Suami Sementara

Suami Sementara
Arti kata terserah


Happy reading zheyeng 😘


_________________


"Aku lapar." Amora mendatangi Reyhan di ruang tamu. Pria itu menoleh kala mendengar kedatangan Amora. Reyhan menatap Amora sebentar, menelisik penampilan wanita itu. Memakai kaos oversize berwarna putih dan celana pendek sebatas lutut. Rambutnya yang acak-acakan tampaknya seperti baru bangun tidur. Meski begitu, tidak mengurangi kadar kecantikan wanita itu. Reyhan hanya tersenyum melihatnya.


"Kau lapar?" Amora mengangguk. Reyhan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 21.00.


"Di kulkas tidak ada makanan?" tanyanya lagi.


Amora menggeleng.


"Aku lupa berbelanja keperluan kemarin,"


"Sibuk galau, sampai lupa segalanya." celetuk Reyhan seraya menutup laptopnya. Ia meraih ponsel yang ada di atas meja. Sedangkan Amora hanya mengerucutkan bibir seraya masih berdiri di tempatnya.


"Mau makan apa?" tanya Reyhan tanpa menoleh. Ia sibuk dengan pilihan makanan yang tertera di layar ponselnya.


"Terserah. Apa aja deh yang penting makanan ." jawab Amora.


Reyhan mengangguk.


"Bagaimana kalau fizza?"


"Nggak mau."


"Burger?" Amora menggeleng.


"Nasi goreng." Lagi-lagi Amora menggelengkan kepalanya, membuat Reyhan menarik napas panjang.


"Jadi mau makan apa?" tanyanya sekali lagi.


"Terserah, asal jangan Fizza, burger ataupun nasi goreng." ujar Amora seraya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang ada di seberang Reyhan. Reyhan menatap Amora sebentar, rasa kesal mulai menyerangnya.


"Mana ada makanan terserah. Mending air mineral aja deh ya, sama nasi putih." ujar Reyhan kesal.


"Ih mana enak. Pelit kamu."


"Siapa yang pelit, Amora." ujar Reyhan geram.


"Ya kamulah, masak kang cilok." Reyhan menepuk jidat.


🍁🍁🍁


Amora membelalakkan matanya kala mendapati berbagai macam makanan di atas meja makan. Ada sate, bakso, ayam bakar, burger dan soto.


"Ya ampun, Rey. Buat apa makanan sebanyak ini?" tanya Amora seraya mengedipkan mata berkali-kali.


"Kata kamu, terserah. Aku tanya Fizza, kamu Nggak mau. Burger, nasi goreng juga nggak mau. Aku kan bingung mau pesen apa. Ya aku beli semuanya aja. Biar kamu bisa rasain semuanya, bisa milih mana yang mau kamu makan." ujar Reyhan seraya meraih burger dan mengunyahnya.


"Kamu jahat, Rey." Amora mencebik membuat Reyhan heran. Burger yang ia telan serasa sangat susah turun dari tenggorokan. Ia meraih sebotol soda yang ia ambil dari kulkas , lalu meneguknya hingga tinggal separuh.


"Jahat bagaimana?" tanya Reyhan bingung.


Amora memasang wajah sedih, ia menatap Reyhan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku kan lagi diet, kalau aku makan semuanya gimana nasib aku entar." jawab Amora memasang raut wajah sedih. Sontak saja jawaban Amora membuat Reyhan kesal setengah mati.


"Astaga, Amora ... Amora. Aku kira aku jahat kenapa." Reyhan menggelengkan kepalanya, ia kembali melanjutkan menikmati burger favoritnya. Di sela makan, pria itu melirik Amora yang sedang menatap makanan dengan penuh minat tapi wanita itu berusaha menahannya. Reyhan tersenyum geli melihat ekspresi Amora.


"Beneran Nggak mau? enak banget loh, ini." Reyhan memasukkan semua burger yang tersisa ke dalam mulutnya. Lalu beralih meraih semangkuk bakso dengan kuah berwarna merah menggoda selera. Beberapa butir cabai turut hadir membuat orang yang mencintai makanan pedas tak bisa menolak.


Amora pecinta bakso dan makanan pedas, ia tak bisa mengalihkan tatapannya pada semangkuk bakso yang sedang di nikmati Reyhan.


"Beneran nggak mau? Ya ampun, ini bakso terenak yang pernah aku makan." ucap Reyhan seraya memejamkan mata menikmati sensasi bakso yang ada di dalam mulutnya. Ia sengaja mengunyah perlahan, memamerkan pada Amora.


Amora berkali-kali meneguk air liur, ia rasa tak tahan lagi. Ia pun merebut bakso yang sedang di nikmati oleh Reyhan.


