Suami Sementara

Suami Sementara
Aku hanya mencintaimu


"Tuhan ... Tolong aku." jeritnya dalam hati.


"Reyhan dimana kamu. Tolong aku Rey." hatinya ikut menangis, ia berharap Tuhan berbaik hati padanya sehingga kehormatannya sebagai wanita tetap terjaga. Ia tidak akan pernah bisa menatap wajah Reyhan lagi jika dirinya benar-benar berhasil di sentuh pria lain.


Amora tetap berusaha untuk memberontak meski Farhan terus berusaha menyentuhnya. Pria itu ******* bibir mantan istrinya dengan brutal penuh napsu. Dengan kuat, Amora menggigit bibir pria itu hingga berdarah. Bahkan ia ikut merasakan rasa asin dari darah yang keluar dari bibir Farhan.


Dengan cepat Farhan menarik bibirnya lalu menatap Amora dengan marah.


Plakk ....!!


Ia menampar pipi Amora dengan keras hingga menimbulkan bekas merah di pipi wanita cantik itu bahkan sudut bibir Amora robek sedikit. Wanita itu memegangi pipinya yang terasa perih serta hangat yang menjalar.


Farhan melihat telapak tangannya yang tanpa sengaja telah menampar wanita yang di cintainya itu. Ia pun panik dan tergagap, ia tak bermaksud menyakiti Amora.


"Amora, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu. A-aku hanya ... ah hatiku sakit mendapatkan penolakan dari kamu. Aku hanya ingin memiliki kamu, itu saja. A-aku minta maaf, sayang." katanya dengan wajah penuh penyesalan. Jika dengan Sania ia tidak peduli, maka lain halnya dengan Amora. Ia memang tidak pernah melakukan kekerasan pada wanita satu ini.


Amora menatap sinis dan penuh kebencian pada Farhan yang gemetar melihatnya.


"Aku lebih baik mati daripada di sentuh olehmu! Aku lebih baik mati daripada harus di paksa melayani napsu bejat kamu! Lebih baik kamu bunuh aku biar kamu puas!" teriak Amora dengan bersimbah air mata. Rasa sakit di pipinya tidak sebanding dengan rasa malu dan terhina jika Farhan benar-benar menyentuhnya lebih dari ini.


"Tidak Amora. Aku tidak ingin menyakiti kamu, aku tidak ingin membunuh kamu. Ayolah, menurut saja agar semuanya mudah. Tolong mengerti perasaanku, sayang. Aku menginginkanmu, sangat." ucap Farhan dengan wajah memelas.


"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah sudi!" sinis Amora.


"Baiklah, jika kamu tidak bisa di ajak bicara baik-baik." Farhan menarik tubuh Sania dan mendekapnya. Ia kembali melancarkan aksinya, kali ini lebih brutal daripada tadi. Gulungan napsu dan amarah menutup hatinya, dorongan rasa ingin memiliki yang begitu kuat membuatnya lupa akan segalanya.


"Aku sangat membenci kamu Farhan, sangat membencimu!"


"Aku tidak peduli." gumam Farhan dengan terus melancarkan aksi bejatnya. Amora hanya bisa menangis dengan terus memberontak, tubuhnya telah lemas karena tenaga Farhan lebih kuat darinya. Air mata Amora tidak terbendung lagi sedari tadi. Entah berapa banyak yang jatuh, sehingga menyebabkan matanya bengkak akibat menangis terus-menerus.


"Ya, begitu sayang. Lebih baik kamu diam dan nikmati saja." seringai menjijikkan terlihat sangat kentara di wajah pria yang kini menindih tubuhnya.


Menit berikutnya sebelum pria itu benar-benar berhasil berbuat lebih, Farhan merasakan tubuhnya di tarik ke belakang dan terhempas ke dinding. Belum sempat ia melihat siapa yang membanting tubuhnya, wajahnya telah di hujani pukulan keras yang membabi buta.


"Brengsek kau! Berani sekali kau menyentuh istriku!" teriak Reyhan yang tengah di selimuti amarah yang meluap. Gulungan emosi itu menyeruak menyebar ke seluruh tubuh, tak ada lagi rasa belas kasihan kepada pria yang dengan berani telah menyentuh miliknya.


Wajah Farhan sudah babak belur dengan pelipis dan bibir yang robek. Darah segar mengalir membasahi wajah pria yang kini hanya bisa diam tanpa bisa berkata apa-apa. Pasrah menerima segala pukulan yang tidak ada jeda sama sekali.


"Aku akan menghabisi kamu karena sudah berani menyentuh milikku!" Tak ada kata ampun lagi, yang Reyhan ingin saat ini hanya melenyapkan pria ini. Wajahnya memerah menahan marah dengan napas yang memburu.


Pak Joko yang baru saja masuk pun melebarkan matanya ketika melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Ia melihat anak majikannya menghajar sepupunya sendiri dengan brutal. Wajah Farhan sudah tak berbentuk dengan darah yang memenuhi wajah.


