Suami Sementara

Suami Sementara
Sikap Farhan


Di kantor polisi


Seorang Ibu paruh baya duduk di kursi tunggu tahanan di temani oleh anak perempuannya. Ia berniat mengunjungi anak laki-lakinya yang sedang menjalani masa hukuman di penjara ini. Fitri, anak perempuannya menggenggam erat tangan Ibunya sembari tersenyum demi menguatkan wanita yang telah melahirkannya itu. Ia merasakan perubahan sikap Ibunya setelah pulang dari rumah Reyhan tempo hari. Ia sangat bersyukur karena sang Ibu tidak bersikap buruk dan lebih lembut sekarang.


Tak berselang lama, terlihat sosok laki-laki yang amat mereka rindu dan nantikan sedari tadi. Di belakangnya ada seorang penjaga yang mengantarkan dengan persenjataan yang lengkap. Keduanya segera berdiri meninggalkan bangku panjang yang mereka duduki sejak tadi.


Wanita paruh baya itu menatap sedih pada pria yang mengenakan baju berwarna orange bertuliskan TAHANAN. Begitu pun dengan adiknya, ia merasa sangat iba dengan segala yang terjadi dengan kakaknya.


Tanpa aba-aba, Ibunya langsung menghampiri Farhan. Menyambutnya dengan pelukan kerinduan serta pelukan hangat penuh kasih. Wanita itu tergugu dalam dekapan anaknya yang malang.


"Mengapa Ibu menangis?" lirih Farhan dengan penuh sesak yang menghimpit dada. Ia pun tak kuasa untuk menahan bulir bening yang berdesakan ingin keluar. Wanita itu terus menangis tanpa bisa berkata-kata, tenggorokannya tercekat dan lidahnya kelu. Ia tidak bisa mengatakan hal yang tengah ia rasakan saat ini. Perasaannya sangat hancur dan kecewa, tapi nasi sudah menjadi bubur. Suka atau tidak suka semuanya harus bisa di terima.


"Sudahlah jangan menangis, bukankah Farhan sebentar lagi akan keluar dari sini?" ujarnya seraya melepaskan rengkuhan Ibunya. Di saksikan tatapan sedih dari adiknya yang hanya bisa menatapnya dengan segala kesedihan yang memenuhi relung jiwanya.


Wanita paruh baya itu melepaskan dekapannya, menghapus dengan kasar jejak air mata yang membasahi wajah. Netranya menatap sedih pada tubuh anaknya yang terlihat semakin kurus tak terurus.


"Farhan, sebaiknya kita duduk terlebih dulu." ajaknya seraya menuntun anaknya agar duduk di bangku panjang yang ada di sana.


Farhan menurut, ia pun mendaratkan bokongnya ke bangku panjang berwarna coklat yang bersebrangan dengan adiknya.


"Abang sehat kan?" tanya adiknya dengan tatapan menyedihkan.


"Jangan memandangku seperti itu. Aku baik-baik saja," ujarnya seraya mengulas senyum. Adiknya hanya mengangguk setengah percaya, karena kenyataan yang ia lihat malah sebaliknya. Tubuh kakaknya terlihat sangat kurus dan wajahnya terlihat pucat, rambutnya mulai memanjang tak terurus tanpa sisir dan minyak rambut yang. biasanya membuat penampilan sang kakak selalu rapi.


"Kenapa tubuhmu sangat kurus sekarang?" tanya sang Ibu yang kini sudah duduk di sebelah anak perempuannya. Ia menatap sedih pada anak laki-lakinya yang duduk berseberangan dengannya.


"Farhan tidak apa-apa, Bu. Hanya sedikit tidak enak badan." jawabnya dengan asal.


"Tapi nak, kau seperti sedang sakit."


"Tidak apa-apa, hanya meriang biasa. Lagi pula sebentar lagi Farhan akan keluar dari sini. Pasti akan lebih cepat sembuh nantinya." ujarnya dengan nada ceria penuh harap. Sang Ibu dan adik hanya saling melemparkan tatapan menyesal.


"Farhan," panggil Ibunya dengan lirih dan hati-hati.


"Iya, Bu. Ada apa? Ibu berhasil membujuk Amora untuk mengeluarkan Farhan dari sini kan?" tanya pria itu penuh harap sehingga membuat wanita yang ada di hadapannya semakin merasa sesak yang luar biasa.


Bahkan rasanya ia ingin lari saja dari sana agar tak melihat wajah kecewa sang anak. Ia merasa tak sanggup mengatakan kenyataan bahwa ia gagal dan memang harusnya Farhan menjalani masa hukumannya hingga selesai.


"I-ibu ...." tenggorokannya tercekat, bagai ada duri yang menyangkut di tenggorokannya. Menancap di leher dengan kuat sehingga ketika di tarik maka akan terasa sakit. Di keluarkan sakit, di biarkan maka akan lebih sakit pula.


Usapan lembut di bahu kirinya membuat ia menoleh, menatap pada anak perempuannya yang mengangguk sembari tersenyum menguatkan. Ia pun tersenyum samar seraya ikut mengangguk untuk kuat.


