
Wanita yang semula terpejam di atas brangkar rumah sakit itu terbangun. Manik coklat miliknya bertemu dengan manik hitam milik seorang pria yang kini memenuhi relung hatinya. Manik hitam kelam itu menyiratkan rasa cinta serta rindu yang menguar begitu jelas.
"Kau sudah bangun?" tanya Reyhan dengan senyum yang sengaja ia bingkai begitu manis di wajahnya. Sengaja ia suguhkan kepada wanita yang selalu ada dalam hatinya. Tangannya tak lepas menggenggam jemari lentik yang lemah itu.
"Ya ... Aku sudah bangun." balas Amora dengan suara serak khas bangun tidur. Wajah polos tanpa make up itu tersenyum lembut menyambut tatapan hangat dari sang suami.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan kamu." lirih Reyhan tanpa memutuskan pandangannya dari Amora yang masih betah berbaring.
"Aku baik-baik saja, Rey. Kamu bisa melihatnya sendiri." ujar Amora menenangkan.
"Bagaimana aku tidak khawatir? Dia melukaimu." ucap Reyhan sendu. Ia mengusap lembut ujung bibir Amora yang masih terlihat memar. Meski tidak separah kemarin, tapi lukanya masih meninggalkan bekas.
"Aku sekarang sudah baik-baik saja, Rey. Jangan terlalu khawatir. Lalu, bagaimana keadaan kamu? Kamu juga terluka kemarin." ia menatap wajah Reyhan yang penuh lebam dengan pelipis yang sedikit robek serta sudut bibir pria itu yang bengkak.
"Aku baik-baik saja, sayang. Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Apa kamu tahu hal yang membuatku tidak baik-baik saja?"
Amora menggeleng.
"Aku tidak akan baik-baik saja jika jauh darimu dan kehilangan kamu. Kamu segalanya bagiku, Amora." pria itu mengecup telapak tangan istrinya dengan lembut. Menyalurkan rasa cinta yang mendalam dari kecupan lembut. Kecupan itu beralih pada kening Amora, cukup lama di sana hingga ia melepaskannya setelah beberapa detik setelahnya.
"Aku sudah di sini sekarang, Rey. Lagi pula Farhan sudah di tangkap, kan?"
Reyhan mengangguk lemah.
"Aku tidak pernah menyangka sebelumnya, jika aku memenjarakan sepupuku sendiri." lirihnya seraya menatap sendu ke luar jendela. Menatap dua anak kecil yang sedang bermain di taman rumah sakit. Mengingatkan dirinya dengan Farhan sewaktu kecil.
"Kamu sudah melakukan hal yang benar, Rey. Apa yang di lakukan sepupu kamu itu memang sudah kelewatan dan tidak bisa di maafkan." Amora mengusap lembut punggung tangan suaminya. Mencoba memberikan support pada orang yang di cintainya itu. Reyhan mengalihkan pandangannya, netranya bertemu dengan manik coklat milik wanita yang kini sedang tersenyum hangat menatapnya.
"Aku merasa bersalah,"
"Kenapa?"
"Entahlah. Aku merasa bersalah terlebih lagi Ibunya datang ke kantor polisi dengan meraung. Beliau terlihat sangat membenciku dan meminta untuk melepaskan anaknya." cerita Reyhan. Ia memejamkan mata sebentar, meresapi rasa sakit serta rasa bersalah yang menggulung di hatinya.
"Jangan merasa bersalah. Kamu tidak bersalah sama sekali. Justru dia yang bermasalah."
Hening. Hanya terdengar helaan napas dari keduanya.
"Apa aku terlalu jahat?" tanya Reyhan pada istrinya. Memecah keheningan yang tercipta pada beberapa menit lalu.
"Mengapa kau bertanya seperti itu? Jahat apanya?" Amora mengernyitkan dahi, bingung dengan pertanyaan Reyhan yang menurutnya sangat ambigu.
"Aku hanya merasakan bahwa aku terlalu jahat karena memenjarakan sepupuku sendiri." katanya seraya menatap istrinya dengan tatapan bingung. Amora menghela napas berat, ia beralih untuk duduk dan di bantu oleh Reyhan.
"Kamu sudah melakukan hal yang benar, Rey. Hilangkan rasa bersalah kamu karena memang kamu tidak bersalah. Jangan selalu merasa tidak enak kepada orang lain. Terkadang ada hal yang perlu kita jaga,"
"Bijak sekali istriku ini." Reyhan mencuri satu kecupan di bibir wanitanya.
"Dasar pencuri!"
"Sembarangan!"
"Kamu memang pencuri."
"Mencuri apa?" Reyhan mengernyitkan dahinya karena bingung.
"Pencuri ciuman." cibir Amora.
"Ah itu. Tidak apa-apa sama istri sendiri. Kalau sama istri orang, iya tidak boleh."
"Berani kamu?" Amora menyipitkan matanya.
"Ya tidak. Kan kalau."
"Awas saja kalau berani."
"Memangnya kenapa?"
"Siap- siap saja tidak punya bibir." ancam Amora. Sontak saja ucapan istrinya itu membuat Reyhan mendelik dan menutup bibirnya dengan kedua sebelah tangannya. Sementara tangan kiri pria itu masih setia menggenggam jemari milik istrinya.
