuhnya terasa sangat lemah dengan kepala yang sakit luar biasa. Farhan yang terus menodongkan senjata api di di dekatnya dan Reyhan yang penuh luka berusaha mencegah Farhan berbuat hal yang membahayakan. Mata hitam kelam milik Reyhan yang menatapnya dengan sendu, menyiratkan cinta yang teramat dalam. Menatap sedih kepadanya, berharap semua badai itu segera berlalu dan tinggallah kebahagiaan yang nyata.
Amora segera duduk ketika teringat pria yang kini ada di hatinya itu. Ketika tubuhnya di paksa duduk, kepalanya terasa sangat sakit sehingga wanita itu refleks memegangi kepalanya.
"Akh ... kenapa sakit sekali?" lirihnya seraya tetap berusaha bangun. Ia duduk bersandar dengan terus memegangi kepalanya.
"Reyhan ... Dimana dia?" netranya liar mencari sosok seorang pria yang selalu di rindukannya itu.
Tak lama pintu ruang rawatnya terbuka, seorang wanita yang mengenakan gamis berwarna abu tua berjalan perlahan menghampiri Amora. Wanita itu mengulas senyum, menghampiri Amora yang masih duduk di tempatnya.
"Amora, kamu sudah sadar?" tanya istri Hanif itu setelah berjalan lebih dekat.
"Allhamdulillah sudah kak. Kakak bersama siapa?" tanya Amora seraya menengok ke belakang tubuh kakak iparnya, berharap Reyhan ikut masuk agar hatinya tak tersiksa rasa khawatir dan rindu yang menjadi satu.
"Tadinya kakak bersama kakakmu, tapi sekarang sedang menemani Reyhan ke kantor polisi." jelas istri Hanif seraya duduk di sisi ranjang sebelah kanan.
"Ke kantor polisi?" Amora mengernyitkan dahi. Wanita yang ada di hadapannya segera mengangguk, memberi penjelasan tanpa di minta.
"Reyhan di minta memberikan keterangan tentang kejahatan yang Farhan lakukan."
Amora hanya mengangguk pelan.
"Tadinya, suamimu itu menjaga kamu 24jam. Bahkan awalnya dia menolak untuk meninggalkan kamu sendirian di sini. Tapi karena kakakmu membujuknya dengan jaminan Kakak yang akan menjagamu, barulah dia mau ke kantor polisi."
"Kakak rasa Reyhan sangat mencintai kamu, Ra. Bahkan dia tidak beranjak dari sini. Setia menunggu kamu sadar dan merawatmu dengan telaten."
"Memangnya Amora pingsan berapa hari, kak?"
"Hampir dua hari." jawab wanita mengenakan kerudung hitam itu.
"Kamu membuat kami semua cemas, terutama Reyhan. Bahkan ia tidak tidur hanya karena menunggumu,"
"Waktu itu tubuhmu sangat lemah dan shock, sehingga kamu pingsan. Tapi wajar sih kamu sampai shock begitu," imbuhnya seraya berdiri mengambil semangkuk makanan rumah sakit yang ada di atas nakas.
"Lalu Farhan sekarang bagaimana kak?"
"Ya bagaimana lagi? Ya di penjara dong. Kan dia sudah melakukan tindakan kriminal. Penjara memang pantas untuk pria seperti dia itu. Jangan sampai dia di biarkan bebas begitu saja, karena sangat membahayakan. Lihat saja, kalian sudah jadi korbannya. Mungkin karena obsesi yang terlalu tinggi sehingga Farhan nekat melakukan hal itu."
Amora hanya diam mendengar apa yang di katakan kakak iparnya itu. Ia pun tak menyangka jika akhirnya cinta dapat membutakan segalanya. Tidak. Itu bukan cinta, melainkan obsesi serta ekpektasi yang tinggi. Memaksakan kehendak tanpa peduli bagaimana perasaan orang lain. Cinta harusnya membahagiakan, saling mengerti satu sama lain. Bukannya saling menyakiti dan memaksa untuk memiliki.
Cinta, bukan tentang memiliki atau tidak. Bukan tentang memaksakan kehendak, tapi cinta tentang dua rasa yang saling memahami. Tentang keikhlasan serta kenyamanan antara dua pihak, bukan hanya satu pihak. Jika tidak bisa memiliki, setidaknya biarkan dia bahagia bersama cinta yang ia pilih.
"Ayo makan, biar Kakak yang suapin."
Amora menggeleng.
"Amora sedang tidak ingin makan, kak."
"Jangan menolak. Perutmu kosong sejak kemarin. Tubuhmu lemah tidak ada tenaga. Lagi pula, kakak tidak mau jika nanti akan di marahi oleh suamimu itu jika tidak bisa mengurusmu dengan benar."
Amora terkekeh.
"Memangnya kapan kita melihat Reyhan marah?" Amora mengangkat sebelah alisnya.
"Memang sih, tidak pernah Reyhan marah. Tapi jika itu menyangkut tentang istrinya, kucing imut akan berubah menjadi singa jika terjadi apa-apa dengan orang yang di cintainya."
"Kakak bisa saja."
"Ayo makan. Biar cepat pulih."
"Ya, baiklah." Amora mengangguk seraya menerima suapan dari sang kakak ipar.