Suami Sementara

Suami Sementara
Woman on top


Seorang pria duduk dengan tenang di sudut warung kopi pinggir jalan yang tak terlalu ramai. Menyesap kopi hitamnya perlahan dan menikmati cita rasa kopi yang amat pekat. Matanya menatap tenang pada dua orang polisi yang terlihat sedang sibuk mencari buronannya. Pria itu Mengenakan topi newsboy berwarna hitam dengan mantel panjang yang senada.


"Dimana dia? Bukankah tadi dia menuju ke daerah sini?" ucap salah satu rekan polisi yang bertubuh tegap.


"Iya, aku juga sangat yakin ia pergi ke arah sini. Tetapi mengapa ia cepat sekali menghilang?" sahut polisi satu lagi yang bertubuh agak tambun.


Kedua polisi itu menoleh ke arah sang pria yang sedang duduk santai. Pria itu menarik lebih ke bawah topi model newsboy yang ia kenakan dan menundukkan pandangannya.


"Ah tidak mungkin dia berada di sini. Mungkin saja dia sudah lari dari tadi menghindari kita." kata polisi bertubuh tambun itu lagi.


"Ah, aku rasa juga begitu. Mana mungkin dia berani karena tidak ada tempat persembunyian di sini."


Rekannya mengangguk. Lalu keduanya sepakat untuk menyisir daerah itu sekali lagi. Diam-diam pria yang duduk di warung kopi dengan tenang itu menarik sudut bibirnya, tersenyum miring. Ia menyesap kopinya dengan lebih tenang sekarang. Menghirup dalam-dalam sebatang rokok yang mengepulkan asap ke udara.


"Dasar dua polisi bodoh!" gumamnya seraya mengembangkan senyum.


💛💛💛


"Ayo lepas bajunya! Kenapa malah bengong?" kata Reyhan. Ia memandang istrinya yang kini sedang terlihat ragu. Tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa menatap dada bidang yang belum ia buka itu, menatap wajah Reyhan dan dadanya bergantian.


Mereka berdua sedang berada di kamar, di rumah Mama Riana. Reyhan meminta pulang karena ia tidak betah di rumah sakit.


"Ke-kenapa tidak bu-buka sendiri." ucapnya dengan gagap.


"Memangnya kenapa? Bukankah kamu istriku?" Reyhan mengangkat alis dengan senyum misterius.


"I-iya. Tapi kan ...."


"Tapi apa sayang? Kamu harus membersihkan tubuhku dengan air hangat. Kamu tahu sendiri kalau suami mu ini sedang sakit. Aku terluka, sayang. Bahkan mengangkat bahu saja aku tidak bisa. Bagaimana aku harus membuka baju dan membersihkan tubuhku sendiri? Ayolah."


Amora meneguk ludah. Bukannya ia tidak mau membantu suaminya untuk melakukan hal itu, tapi ia takut tidak bisa mengendalikan diri ketika melihat roti sobek yang tersaji di depan matanya.


"A-aku minta bantuan Mama saja yah, Rey." Reyhan mendelik seketika.


"Kenapa harus minta bantuan Mama? Apakah kamu tidak mau mengurusi suamimu yang sedang sakit?"


"Ti-tidak. Bu-bukan begitu. Hanya saja a-aku ...." Amora menggantung kalimatnya. Sesekali menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Lalu apa? Kamu kenapa sayang?"


Amora hanya diam. Ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya tidak tahan melihat pemandangan indah yang akan di lihatnya nanti setelah kemeja berwarna putih itu di lepaskan.


"Kenapa kamu tidak mau di rawat lebih lama di rumah sakit, sih? Bukankah di sana ada perawat yang akan membantumu?"


"Apa maksud kamu sayang? Kamu suka melihat tubuhku di sentuh mereka? Kamu tidak cemburu ketika melihat mereka hampir meneteskan air liur ketika melihat tubuhku yang seksi? Atau jangan-jangan kamu suka dengan dokter tampan di sana? Begitu ya? sehingga kamu sangat betah di rumah sakit yang berbau obat itu?" Reyhan menarik alisnya, memasang wajah pura-pura marah.


"Ti-tidak! Bukan begitu Rey." Kedua tangannya melambai mengatakan tidak. Kini kedua tangannya ia gunakan untuk menggaruk kepalanya lagi. Ia mengigit bibir bawahnya karena gugup. Sejujurnya ia juga tidak rela jika ada wanita lain yang menyentuh tubuh suaminya apalagi sampai menikmati keindahan tubuh suaminya. Tapi yang jadi alasannya hanya saja ia takut tidak bisa mengendalikan diri. Itu saja.


"Ya sudah kalau begitu. Aku tidak usah ganti baju dan tidak usah membersihkan diri. Biarkan saja seperti ini." Reyhan pura-pura merajuk. Ia memalingkan wajahnya dari Amora.


"Eh ... Kok begitu?" Amora terkejut.


"Rey ... jangan merajuk. Nanti kamu tambah jelek."


Tidak ada sahutan. Amora semakin menggigit bibirnya, meremas jemarinya yang lentik. Reyhan masih saja membelakanginya. Ia mengira Reyhan benar-benar marah padanya. Tapi yang sebenarnya terjadi ialah pria itu mati-matian menahan tawa dan mengendalikan diri agar tidak ketahuan sedang berpura-pura.


