
Amora terus memberontak ingin melepaskan diri dari pria yang kini membekap mulutnya. Menyeretnya entah kemana. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya tidak tembus.
"Hhmmmmpptt ...." ia terus berteriak dengan tangan dan kedua kaki yang berusaha menendang atau memukul bagian tubuh orang asing itu, mana saja yang dapat ia jangkau.
"Diamlah! atau aku akan membunuhmu!" bisik pria itu di telinga Amora. Amora yang mendengarnya sontak saja melebarkan matanya dan takut. Ia semakin takut sehingga kembali memberontak. Tapi pria itu menodongkan senjata api tepat di pelipis Amora.
"Diam atau mati!" ancam pria itu. Amora menahan napas, menekan dalam-dalam rasa takut yang kini menderanya. Ia menggeleng pelan, tak ingin mati sia-sia di tangan pria itu sehingga ia hanya menurut saja ketika di bawa ke ruang gelap dan pengap yang ia tidak tahu dimana. Yang pasti ruangan itu masih berada di dalam lingkungan keluarga Reyhan.
Amora di letakkan di kursi kayu yang ada di sudut gelap ruangan itu. Ruangan itu gelap dan tidak terlalu besar, bau debu, bau tumpukan kertas dan furniture lama menyeruak menusuk indera penciumannya. Ia mengamati sekitar, tapi ia hanya bisa melihat samar karena cahaya yang masuk dari luar hanya sedikit. Cahaya yang masuk dari luar melalui ventilasi membuat pandangan Amora tidak terlalu gelap. Ia mencoba mengenali wajah pria yang ada di hadapannya, tapi cahaya itu di belakangnya.
"Diamlah di situ sayang. Aku tidak akan menyakitimu." lirih pria itu seraya tersenyum misterius.
Deg ....
Amora mengenali pria itu. Suaranya, cara memanggilnya, ia ingat semua.
"Farhan?" lirih Amora.
"Iya sayang. Kau mengenaliku?" pria yang ternyata Farhan itu tertawa pelan. Ia berjongkok di hadapan Amora, lututnya bertumpu di lantai yang berdebu.
"Rupanya kamu masih mengingatku dengan baik, sayang. Aku yakin kamu masih sangat mencintaiku, bukan?"
"Tolong, lepaskan aku! Suamiku pasti bingung dan khawatir." ucap Amora seraya memohon.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja!" bentak Farhan sehingga membuat Amora berjengkit takut.
Menyadari sikapnya yang membuat Amora ketakutan, Farhan dengan cepat merubah ekspresinya.
"Sayang, aku suamimu. Aku di sini bersama mu. Ayo kita pergi dari sini dan memulai hidup baru. Kita mulai semuanya dari awal lagi, ya." ucap Farhan seraya meraih tangan Amora dan mengecupnya. Sekuat tenaga Amora melepaskan tangannya dari genggaman pria yang ada di hadapannya ini.
"Lepaskan! Kita bukan suami istri lagi, ingat itu!" teriak Amora dengan marah.
"Sayang, di mata negara kita masih suami-istri. Kita belum resmi bercerai dan itu artinya kamu masih istriku. Aku janji akan berubah, aku janji akan membahagiakan kamu. Tinggalkan Reyhan dan kembalilah." bujuk Farhan dengan senyum mengerikan. Amora semakin ketakutan ketika jemari pria itu menyentuh ujung rambutnya. Ia menghindar, menarik diri dan beringsut menjauh membuat tangan Farhan tergantung di udara sebelum dapat menyentuh Surai panjang berwarna coklat itu.
"Jangan sentuh saya!" teriak Amora takut. Ia menatap Farhan seraya mendelik. Pria itu menggertakkan gigi, mengepalkan kedua tangannya dengan geram.
"Jangan memancing amarahku, Amora. Bersikaplah yang manis dan menurut maka aku tidak akan menyakiti kamu, Reyhan dan Tante Riana."
"Berhenti menyakiti mereka! Apa kau tidak sadar mereka adalah saudara kamu?"
"Aku akan menyingkirkan sekecil apapun kerikil yang menghalangi jalanku. Aku tidak peduli dengan semua hal persaudaraan yang kau katakan tadi. Aku tidak peduli!" pria itu menatap Amora dengan tajam. Kedua tangannya bertumpu pada kursi yang sedang di duduki Amora.
"Kau gila!" desis Amora penuh kebencian.
"Ha-ha-ha... iya sayang. Aku merasa mulai gila karena kamu. Aku tergila-gila kepadamu, Amora." ia menatap sendu wajah Amora yang penuh ketakutan serta kebencian yang membaur jadi satu. Ia tidak pernah menyangka jika mantan suaminya akan segila ini.