"Farhan, maafkan Ibu." lirihnya hampir tak terdengar. Wajah yang penuh harap di depannya itu mendadak berubah menjadi terkejut dan dingin. Sorot matanya memancarkan kekecewaan yang mendalam. Ia menatap Ibunya dalam diam, menyembunyikan senyum yang tadi sangat lebar ia tunjukkan.


"Jangan menjawabnya, karena Farhan sudah tahu pasti apa jawabannya." ucap pria itu dengan tatapan dingin, menusuk sampai ke jurang hati yang paling dalam. Memporak-porandakan hati yang memang telah berantakan tak berbentuk. Menambah kehancuran harapan yang semula menjulang tinggi.


"Farhan," lirihnya dengan suara yang tercekat.


"Ibu sudah gagal, bukan?" tebak Farhan dengan tersenyum sinis.


"Ibu gagal membujuk mereka agar bisa mengeluarkan Farhan dari sini. Tidak apa, karena sebenarnya Farhan sudah tahu jawabannya. Ibu tidak akan pernah bisa di andalkan seperti Ibu pada umumnya. Dari dulu hingga sekarang Ibu tidak bisa di harapkan." ujarnya dengan kasar. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang ada di belakang.


Bagai tersayat sembilu, hati lemah Ibu itu teriris perih. Menambah luka yang semakin menganga menimbulkan sakit yang teramat sangat.


"Kak, jaga bicara kakak. Tidak sepantasnya kakak mengatakan hal buruk pada Ibu!" Fitri sang adik mencoba memperingati, ia tidak rela jika kakaknya bersikap tidak sopan pada orang tua yang rela berkorban nyawa ketika melahirkannya.


"Sudahlah. Anak kecil diam saja! Jangan ikut campur urusan orang dewasa!" sergah Farhan dengan kesal. Ia melayangkan tatapan tajam pada sang adik. Yang di tatap hanya mengepalkan tangan kuat-kuat penuh amarah dan rasa kesal yang menguasai diri.


"Kenapa selalu menganggap Fitri anak kecil? Bukankah kelakuan kakak lebih dari anak kecil? Bisanya hanya menyusahkan saja." ujarnya. Rasa iba dan sedih yang semula menghinggapinya kini menguar begitu saja, lenyap entah kemana. Yang ada hanya rasa kesal setengah mati.


"Kau semakin hari semakin berani! Tidak ada sopan santun sama sekali dengan orang yang lebih tua!" ucap Farhan dengan marah.


"Bukankah kakak yang mulai? Kakak saja bersikap sangat tidak sopan pada Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan kakak. Lalu kenapa Fitri harus bersikap sopan pada kakak yang selalu menyusahkan saja?" balasnya dengan geram. Mendengar ucapan adiknya membuat Farhan semakin marah dan membuatnya berdiri menggebrak meja.


"Jaga bicaramu anak kecil! Kamu tidak berhak mengkritik apa yang aku lakukan! Jangan pernah kamu berani-beraninya mengajari orang yang lebih tua dari pada kamu!" ucap Farhan tak terima.


"Farhan, Fitri sudah nak. Ini di kantor polisi, jadi jaga sikap kalian dan jangan selalu bertengkar!" Pinta Ibunya dengan frustasi. Terlalu banyak beban pikiran yang ia rasa, sehingga menambah kerutan di wajahnya. Belum lagi ia yang tak pernah lagi ke salon semenjak Amora sudah tidak menjadi menantunya. Ia hanya merawat diri seadanya.


"Kakak yang mulai, Bu. Fitri tidak terima jika kakak bersikap tidak sopan pada Ibu."


"Sudahlah, Nak. Jangan memperkeruh suasana, tolong diam sebentar. Ibu ingin berbicara serius dengan kakakmu." Kata Ibunya dengan sendu. Fitri mengangguk akhirnya, ia terpaksa diam dan mengalah karena tidak ingin membuat sang Ibu semakin stres dan sedih atas semua situasi yang terjadi.


"Mau bicara apa? Jangan katakan apapun jika itu hanya kabar buruk." ujar Farhan seraya duduk kembali ke tempat semula.


"Farhan, mengapa kamu berkata seperti itu?" tanya wanita itu dengan sedih.


"Lalu? Farhan harus bersikap bagaimana? Apa yang harus Farhan katakan?"


"Apakah Farhan harus memuji atas kegagalan Ibu? Apakah harus memberi apresiasi karena Ibu gagal mengeluarkan Farhan dari sini? Ah atau Farhan harus salto agar Ibu senang?" imbuhnya dengan tatapan sinis.


"Tidak ada ucapan selamat untuk sebuah KEGAGALAN!" Ia sengaja menekankan kata kegagalan saat berbicara.


"Jalani hukuman kamu," lirih Ibunya dengan pelan. Apa yang di katakan oleh Ibunya membuat Farhan tertawa geli.


"Hukuman apa? Aku tidak bersalah!" elaknya dengan senyuman mengerikan. Bahkan Fitri sampai bergidik ngeri menyadari sisi kakaknya yang berbeda.