
Happy reading zheyeng 😘😘
____________________
Amora mencari Reyhan ke kamarnya, tapi disana sepi. Reyhan tidak ada di sana membuatnya bingung.
"Rey ...." panggil Amora pelan. Wanita berjalan perlahan ke kamar mandi, telinganya menempel di pintu yang tertutup.
"Rey, apa kau di dalam ?" tak ada sahutan. Hanya hening dan tak ada suara gemericik air atau apapun. Membuatnya semakin bingung, Amora membuka perlahan pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci. Matanya terpejam, lalu terbuka sedikit untuk mengintip.
"Ah, Reyhan juga tidak di sini. Di mana pria menyebalkan itu." Amora membuka matanya lebar-lebar. Lalu menutup kembali pintu kamar mandi lalu berjalan menuju ranjang yang kosong. Tapi belum sempat Amora sampai, tiba-tiba kamarnya berubah menjadi gelap.
"Loh, kenapa gelap?" ujarnya kebingungan. Ia yang sangat takut dengan gelap menjadi kelimpungan.
"Reyhan ...." teriaknya. Ia pun berjalan dalan gelap, tangannya mencoba meraba-raba mencari dinding atau apa saja.
"Aku takut." lirihnya.
"Reyhan, kau dimana?" gumamnya seraya terus berjalan menelusuri dinding untuk mencari sakelar lampu.
"Akh ...." Amora terjatuh, kakinya tersandung sesuatu.
"Aduh, sakit." Amora meringis, berjongkok memegangi lutut yang mungkin sekarang telah membiru. Amora mengedarkan pandangannya tapi semua gelap, tak ada satupun cahaya yang dapat ia lihat. Amora tak bisa melihat apapun dalam ruangan yang gelap gulita itu. Ia takut, rasa sakit di kakinya tak sebanding dengan rasa takut yang menyelimuti dirinya saat ini.
Ingatan dua belas tahun silam kembali terngiang. Seorang anak perempuan menangis di ruangan gelap dan sempit.
"Ibu, aku takut." anak itu menangis pilu, ia sangat ketakutan. Ruangan itu sangat gelap dan sempit membuat napasnya terasa sesak.
Ia menangis tersedu-sedu, tapi tidak ada yang mendengar sama sekali.
"Kakak dimana? aku terkunci di sini. Huhuhuhu ...." lirihnya di sela tangis yang tak mau reda dan malah menjadi. Kian lama, dadanya semakin terasa sesak. Udara tak cukup di dalam ruangan sempit dan gelap itu. Gadis kecil itu memegangi dada, memukulnya pelan berkali-kali tapi apa yang ia lakukan tak mengurangi sedikitpun rasa sesak yang kian menghimpit dadanya.
"Ibu, kakak ... Aku di sini." lirihnya dengan sisa tenaga yang tersisa. Tubuhnya menggigil ketakutan, tangan mungilnya terulur mencoba menggedor pintu kayu yang menjadi penghalang di depannya. Detik berikutnya, tangan mungil itu terkulai di susul dengan tubuhnya yang ikut melemah dan bersandar.
"To- long ...." ucapnya parau, hampir tak terdengar.
"Amora ...." terdengar suara yang memanggil gadis itu di barengi dengan terbukanya pintu lemari yang semula terkunci rapat. Perlahan gadis itu melihat cahaya menembus masuk ke netranya. Tapi selanjutnya semua kembali gelap, gadis kecil itu pingsan.
"Ya Tuhan ... anakku!" jerit seorang wanita yang merupakan Ibu dari gadis kecil itu. Ibu muda itu tak kuasa menahan tangis, ia menjerit histeris melihat gadis kecil yang sangat ia cintai itu terkulai lemas tak sadarkan diri.
"Ya Tuhan, Amora!" Ayahnya yang datang menyusul segera mengangkat tubuh anaknya dan membawa tubuh mungil itu ke atas ranjang. Amora terkunci di dalam lemari karena bermain petak umpet bersama sang kakak dan sahabat perempuannya. Entah bagaimana bisa terkunci dan membuat Amora tak bisa keluar dari sana. Hanif yang saat itu berusia dua belas tahun melihat Amora dengan ketakutan. Rasa cemas, rasa bersalah, khawatir serta takut berbaur menjadi satu. Ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Amora, adiknya. Ia tak berhenti menangis seraya mendekati adiknya. Sementara seorang gadis kecil seumuran Amora berdiam diri di dekat pintu kamar, melihat semuanya dengan pandangan datar. Matanya menatap kosong pada Amora yang terkulai lemah tak berdaya.
