
"Jangan tembak anak saya! Jangan tembak anak saya!" teriak Ibu Farhan histeris. Wanita itu meraung dengan tubuh lemas, membayangkan jika anaknya terkena tembakan yang akan terasa sangat menyakitkan.
"Farhan! Anakku!" lirih wanita itu penuh dengan luka dan nada pilu. Pandangannya jauh menerawang ke depan, melihat adegan kejar-kejaran antara anaknya dan para polisi yang sesekali menembakkan peluru ke atas.
Raungan kesedihan terdengar amat menyedihkan dari Ibu Farhan. Sania tak sadar menitikkan air mata, menatap mertuanya dengan sedih. Wanita itu berjalan perlahan menghampiri wanita yang telah melahirkan suaminya. Ia berjongkok, menepuk pelan bahu wanita itu.
"Ibu ... jangan begini," ucapnya seraya mengusap air mata yang terus berjatuhan tanpa mau berhenti.
"Semoga Mas Farhan baik-baik saja, Bu." imbuhnya tanpa menarik kembali jemarinya yang kini tengah mengelus pundak wanita yang bergetar di hadapannya. Meraung tanpa henti di saksikan para tetangga yang tengah berbisik serta pandangan mengerikan yang di tujukan pada mereka bertiga.
"Jangan sentuh saya!" tiba-tiba Sania merasakan tubuhnya terpental ke belakang akibat dorongan keras dari sang ibu mertua.
"Aduh ...." wanita itu jatuh terjengkang ke belakang. Adik Farhan serta para tetangga mendelik kaget.
"Apa yang Ibu lakukan?" tanya adik Farhan menatap Ibunya dengan tak percaya.
"Ini semua gara-gara dia! Dia yang menyebabkan Farhan di buru polisi!" teriak Ibu Farhan dengan berang. Bahkan kini ia mulai berdiri, menghapus dengan kasar jejak air mata yang ada di pipinya.
"Kenapa saya, Bu? Apa salah saya?" lirih Sania dengan bingung serta menahan sakit yang teramat sangat di perutnya. Tangannya meremas perut, wajahnya meringis menahan mulas yang tiba-tiba menderanya.
"Karena gara-gara kamu hidup anak saya hancur! Coba saja kamu tidak masuk ke dalam kehidupan anak saya, maka semuanya tidak akan terjadi! Dasar pelakor tidak tahu diri." meski benar adanya ucapan mertuanya, tapi tetap saja apa yang di katakan oleh wanita itu membuat Sania sakit hati. Ia mengigit bibir bawahnya berharap rasa sakit yang datang bersamaan bisa sedikit berkurang meski itu sulit.
Bisik-bisik tetangga yang mendengar apa yang di katakan oleh Ibu Farhan pun semakin terdengar dengan keras. Mereka menatap Sania dengan wajah tidak senang dan mulut yang tiada hentinya mencibir.
"Oh ternyata dia yang menjadi pelakor. Padahal cantikan Amora ya, Bu." ucap salah satu Ibu-ibu bertubuh gempal yang mengenakan daster pink motif bunga.
"Iya, saya kira mereka menikah setelah Amora dan Farhan bercerai. Eh tidak tahunya wanita itu pelakor, tidak tahu diri." yang lain ikut menimpali. Air mata Sania semakin deras, hatinya tak berhenti menggaungkan nama Amora dengan kebencian yang semakin mendalam. Mendarah daging hingga sulit di hilangkan.
"Padahal Amora itu cantik, baik, ramah pula.
Tidak seperti si pelakor itu. Sudah kalah cantik, sombong pula." cibir yang lain sehingga membuat Sania semakin sakit hati.
Amora! Awas saja kamu! Aku akan membalasmu! ucapnya dalam hati penuh dengan dendam.
Ketika Sania sedang sibuk menatap penuh benci pada para tetangga, ia di kejutkan kala lengannya di tarik seseorang.
"A-ada apa Bu? Mengapa Ibu menarik saya?" tanya Sania bingung.
"Jangan banyak tanya. Kamu harus pergi dari rumah ini! Aku tidak Sudi mempunyai menantu sejahat kamu dan pelakor yang tidak tahu diri seperti kamu! Kamu yang menyebabkan keluarga saya hancur!"
Sania menggelengkan kepalanya tak percaya. Matanya terbelalak menatap wajah sang Ibu mertua yang sedang memandangnya dengan keji.
"Haish ... Sudahlah! aku tidak peduli. Lagi pula anak yang ada di dalam perutnya itu bukan anak Farhan, jadi untuk apa aku harus menampung wanita ini lagi?!"
