
Sania menyerahkan selembar uang sepuluh ribu miliknya. Tersenyum lebar seraya menatap Ibu pemilik warung tanpa dosa.
"Apa ini?" wanita bertubuh tambun itu mengernyitkan dahi. Beberapa gurat kebingungan itu terlihat sangat jelas di wajahnya. Ia memindai antara uang sepuluh ribu yang di serahkan Sania dan wajah Sania yang tidak merasa bersalah sama sekali.
"Itu uang untuk membayar makanan saya," kata Sania ringan tanpa beban.
"Kamu sudah gila?!"
Sania terkejut, tubuhnya berjingkat. Ia menarik diri untuk tidak terlalu dekat demi segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Kamu mau membayar makanan kamu dengan uang sepuluh ribu?" tanya Ibu itu dengan marah. Ia menatap Sania dengan marah serta kesal.
Sania mengangguk ragu sembari mengatur ritme jantungnya yang kini berdebar semakin kencang. Bukan karena jatuh cinta, melainkan karena terkejut dan juga rasa takut yang datang bersamaan menyerangnya.
"Ta-tapi itu ...." cicit Sania. Ia menatap takut pada wajah garang sang Ibu pemilik warung. Telunjuknya menunjuk tulisan dengan angka besar yang terpampang jelas di depan. Ibu bertubuh tambun itu mengikuti ke arah yang di tunjuk oleh Sania. Ia semakin kesal dan kini berkacak pinggang.
"Apa karena itu makanya kamu mau membayar sepuluh ribu atas makanan yang kamu makan?" Ibu itu mendelik marah, menunggu jawaban Sania yang pasti akan semakin menyulut api emosi yang kini tengah menyala menguasai dirinya.
"Bukankah memang sepuluh ribu? Benarkan? Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?" tiba-tiba keberanian dan keangkuhan dalam dirinya muncul. Ia tidak bisa di salahkan begitu saja karena menurutnya ia memang benar.
"Kamu bercanda?"
"Siapa yang bercanda? saya hanya membayar sesuai harga yang semestinya."
"Ya Tuhan kamu ini berasal dari mana sih? Makan segitu banyaknya cuma mau bayar sepuluh ribu." keluh Ibu itu seraya menggelengkan kepalanya yang pusing. Melihat pakaian yang Sania pakai, tidak mungkin rasanya jika wanita ini tidak punya uang ataupun orang yang setengah gila.
"Asal kamu tahu, ya. Sepuluh ribu itu cuma lauk tempe dan tahu!" kesal sang pemilik warung.
"Wah ini berarti penipuan! Jelas-jelas sudah tertera di sana harganya sepuluh ribu. Ibu mau mengelabui saya, ya? Mentang-mentang saya baru makan di sini."
"Siapa yang mau mengelabui kamu hah? Kamu itu bisa berpikir tidak? dengan lauk sebanyak itu kamu cuma mau bayar sepuluh ribu. Makanya kalau tidak punya duit itu jangan banyak tingkah! sok mau makan enak, tidak punya duit. Gaya selangit sok elit, eh ternyata tidak punya duit. Menang di gaya kalah di nasib!" cibir Ibu itu dengan kesal.
"Jangan seenaknya saja mengatai orang! Siapa bilang tidak punya uang? Jangan sembarangan!" rasa gengsi serta angkuh itu tak juga mau pergi. Ia tidak terima di remehkan begitu saja. Ia merasa harga dirinya di injak-injak dan dia tidak ingin ada orang lain yang menghinanya.
"Sudah kere, sok kaya pula." cibir Ibu pemilik warung dengan kesal.
"Siapa yang sok kaya? Saya memang kaya! Jadi jaga bicara anda!" teriak Sania marah.
"Kalau begitu bayar semua makanan kamu! Jangan cuma bicara tidak jelas!"
Sania menggaruk kepalanya, terbengong sebentar tapi dengan cepat ia kembali menguasai diri. Ia mengangkat dagunya, menatap remeh pada Ibu warung yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"Memangnya berapa total semuanya?"
"Mengapa menjadi lima puluh ribu? Kenapa mahal sekali?" protesnya dengan kesal.
"Mahal katamu? Memangnya kamu kira ayam dan daging sapi yang kamu makan aku ambil dari kebun? Katanya orang kaya, tapi baru makan lima puluh ribu saja sudah kaget." lagi, wanita itu mencibir dengan tatapan sengit yang ia lemparkan pada Sania.
"Saya memang orang kaya! Warung jelek Ibu ini pun bis saya beli." ujar Sania dengan angkuh dan sombong.
"Sudah miskin, sombong pula! Dasar tidak tahu malu."
"Ibu jangan berani-beraninya mengatai saya ya!"
"Memang kenyataannya begitu kok. Sudahlah jangan banyak bicara! Sekarang bayar semuanya!"
Sania kebingungan. Baru kali ini menyesali ucapan yang telah ia lontarkan begitu saja.
"A-auu ... Ta- tapi."
"Apa? Jika tidak bisa bayar, maka hari ini kamu harus cuci piring dan bersih-bersih di warung saya." ucap Ibu sang pemilik warung sehingga membuat wanita itu membelalakkan matanya.
"Saya? mencuci piring? Bersih-bersih?"
Ibu itu mengangguk mengiyakan pertanyaan Sania yang seharusnya tidak perlu lagi di pertanyakan.
"Saya tidak mau!" tolak Sania dengan cepat.
"Enak saja tidak mau! Kalau begitu bayar makanan kamu!"
Sania terdiam. Ia bingung harus bagaimana.
Apalagi sejak tadi mulai ramai warga sekitar dan para pelanggan yang datang Karena mendengar keributan yang terjadi. Di tengah kebingungan itu, ada seorang pria yang membelah kerumunan orang-orang dan maju ke depan.
"Memangnya berapa semua totalnya, Bu?"
"Lima puluh ribu! Dan wanita ini ngotot tidak mau bayar dan masih sok kaya padahal tidak punya uang."
"Biar saya yang bayar." ucapnya yang sontak saja membuat Sania melotot tak percaya terlebih lagi ia mulai mengenali siapa pria yang kini menjadi sosok pahlawan kesiangan yang membantunya.
"Kamu?" Sania menunjuk pria yang tidak asing lagi untuknya itu.
"Lah, kamu Sania kan?" pria itu sama terkejutnya. Mendapati keadaan Sania yang seperti ini jujur saja membuatnya sok dan tidak percaya.