Suami Sementara

Suami Sementara
Keputusan Hanif


Happy reading zheyeng 😘😘


____________________


Di ruang rawat


"Jadi, bagaimana? kapan kalian akan menikah?" tanya Hanif seraya menatap Amora dan Reyhan secara bergantian. Sedangkan sepasang anak manusia itu hanya terbengong tanpa bisa menjawab apa-apa.


"Maksud kakak?" Amora yang memberanikan diri untuk bertanya.


"Ya rencana Farhan, apa akan tetap berlangsung?" tanya Hanif ingin tahu. Ia menanti jawaban dari keduanya. Begitupun dengan Rasty yang hanya menjadi pendengar sedari tadi.


"Amora, tidak tahu." ucap Amora tertunduk. Ia menggigit bibir seraya meremas jemarinya. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Di sisi lain, ia masih mencintai Farhan dan ingin kembali padanya. Tapi di satu sisi, ia tidak ingin kembali melukai Sania. Biar bagaimanapun, Amora masih menyayangi sahabatnya itu.


"Aku ikut Amora aja, bang." ucap Reyhan. Ia yang masih setia menunduk, menatap ujung selimut yang ia kenakan.


Hanif menaik turunkan alisnya, memberikan kode pada Reyhan. Tapi malah membuat Reyhan bingung.


"Kenapa, bang?" tanya Reyhan bingung.


"Yang kemarin." jawab Hanif setengah berbisik dan menghampiri Reyhan.


"Yang mana? aku lupa."


"Astaga ini anak!" Hanif menatap Reyhan dengan geram. Sedangkan Reyhan hanya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Rasty hanya menggelengkan kepala melihat mereka berdua. Pembawaannya yang kalem dan irit bicara, membuat Rasty hanya menjadi pendengar. Wanita itu berjalan menuju sopa, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang empuk.


Amora mengangkat kepalanya, menatap Hanif dan Reyhan bergantian.


"Kalian berdua kenapa sih?" tanya Amora bingung. Tapi tidak ada jawaban dari keduanya, Reyhan menggelengkan kepala sedangkan Hanif malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Amora bertanya pada Rasty dengan mengangkat dagu, tapi Rasty hanya mengangkat kedua bahunya.


"Kalian punya rahasia?" Amora memicingkan matanya. Menatap ketiganya dengan tajam. Seperti di komando, ketiganya menggelengkan kepala dengan serempak.


"Kompak banget, sih? kok aku jadi curiga." ujarnya seraya mengetukkan jari ke dagu.


"Ohya, kakak tahu darimana tentang rencana Farhan? dan ... pernikahan ku?"


Hanif salah tingkah, ia tak bisa lagi mengelak.


"Ummm ... anu, si Reyhan." jawab Hanif seraya menunjuk Reyhan yang seketika langsung melotot.


"Kenapa aku?" protesnya.


"Iya, kamu. Siapa lagi?" Hanif mendelik, seraya mengedipkan sebelah matanya memberi kode.


"Kenapa sih?" Reyhan masih tak mengerti.


Amora melihat mereka dengan bingung.


"Ada apa dengan kenapa?" tanya Amora asal.


"Hah ...?" Ketiganya melongo. Bingung dengan pertanyaan Amora yang sedikit aneh.


"Abisnya kalian saling nanya kenapa, kan aku bingung." Amora menggerutu.


"Kak Hanif? kapan tiba di Jakarta?" suara Farhan yang datang tiba-tiba membuat perhatian mereka beralih. Ke empat orang itu pun menoleh ke sumber suara dengan serempak.


"Baru saja." jawab Hanif singkat.


Farhan menghampiri Hanif dan menjabat tangannya tapi tidak pada Rasty, karena Rasty hanya menyatukan kedua tangannya di depan dada.


"Kau tidak ke kantor?" Farhan menepuk bahu Reyhan, lalu menghampiri ranjang tempat Amora berbaring dan duduk di sana.


"Kamu sudah baikan, sayang?" Farhan menyentuh dahi Amora untuk merasakan panas tubuh wanita itu. Lalu mengecup pucuk kepala Amora dengan lembut.


"Cepat sembuh sayang, aku tidak mau melihatmu sakit begini." ujarnya seraya membelai rambut Amora yang sedikit berantakan.


Amora terperangah dengan apa yang di lakukan Farhan. Ia menatap Farhan tak percaya. Begitupun dengan ketiga orang yang ada di sana.


Farhan meraih jemari Amora, meremasnya sebentar lalu mengecupnya. Amora hanya membiarkan Farhan melakukannya. Sesungguhnya, ia pun merindukan perlakuan manis dari pria ini. Ia menikmati momen yang sudah lama tak ia rasakan.