"Jangan begitu, Bu. Setidaknya Ibu melakukannya karena Ibu orang yang baik," lirih sang anak dengan wajah sendu.
"Jangan mengajari saya! Kamu anak kemarin sore sudah berani mengajari Ibu kamu?" wanita itu berkacak pinggang di depan anak perempuannya. Matanya melotot tajam melihat sang anak yang kini menunduk takut.
"Bukan begitu, Bu."
"Halah! Sudahlah. Lebih baik Kamu, Sania. Pergi sana ! pergi sejauh mungkin dan jangan pernah kembali ke kehidupan anak saya."
"Bu, saya mohon jangan usir saya. Nanti saya harus tinggal di mana? Saya sudah tidak punya apa-apa sekarang."
"Saya tidak peduli! Pokoknya kamu harus pergi dari sini!" ucap Ibu Farhan seraya menunjuk keluar rumah.
"Bu, saya Mohon." Sania memohon dengan sangat. Bahkan kini ia berlutut, menyentuh kaki sang Ibu mertua.
"Saya tidak Sudi menampung kamu! Kamu perusak segalanya! Aku benci kamu! Sekarang juga kamu pergi! Pergi kamu dari sini dan jangan pernah kembali! Bawa anak haram kamu itu pergi sejauh mungkin!"
"Apa? maksudnya apa? Apa itu bukan anak Farhan?" lagi, bisik tetangga semakin terdengar nyaring.
"Asal kalian tahu, wanita ini mengandung benih pria lain! Dia tidak mengandung janin anak saya!" teriak Ibu Farhan seraya menatap para tetangga satu persatu. Sontak saja hal itu membuat para tetangga sok dan kembali berbisik-bisik satu sama lain.
"Ibu, apa yang Ibu lakukan? Kenapa Ibu bilang seperti itu?" tanya adik Farhan seraya melebarkan matanya.
"Memang kenyataannya begitu, kok. Kakak kamu itu tidak bisa punya anak, sedangkan dia sekarang bisa hamil. Dan dia memang menjual tubuhnya demi uang! Sangat tidak bermoral!" cibir wanita setengah baya itu dengan sadis dan penuh kebencian.
Sania tergugu, mengapa Ibu mertuanya begitu tega. Sementara ia menjadi simpanan sang bos juga demi mencukupi semua kebutuhan Farhan dan keluarganya. Kebutuhan serta gaya parlente yang di dapatkan dari hasil memerasnya. Menjadi simpanan bos merupakan jalan termudah bagi Sania untuk mendapatkan uang. Dan sekarang setelah ia berkorban sedemikian rupa, ia malah di buang begitu saja tanpa belas kasih. Penuh hujatan serta penghinaan yang sangat melukai hati serta harga dirinya.
"Aku melakukan itu karena kalian! Bagaimana aku tidak melakukan itu jika kalian setiap hari memerasku?" teriak Sania histeris. Ia lelah karena selalu di salahkan atas apa yang di lakukan. Melupakan banyak kebaikan yang ia lakukan hanya karena satu hal keburukan yang ia lakukan..
"Jangan berlindung di balik semua itu! Sekali murahan, tetap saja murahan! Amora dulu juga selalu memberi kami uang. Tapi dia tidak pernah menjual dirinya demi uang!"
"Amora lagi, Amora lagi! Mengapa sekarang Ibu baru memuji wanita itu, hah? Bukankah dulu Ibu sangat membencinya? Kenapa sekarang selalu membandingkan aku dengan Amora? Aku benci nama itu! Jangan pernah sebut nama itu lagi!"
"Dasar wanita murahan tidak tahu diri!" wanita itu semakin terlihat marah dan tak terkendali. Bahkan kini ia menarik rambut menantunya dengan kasar sehingga wanita yang sedang berbadan dua itu menengadah ke atas. Ia memegangi rambutnya yang terasa akan lepas dari kulit kepalanya.
"Sakit, Bu. Lepaskan." rasa perih itu menjalar. Para tetangga yang menonton mencoba melerai pertikaian antara menantu dan mertua itu.
"Sudah,Bu. Kalau begini cepat atau lambat Ibu akan bertemu Farhan di penjara." ujar salah satu tetangga pria yang membantu Sania untuk lepas dari jambakan wanita yang sedang mengamuk itu. Bak di sambar petir, wanita itu tersadar. Ia tidak ingin di penjara, dan dengan cepat ia melepaskan jambakannya dan mundur ke belakang.