"Den, sudah den. Aden bisa membunuhnya." Pak Joko berusaha melerai tapi Reyhan tidak mempedulikannya.


"Den, sudah. Den Farhan bisa mati jika terus di pukuli." Pak Joko terlihat panik dan berusaha memeluk anak majikannya yang sedang kalap. Tapi Reyhan yang sedang di kuasai emosi tidak menggubris ucapan Pak Joko dan malah menepis pria itu. Sontak saja pria itu terpelanting karena mendapatkan dorongan yang kuat dari Reyhan.


"Reyhan, sudah. Kau bisa membunuhnya." suara Amora terdengar sangat lemah dan kecil, tapi pria yang sedang kesetanan menghajar sepupunya itu dapat mendengar. Bagai di tarik dari jurang emosi, pria itu melepaskan tubuh Farhan dari cengkramannya. Menghentikan pukulan yang membabi buta. Ia terkesiap setelah melihat wajah Farhan penuh dengan darah.


"Akh ... brengsek kau Reyhan." gumam Farhan. Ia merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuh serta wajahnya. Bahkan ia merasa hidungnya patah akibat pukulan dari sepupunya itu.


Reyhan membalikkan tubuhnya, melihat keadaan Amora yang bersandar di dinding dengan lemah. Ia mendekati wanita itu, melihat dengan dekat keadaan istri yang sangat di cintainya itu. Hatinya sangat sakit bahkan emosi itu kembali menggulung dalam dada kala melihat kondisi Amora yang sama sekali tidak baik.


Pipi wanita itu merah bekas tamparan, sudut bibirnya robek dan sedikit bengkak. Dengan dress yang tidak berbentuk bahkan robek di sana sini. Rambut acak-acakan dan wajah penuh air mata. Reyhan melepaskan kemeja yang ia pakai lalu membungkus tubuh istrinya dengan kemeja itu. Ia memeluk istrinya sebentar lalu menciumi seluruh wajah Amora. Ia memegang bahu Amora dan melihat keadaan sang istri.


"Amora, sayang. Mana yang sakit? Katakan, mana yang sakit sayang? Maafkan atas keterlambatan ku. Maafkan suamimu yang tidak berguna ini sayang." bulir bening itu luruh begitu saja. Sungguh ia tidak akan kuat melihat kondisi Amora yang sangat mengenaskan jauh dari kata baik-baik saja.


"Jangan minta maaf, Rey. Kamu tidak bersalah dan aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa Rey."


ujar Amora menenangkan.


"Bagaimana bisa kamu mengatakan baik-baik saja sementara keadaan kamu seperti ini? Harusnya aku memang membunuh pria brengsek itu!" geram Reyhan.


"Jangan membunuhnya." pinta Amora.


"Mengapa? Kamu tidak mau aku membunuhnya karena kamu masih punya rasa dengannya?" Reyhan menatap Amora dengan penuh rasa curiga.


"Bukan begitu, Rey."


"Lalu apa? Kamu tidak ingin pria brengsek itu mati, kan?"


Amora menggeleng dengan kuat.


"Tolong jangan salah paham."


"Lalu apa Amora?"


"Amora masih sangat mencintaiku, makanya ia tidak mau jika aku mati." seru Farhan seraya terkekeh di sela napasnya yang tersengal. Reyhan dan Amora menoleh,


"Diam kau brengsek! Lebih baik kamu mati sekarang atau aku yang akan membunuhmu menggunakan kedua tanganku sendiri?!"


"Kau sudah kalah Rey. Amora hanya mencintaiku dan tidak pernah mencintai kamu. Dia tidak ingin kamu membunuhku karena dia tidak mau kehilanganku. Dia masih sangat mencintaiku dan kami akan kembali setelah kamu menceraikan dia."


"Apa benar yang di katakan si brengsek itu, Ra?" Reyhan menatap Amora dengan menahan sakit di hatinya.


"Apa kamu dengan mudahnya percaya begitu saja ucapannya? Aku sama sekali tidak mencintainya, Rey. Rasaku sudah tidak ada lagi untuknya."


"Saat ini aku hanya mencintaimu. Alasan ku tidak ingin kamu membunuhnya karena aku tidak ingin kamu masuk penjara hanya gara-gara dia. Aku tidak ingin kamu mengotori tanganmu hanya karena dia, Rey. Aku hanya mencintaimu, Rey. Sekali lagi aku katakan bahwa aku hanya mencintaimu. Bukan dia!" jelas Amora dengan lantang.


"Terimakasih, sayang. Terimakasih, aku juga sangat mencintai kamu dan hanya kamu." Reyhan menyatukan keningnya pada Amora, berbagi udara yang sama. Merasakan kehangatan cinta yang mengalir memenuhi relung jiwa.