"Rupanya diam-diam istriku silikopet."
"Hah? Apa? Silikopet?" Amora memandang Reyhan dengan bingung. Reyhan hanya mengangguk membenarkan.
"Apa sih? aneh kamu."
"Masak kamu tidak tahu, sayang?"
"Tahu apa? Aku lebih suka tempe daripada tahu." celetuk Amora.
"Astaga naga ya Salam. Ini anak kalau ngomong suka bikin darah tinggi."
"Bagus dong, buat orang yang darah rendah."
"Bagus apanya? Yang ada pembuluh darah bisa pecah."
"Haha ... Dasar alay. Mana ada begitu."
"Terserah sayang, terserah kamu saja. Yang penting kamu bahagia." Reyhan menyerah seraya menggelengkan kepalanya pasrah.
Amora hanya terkikik geli melihat kekalahan suaminya.
"Ah kamu ini. Kan tadinya aku berniat untuk menjahili kamu. Kok malah kamu yang malah menjahili aku." Reyhan cemberut. Bibirnya sengaja ia monyongkan.
"Salah sendiri. Kamu salah sasaran!"
"Haish ... Awas kamu ya."
"Awas apa? Jangan berani-beraninya mengancamku!"
"Tidak sayang. Aku tidak berani mengancam, aku hanya berani mencintai kamu."
"Jiah bisa saja si buaya."
"Allhamdulillah di bilang buaya."
"Lah, kok malah allhamdulillah?" Amora mendelik.
"Buaya Kan binatang paling setia, sayang. Buaya tidak akan kawin lagi jika pasangannya mati. Dia akan memilih sendiri sampai dirinya pun mati."
"Lah kenapa kalau pria yang tidak cukup satu wanita di katakan buaya?"
Reyhan mengangkat kedua bahunya menandakan bahwa ia juga tidak tahu.
"Aneh."
"Yang penting kita tidak aneh, sayang."
"Ishh kamu yang aneh!"
"Iya sayang iya. Mau kamu bilang aku aneh, buaya atau apapun itu aku ikhlas asal kamu bahagia."
"Ya ampun belajar dari mana sih?"
"Belajar dari kamu."
"Lah, kapan aku ngajarin?"
"Tidak perlu belajar atau pun di ajarkan. Karena semua itu mengalir apa adanya."
Amora hanya manggut-manggut.
"Eh bagaimana ceritanya aku bisa berada di rumah sakit? Dan bagaimana Farhan bisa di tangkap polisi? Aku kira waktu itu aku memang di tembak oleh Farhan."
"Tidak akan aku biarkan kamu mati sayang."
"Ya, aku percaya."
"Ayo ceritakan! Aku penasaran."
"Jangan menangis ya."
"Menangis kenapa?"
"Siapa tahu kamu tidak tega mendengar akhir dari sang mantan suami?" goda Reyhan seraya melirik jahil pada sang istri.
"Apaan sih, Rey. Bagiku dia cuma masa lalu. Aku hanya penasaran saja. Tadinya aku masih berada dalam situasi mengerikan tapi mengapa tiba-tiba ketika bangun sudah ada di ruangan rumah sakit."
Reyhan terkekeh setelah melihat wajah kesal istrinya.
"Hehe, iya sayangku. Aku hanya menjahili kamu."
"Dasar kang jahil."
"Eh, kok kang jahil?"
"Lah iya, kamu itu suka sekali menjahili aku. Sehari saja tidak menjahiliku, mungkin bisa kejang-kejang kamu."
"Astaga lebay sekali istriku ini."
"Ishh ... Apa sih?"
Reyhan kembali tergelak melihat tingkah Amora yang random.
"Ceritakan apa yang terjadi. Apa kamu mau aku mati penasaran?"
"Apa kamu mau mati sekarang, sayang?"
Amora mendelik, beberapa detik kemudian pukulan ringan mendarat sempurna di bahu pria itu.
"Kamu mau jadi duda? Kamu mau cari lagi?"
"Ish apa sih sayang. Bukan begitu, aku hanya bercanda."
"Dasar kang jahil. Ayo ceritakan sekarang! Aku penasaran."
"Baiklah tuan putri. Hamba akan menceritakan semuanya. Tolong pasang telinganya dengan benar supaya tidak lepas dan ketinggalan informasi ketika saya menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya."
"Dasar suami durhakim! Kang jahil!" sebuah pukulan ringan kembali mendarat. Kali ini lengan pria itu yang menjadi sasaran Amora. Sementara Reyhan hanya terkekeh geli karena berhasil menjahili istrinya. Ruang rawat yang semula sepi itu kini menjadi ramai karena dua orang yang saling mencintai itu berbalas kejahilan dengan raut wajah penuh bahagia. Kebahagiaan itu tak hanya tersirat di wajah, tapi juga merambah dalam relung hati. Tidak ada yang lebih indah bagi orang yang saling mencintai selain kebersamaan dalam ikatan pernikahan. Saling berbagi dan mengerti satu sama lain. Saling menghargai dan percaya pada pasangan.