"Rey ... Jangan begini. Jangan marah ya," kata Amora pelan. Tetap tidak ada sahutan dari suaminya sehingga membuat hatinya semakin gelisah. Ia menghela napas pelan lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Uhh baiklah ... A-aku akan membantumu." ujar Amora pada akhirnya. Diam-diam pria itu tersenyum miring penuh kemenangan. Ia pura-pura masih merajuk dan tetap diam.


"Reyhan ... Apa kau mendengarku?" Amora memiringkan kepalanya melihat suaminya yang masih belum mau menoleh.


"Jangan pura-pura mau. Aku tidak mau kalau kamu tidak ikhlas membantuku. Jika memang tidak ikhlas, maka aku akan menyewa seorang perawat cantik untuk membantuku membersihkan diri."


"JANGAN !!" kata Amora dengan cepat. Reyhan setengah mati menahan tawa. Ia hanya mengulum senyum mendengar suara Amora yang terdengar panik.


"Aku akan membantumu. Tapi jangan menyewa wanita manapun untuk membantumu. Oke?" kata Amora menanti persetujuan suaminya.


Siapa juga yang mau di sentuh wanita lain selain kamu. Gumam Reyhan dalam hati.


Reyhan berdehem beberapa kali sebelum ia membalikkan tubuhnya menghadap Amora.


"Baiklah, kalau begitu. Ayo cepat bersihkan tubuhku!"


"I-iya." sahut Amora tergagap. Ia memejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam-dalam.


"Jangan seperti belum pernah melihatnya. Bukankah kau sudah pernah melihat bahkan menyentuhnya?" ujar Reyhan masih mempertahankan wajah cemberutnya.


"I-iya. Tapi kan ...."


Justru karna aku pernah melihatnya makanya aku takut tidak bisa mengendalikan diri. Bagaimana nanti jika aku ingin menyentuhnya lebih lama? Mengapa sih kamu harus rajin berolahraga sehingga perut serta dada kamu begitu seksi seperti itu? keluhnya dalam hati.


"Ayo! Tunggu apa lagi? Buka sekarang!"


"I-iya Rey. Sabar sedikit kenapa sih?" jawab Amora seraya menetralkan rasa gugupnya yang menyerang hingga membuat jemarinya Tremor. Reyhan yang melihat itu pun hanya tersenyum simpul. Ia menatap wajah cantik istrinya yang selalu membuat ia terpesona. Amora menunduk di hadapan Reyhan yang sedang duduk di tepi ranjang sementara Amora berdiri. Melepaskan satu persatu kancing kemeja yang pria itu kenakan.


Amora menurunkan pelan dan hati-hati ketika semua kancing kemeja itu terlepas. Berjuang melawan rasa gugup yang mendera serta godaan roti sobek yang melambai di hadapannya. Bahkan wanita itu berkali-kali menahan napas. Ah entahlah, ia sendiri tidak tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya.


"Sayang." panggil Reyhan dengan suara serak dan pandangan berkabut. Tangannya mencekal lengan Amora yang baru saja berhasil melucuti kemejanya. Kini pria itu bertelanjang dada di hadapannya. Dada bidang dengan penuh garis kotak-kotak terpampang jelas di hadapannya membuat Amora semakin mati-matian menahan diri. Ia memalingkan wajahnya yang bersemu.


"Kenapa masih malu-malu? Aku suamimu, sayang. Sentuh jika kamu ingin menyentuhnya." Reyhan meletakkan tangan Amora ke dadanya sehingga membuat Amora terkejut dan menarik tangannya.


"Rey ... A-apa yang kau lakukan?"


Bukannya menjawab, Reyhan malah menarik tubuh wanita itu sehingga terduduk di pangkuannya. Amora menjerit pelan.


"Rey ...."


"Iya sayang," pria itu mulai mengendus aroma khas wanita itu. Menciumi ujung rambut istrinya yang bergelombang.


"Rey, lepaskan. Biar aku membersihkan tubuhmu." Amora menggeliat dalam pangkuan pria itu sementara Reyhan hanya menggeleng pelan.


"Ayolah Rey. Bukankah kamu sakit? Nanti aku bisa menyenggol lukamu."


"Aku merindukanmu, honey." pria itu berbisik tepat di telinga Amora. Menimbulkan gelanyar aneh yang merambat membuat tubuhnya merinding.


"Rey, lepaskan." Amora mencoba melepaskan diri dari Kungkungan pria itu.


"Sayang, ayo kita lakukan."


"Hah? A-apa? melakukan apa?" Amora membeliak menatap suaminya.


"Ayo kita lakukan. Aku sangat ingin sekarang." bisik Reyhan. Amora menyadari ia sedang menduduki sesuatu yang mengeras di bawah sana.


Oh My God. Apa ini? batinnya seraya memejamkan mata.


"Ayolah sayang," rengek Reyhan.


"Ta-tapi kamu masih sakit. Bagaimana bisa?"


"Bisa sayang, bisa."


"Bagaimana caranya?"


"Woman on top." bisik Reyhan dengan mesra.


"A-apa?" Amora tak kuasa untuk tidak melotot sementara Reyhan penuh dengan seringai kemenangan.