Suami Sementara

Suami Sementara
Istri durhakim


Happy reading zheyeng 😘😘


________________________


"Ayo buka mulutmu!" Amora menyodorkan satu sendok penuh bubur ke mulut Reyhan. Pria itu hanya diam dan tak mau membuka mulut. Mereka hanya berdua di ruang rawat Reyhan, mama Riana pamit pulang.


"Aku tidak mau." ujar Reyhan tetap menutup mulut.


"Kamu harus makan!"


"Aku tidak berselera. Makanan rumah sakit itu tidak enak!" Reyhan menggeleng seraya menutup mulut.


"Dasar anak kecil!" umpat Amora kesal.


"Apa kamu bilang? Anak kecil?"


Reyhan mendelik tak terima.


"Iya, kamu itu seperti anak kecil." sindir Amora.


"Enak saja! Mana ada seperti anak kecil. Pria yang kau bilang seperti anak kecil ini bisa membuat anak kecil asal kau tahu."


"Apa?"


"Apa? kenapa terkejut?"


"Dasar mesum!"


"Mesum apanya? aku hanya berkata sesuai fakta!"


"Ya tapi Nggak begitu juga Bambang!" sinis Amora.


"Jadi bagaimana? kamu mau praktek?" tantang Reyhan seraya mengangkat kedua alisnya. Sudut bibir terangkat.


"Apa kau bilang?" Amora mendelik, semburat merah terlihat sangat jelas di wajah wanita itu.


"Ayo kita praktek!" Reyhan menarik tangan kiri Amora. Amora semakin mendelik menatap tangan Reyhan. Kemudian beralih pada wajah penuh senyum pria itu.


"Kau gila!" Amora menyentil kening Reyhan.


"Aww ... sakit!" Reyhan meringis seraya mengusap keningnya.


"Begitu aja sakit!" cibir Amora.


"Aku ini lagi sakit, kamu malah menganiayaku. Awas nanti kalo mama kesini, aku aduin semua perlakuan kamu! biar di omelin."


"Aduin aja! palingan kamu yang di omelin balik." Amora menjulurkan lidahnya, sehingga membuat Reyhan gemas.


"Nanti ku gigit lidah kamu. Baru nangis!"


Amora langsung menutup mulutnya dan melotot tak percaya.


"Sepertinya dokter salah memberimu obat." Amora memegang kening Reyhan lalu berdiri, ia meletakkan kembali bubur yang masih utuh itu ke atas nakas.


"Mau kemana?" tanya Reyhan ketika Amora mulai beranjak.


"Mau nemuin dokter, pasti obat yang di berikan kamu salah."


"Apa maksudmu?" Reyhan bingung.


Amora berbalik, kembali berjalan mendekati Reyhan seraya berbisik.


"Ku rasa dokter salah kasih obat deh."


Reyhan hanya mengernyitkan dahi, sungguh ia sangat bingung dengan apa yang di ucapkan Amora.


"Iya, karena harusnya di kasih ke pasien penyakit jiwa. Eh malah di kasih ke kamu, makanya kamu jadi aneh gini."


Reyhan melotot, dengan cepat ia menarik telinga Amora.


"Dasar istri durhakim! jadi kamu ngatain suami kamu ini gila!"


"Aduh ... ampun- ampun! sakit, lepasin!" Amora mengadu kesakitan dengan cepat Reyhan melepaskannya. Amora mengusap telinganya yang memerah.


"Maaf-maaf," ujar Reyhan.


"Tiada maaf bagimu, perguso!"


"Jadi maunya apa? Gerandong?"


"Kamu Mak lampir."


"Wah penghinaan! cantik gini di bilang Mak lampir!"


"Terus apa? mbak kunti?"


"Sini kamu! aku kutuk ntar jadi kodok."


"Astaga, kamu benar-benar istri durhakim."


"Kamu suami durhakim!"


"Astaghfirullah."


"Kenapa Pak Ustadz?"


"Nggak papa, Bu. I love you."


"Apa?"


"Ah nggak papa, Ateng kejepit kayu." Reyhan pura-pura tidak tahu.


"Kau bilang apa tadi?" todong Amora.


"Memangnya apa? aku tidak mengatakan apa-apa. Lupakan, itu tidak penting!"


"Apa? tidak penting?"


Reyhan mengangguk.


"Baiklah." kata Amora. Ada rasa kecewa yang menyentil ujung hatinya.


"Kau mau kemana?" tanya Reyhan ketika Amora akan keluar dari ruang rawat.


"Cari angin." jawab Amora singkat.


"Hey kau belum menyuapi aku makan!"


Amora berbalik seraya berkacak pinggang.


"Kau punya tangan kan?"


Reyhan mengangguk.


"Ya udah, makan sendiri! Gunain itu tangan dengan benar!" kesal Amora. Ia kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Ia menutup pintu dengan keras sehingga membuat Reyhan terkejut.


"Kenapa lagi sih? aneh banget. Dasar wanita!" rutuknya kesal. Ia melirik bubur yang mulai dingin, ingin meraihnya tapi ia urungkan.


"Ah aku tidak berselera." pria itu kembali merebahkan tubuh ke atas ranjang seraya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


❣️❣️❣️


Amora menuju taman rumah sakit, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kursi panjang yang ada di sana.


"Kenapa aku kesal ya?" tanya Amora pada diri sendiri.


"Kenapa aku berharap ia mengulangi kalimat yang ia ucapkan tadi?"


"Apa benar aku mulai suka pada pria menyebalkan itu? ah bener ada yang tidak beres sama otak." Amora mengetukkan jemarinya ke kepalanya.


"Amora." terdengar suara seorang pria di belakangnya.


"Kamu?"


❣️❣️❣️


Hai zheyeng 😘


jaga kesehatan ya. Jangan lupa dukung terus karya author, biar makin semangat up nya🙊🙊


elepyyuuuuuu full pokoknya 🥰