"Eh, itu bakso aku." Reyhan melotot.


"Ya ampun, enak banget." ujarnya. Kali ini ia mengunyah pentol bakso yang sedari tadi menggugah seleranya. Reyhan hanya tersenyum melihatnya.


"Nggak jadi diet, Bu?" ejek Reyhan.


Amora menggeleng,


"Besok aja dietnya, sekarang makan aja dulu." ujarnya tanpa menoleh. Ia terlalu fokus dan menikmati bakso yang sangat ia sukai itu.


"Eh, sendok nya." Reyhan terkejut. Amora makan dari mangkuk dan sendok yang sama dengannya. Ia menyentuh bibirnya, teringat tentang ciuman yang tak sengaja lewat sentuhan sendok dan gelas.


"Kenapa memangnya? kamu nggak rabies kan?"


"Emang kamu pikir aku apaan!" Reyhan tak terima. Ia pura-pura marah padahal hatinya sangat senang. Ingin rasanya ia teriak, tapi sekuat hati ia tahan agar Amora tak tahu perasaan yang sebenarnya.


"Siapa tahu kan." Amora mengangkat bahu. Ia terus memasukkan bakso ke dalam mulutnya. Setelah baksonya tandas, Amora meraih ayam panggang dengan sambal dan lalapan.


"Ah, nikmat sekali." ujarnya seraya memejamkan mata menikmati.


"Abis bajak sawah dimana sih? Makan sudah seperti kuli. Tadi kamu bilang mau diet." cibir Reyhan.


"Aku lapar, dari tadi siang kan belum makan."


"Salah sendiri, kurus enggak sakit iya." Amora hanya manggut-manggut menanggapi.


"Kamu nggak makan?" tanya Amora, ia melirik Reyhan sebentar.


"Nggak. Melihatmu makan dengan lahap saja sudah membuatku kenyang."


"Yang diet siapa, yang makan banyak siapa." celetuk Amora tanpa menghentikan acara makannya. Ucapan Amora membuat Reyhan tertawa. Ia tak bosan menatap Amora yang makan dengan lahap di seberang meja. Ah, rasanya seharian ini ia terlalu banyak tertawa. Menikah, ternyata sangat menyenangkan. Apalagi jika menikah dengan orang yang sangat kita cintai. Bisa melihatnya sepanjang hari, membuat kita bahagia. Biarlah ia simpan rapat-rapat cinta yang terlanjur tumbuh dan bersemi. Biar nanti waktu yang akan menjadi saksi serta mempersatukan dua hati.


Beberapa menit kemudian, Amora telah menghabiskan makanan yang ada. Membuat Reyhan melongo.


"Kenapa? jangan sok kaget begitu. Nggak pernah lihat orang kelaparan, ya?" tanya Amora kesal.


"Jadi ini arti kata terserah." kata Reyhan sambil manggut-manggut. Ia menatap makanan yang tak bersisa di atas meja, hanya menyisakan mangkuk kotor yang berserakan.


"Apa?" todong Amora melotot.


"Ya ini artinya, aku paham." Ucap Reyhan tersenyum penuh arti.


"Apa sih? Nggak jelas kamu." Amora mulai kesal.


"Iya, ini. Pas di tanya mau makan apa? jawabnya terserah. Di kasih pilihan makanan ini, bilangnya nggak mau. Eh pas di beli semua, ya di lahap sampe abis. Dasar wanita. Mana makan seperti kuli, bilangnya laper. Ya kali, laper makan sampe segitu banyaknya." Reyhan terus berceloteh tanpa menyadari tatapan Amora padanya.


Amora hanya diam menatap Reyhan dengan tajam. Kedua tangannya terkepal di atas meja, Reyhan seperti berada dalam bahaya.


"Hehe, ampun." Reyhan menyeringai seraya menyatukan kedua tangannya ke depan dada setelah menyadari Amora yang menatapnya bak singa lapar.


Reyhan melihat Amora dengan versi berbeda kali ini. Tumbuh dua tanduk di kepala Amora, membuatnya bergidik ngeri. Reyhan berdiri, memilih untuk menyelamatkan diri. Sedangkan Amora tak melepaskan Reyhan dari tatapannya sedetikpun.


"1 ... 2 ... 3 ... Kabur ...." Reyhan berlari menuju kamar, menghindari amukan Amora.


"REYHAN ...." Teriak Amora kesal.


____________________________


Hai zheyeng 😘


Semangat terus ya.


Selalu tinggalkan like dan komen, mawar juga boleh, 🀭


Jaga kesehatan dan terus semangat πŸ₯°


i love you all😘