"Apa rencana untuk menjadikan Reyhan muhalil itu akan tetap berjalan?" pertanyaan Hanif berhasil membuat Farhan menghentikan aksinya. Reyhan melemparkan pandangannya pada Hanif yang sedang menatap Farhan dengan tajam. Ia benar-benar muak dengan kebohongan yang pria itu tunjukkan.


"Ah, itu. Apa kakak sudah mengetahui rencana kita?" tanya Farhan seraya tersenyum.


Hanif hanya berdiri tanpa suara. Enggan rasanya ia berbicara dengan pria yang sudah menyakiti adiknya itu. Wajah yang sok manis dan penuh kebohongan, membuatnya muak.


"Reyhan akan menikah dengan Amora agar aku kita bisa rujuk kembali." lanjutnya seraya menatap Amora penuh arti.


"Benar kan, sayang?"


Tak ada jawaban dari Amora, wanita itu hanya diam tak bersuara. Sesekali terdengar helaan napas berat darinya. Farhan merengkuh bahu Amora, mengusap perlahan lengan wanita itu.


"Kamu mau kan menikah dengan Reyhan?" bisik Farhan di telinga Amora.


Pria itu menarik bahu Amora agar berhadapan dengannya.


"Demi kita. Aku ingin kita bersama lagi, sayang. Aku ingin kita memulai kisah cinta kita dari awal. Aku tidak bisa hidup tanpamu."


Farhan menatap Amora dengan pandangan memelas. Ia memasang raut wajah bersalah dan memohon, agar Amora iba dan mau mengikuti rencananya.


"Tapi ...." Amora ragu.


"Hanya tiga bulan, sayang. Setelah itu kalian bercerai dan kita bisa menikah lagi. Kita akan hidup bersama lagi." bujuk Farhan seraya tersenyum penuh semangat.


"Menikahlah dengan Reyhan, Amora. Ini demi kebaikan kamu juga." kata Hanif dengan senyum penuh arti. Pria itu kini tah duduk di samping istrinya. Amora menoleh, memperhatikan wajah Hanif yang meyakinkan. Begitupun dengan Rasty, wanita itu tersenyum seraya mengangguk. Sedangkan Reyhan hanya diam tanpa berkata apapun. Ia berdiri memandangi ujung kaki yang menyentuh lantai yang berwarna putih.


"Baiklah, aku akan menikah dengan Reyhan." ujar Amora setelah beberapa saat. Ucapan Amora barusan membuat Farhan sumringah, ia memeluk Amora dengan erat.


"Terima kasih, sayang."


Amora hanya diam melihat ekspresi Reyhan yang terkejut. Pria itu tak lagi menatap ubin, tapi beralih menatap Amora yang juga menatapnya. Keterkejutan tak bisa di hilangkan dari wajahnya. Ia tak menyangka Amora benar-benar akan menikah dengannya, ya mesti itu hanya pernikahan sementara. Ada setitik harapan untuknya, ada setitik bahagia yang menyentuh hatinya. Tak apa jika nanti ia hanya akan menjadi suami sementara untuk Amora. Ia pun tak berharap mendapatkan balasan cinta dari Amora, karena ia tak bisa memaksa perasaan seseorang.


Hanif dan Rasty tersenyum, mereka duduk dengan tangan saling menggenggam. Besar harapan mereka pada Reyhan. Mereka yakin Reyhan bisa melepaskan Amora dari kidung derita. Dari jeratan kebohongan yang Farhan ciptakan. Tak ada maksud lain yang tersimpan dalam hati mereka. Tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk kebahagiaan Amora.


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Hanif seraya memandang Reyhan dan Amora bergantian. Sedangkan dua anak manusia yang sedang berperang dengan pikiran masing-masing itu hanya diam tak menanggapi. Mereka terlalu sibuk dengan hati dan pikiran yang tak tentu arah.


"Lebih cepat lebih baik, sehingga mereka bisa secepatnya bercerai." seloroh Farhan seraya tersenyum lebar.


Hanif tersenyum sinis.


"Bagaimana kalau besok?" tanya Hanif.


"Kata dokter, hari ini Amora sudah bisa pulang karena luka dan kondisi tubuh Amora sudah membaik. Bagaimana?" tanya Hanif menanti jawaban. Sedangkan kedua orang yang bersangkutan hanya larut dalam pikiran yang berkecamuk.


"Halo calon pengantin, bagaimana?" Hanif mengibaskan tangannya pada mereka.


"Ah, iya bagaimana?" Reyhan yang tersadar lebih dahulu di susul Amora yang baru mulai menyimak.


"Kalian akan menikah, besok!" Keputusan Hanif tidak bisa di ganggu gugat.


"Apa?" Besok?" sahut keduanya terkejut secara bersamaan.


❀️❀️❀️


Hai zheyeng 😘


Makasih atas dukungannya kalian semua, makasih udah mau baca novel recehan aku. Jaga kesehatan yah...


Tetap semangat meski hidup terasa beratπŸ˜‚


i Love you all😘😘