"Amora ...." suara Reyhan terdengar mendekati Amora yang sedang memeluk lutut dengan tangis memilukan. Tubuhnya menggigil, kepalanya menunduk. Reyhan berjongkok dan menyentuh bahu Amora yang bergetar. Amora terkejut kala Reyhan menyentuhnya hingga tubuhnya refleks mundur ke belakang.
"Reyhan ...." Amora melihat wajah Reyhan yang tampak samar karena cahaya dari sinar ponsel yang pria itu bawa. Detik selanjutnya, Amora menghambur ke dalam pelukan pria itu. Membuat Reyhan terkejut dan hampir terjengkang karena menahan bobot tubuh Amora.
"Aku takut ...." ucap Amora di sela tangis. Ia memeluk tubuh Reyhan dengan erat. Ia benar-benar takut gelap karena trauma yang pernah di alaminya.
"A- aku di sini ...." Reyhan tergagap. Tangannya tergantung di udara, ingin membalas pelukan Amora tapi ia ragu.
Tangannya ingin mengelus punggung Amora, tapi ia tarik kembali. Ada ragu yang mendera, tapi rasa tak tega dan khawatir lebih besar sehingga ia tempelkan juga tangan itu ke punggung Amora yang bergetar karena tangis. Reyhan mengusapnya perlahan serta dengan lembut.
Mereka berpelukan cukup lama, tubuh Amora yang semula menggigil ketakutan pun kini sudah tenang. Tangisnya berangsur hilang. Tangan Reyhan tak berhenti mengusap dengan lembut punggung Amora mengalirkan rasa nyaman dan tenang.
Tak lama listrik menyala dan semua ruangan kembali terang benderang. Tak ada lagi gelap yang membuat Amora menjerit ketakutan.
"Allhamdulillah," Reyhan melihat sekeliling, ia baru tersadar dengan posisinya yang sangat intim. Tubuh mereka menempel satu sama lain, hanya terhalang oleh pakaian. Tiba-tiba tangannya yang semula mengusap punggung Amora, kini berhenti. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, lalu matanya turun pada kepala Amora yang menempel di dadanya. Darahnya berdesir, jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya.
"A-Amora." Panggilnya. Tak ada sahutan, hanya terdengar dengkuran halus dari wanita itu. Reyhan mengguncang bahu Amora dengan pelan, tapi Amora bergeming. Wanita itu tertidur.
"Astaga! "
Reyhan berpikir sejenak, ia melihat ranjang yang tak jauh dari darinya. Ia tak berpikir lama, ia memutar tubuh Amora dan meletakkan tangannya di bawah lutut wanita itu. Lalu membawanya menuju ranjang, ia membaringkan Amora dengan perlahan. Meletakkan kepala wanita itu ke atas bantal lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh wanita itu. Ia sempatkan mengelus kepala Amora lalu beranjak untuk pergi. Ia berniat tidur di sofa ruang tamu. Tapi sebelum jauh ia melangkah, ia merasa ada yang menarik tangannya sehingga langkahnya terhenti. Ia menoleh, melihat tangannya yang di genggam Amora dengan kuat. Pandangannya beralih ke wajah Amora yang sayu.
"Jangan pergi! Aku takut ...." lirihnya.
"A-aku ...."
"Temani aku. Aku sangat takut." Amora memelas. Ia memohon pada Reyhan dengan wajah ketakutan membuat Reyhan tak tega.
"Baiklah." ucap Reyhan akhirnya. Ia berdiri kikuk, bingung harus bagaimana.
"Temani aku tidur, disini ...." Amora menggeser tubuhnya, memberikan ruang untuk Reyhan. Reyhan terbelalak.
"Di- disini?" Reyhan menunjuk ranjang yang kosong di sebelah Amora. Amora hanya mengangguk membuat Reyhan meneguk ludah. Ia maju beberapa langkah dengan ragu, lalu perlahan mulai membaringkan tubuhnya dengan tegang. Genggaman tangan Amora yang dingin tak terlepas sedikit pun, wanita itu kembali tertidur dengan meringkuk. Tangan Reyhan tak kuasa untuk membiarkan tubuh yang terlihat rapuh di sebelahnya. Ia menggeser tubuhnya mendekat pada Amora, menarik perlahan tubuh wanita itu. Memberikan pelukan hangat yang membuat Amora merasa aman dan nyaman. Ia kembali tertidur dengan tenang. Kembali terdengar dengkuran halus dari wanita itu. Tangan Reyhan mengelus kepala Amora dengan lembut hingga kantuk menyerangnya. Ia tak kuasa menahan kantuk, ia pun tertidur sembari memeluk Amora sepanjang malam.
❤️❤️❤️
Jangan lupa like dan komentar ya zheyeng 😘
Makasih buat kalian yang selalu menyempatkan waktu buat baca karya recehku. Makasih banyak atas dukungan kalian semua🥰😘
I love you all😘