"Lepaskan aku!" teriak Amora. Ia berusaha untuk lari, tapi dengan cepat Farhan mencekal lengannya.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu kabur lagi. Aku sangat merindukanmu, Amora. Aku merindukanmu." ucap Farhan tanpa melepaskan cengkraman tangannya di lengan Amora. Amora masih berusaha berontak sekuat tenaga. Ia merasakan tatapan Farhan yang sangat berbahaya dan penuh napsu.
"Jangan gila! Lepaskan aku dan pergilah ke rumah sakit jiwa! Jangan pernah kembali lagi ke kehidupanku, brengsek!" maki Amora. Ia sudah benar-benar kesal dan marah pada kelakuan pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Apa sayang? Brengsek?"
Amora hanya diam menahan marah. Napasnya naik turun antara marah dan kelelahan karena terus memberontak melawan tenaga Farhan yang tidak sebanding dengannya.
"Apa kamu lupa kalau kamu pernah sangat mencintai pria brengsek ini, hah? Kau bahkan tidak bisa menjauh dariku. Jangan pernah lupakan itu, sayang." bisiknya dengan tawa renyah. Senyumnya tak mau surut dari wajah yang kini mulai di tumbuhi rambut halus tak terurus.
"Dan sekarang aku baru sadar kalau ternyata aku telah salah mencintai seseorang. Itu merupakan hal paling bodoh yang pernah aku lakukan. Pria brengsek seperti kamu memang tidak pernah pantas di cintai!" sinis wanita itu seraya membuang muka.
"Hahaha ... Ayolah Amora. Kamu jangan munafik. Kamu kira Reyhan itu baik? Dia sama saja seperti aku." Amora menoleh, menatap Farhan dengan marah. Ia hanya diam menunggu kata selanjutnya yang akan di katakan pria gila di hadapannya. Farhan mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum miring. Ia merasa Amora mulai tertarik dengan bualannya dan ia akan mempengaruhi pikiran Amora.
"Kau dengar, sayang. Aku dan Reyhan itu sepupu, jadi sifat kami sama saja. Kami tidak akan pernah cukup dengan satu wanita."
"Lalu?" Amora bersedekap, memandang remeh pada pria yang kini tengah meracau tak jelas seperti orang mabuk.
"Percalah padaku, Amora. Sebelum kalian menikah sebenarnya Reyhan sudah mempunyai wanita yang sangat ia cintai dari dulu. Dia akan menikahinya tahun ini, tapi aku malah meminta bantuannya untuk menikahimu agar kita bisa kembali. Jadi dia terpaksa menikahi kamu dan setelah tiga bulan, dia akan menceraikan kamu. Dan dia akan benar-benar menikahi kekasihnya, secara sah di mata hukum dan agama." pria itu mengangkat sudut bibirnya, menatap Amora yang wajahnya tampak gelisah.
"Dan kamu tahu? Reyhan sudah mengatakan semuanya di awal padaku. Ia mau menjadi suami sementara selama tiga bulan agar kita bisa kembali. Dan dia juga bilang, sebenarnya dia hanya pura-pura baik padamu karena kasihan. Dia tidak benar-benar mencintai kamu, sayang. Sebentar lagi, ia akan meninggalkan kamu dan menikah dengan wanita lain. Dia sangat jahat, bukan?"
Tangan Amora yang semula bersedekap, kini luruh ke bawah. Meremas dress berwarna peach yang ia kenakan. Entah mengapa ucapan mantan suaminya ini sangat terasa sakit menusuk relung hatinya. Keraguan serta kebingungan membaur menjadi satu menyebar ke seluruh nadi. Menyebabkan netra berwarna coklat itu berembun, siap menumpahkan butiran bening yang menyakitkan.
"Jangan mau di bodohi oleh Reyhan. Mulutnya sangat manis bagaikan madu, tapi kenyataannya sepahit empedu. Percayalah ucapanku Amora, agar kamu tidak merasakan sakit kembali. Aku mengatakan semua ini karena aku menyayangimu, aku tidak ingin kamu di sakiti oleh sepupu brengsek itu. Aku tidak rela, Amora." pria itu memasang wajah sendu, meyakinkan Amora dengan segala hasutan yang ia lakukan. Meracuni pikiran Amora dengan kata-kata yang akan membuatnya sakit hati dan membenci Reyhan.
"Tinggalkan Reyhan, atau kau yang akan di tinggalkan. Pilihan ada di tanganmu, Amora."
Farhan tersenyum licik sementara Amora terpekur menatap lantai berdebu yang ada di bawahnya.