
"Aku akan mengurus perceraian secepatnya." ucap Amora memecahkan keheningan yang beberapa waktu tercipta.
"A-apa?"
Amora meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat seraya tersenyum menatap dalam manik hitam yang kini juga menatapnya.
"Aku akan mengurus perceraian kami secepatnya dan kita akan menikah secara resmi." Amora mengulangi kalimatnya.
"Be-benar kah?" tanya Reyhan memastikan dan di jawab anggukan meyakinkan dari istrinya.
"Kau tidak sedang menghiburku, kan?" pria itu masih tak percaya, mencari kebenaran dan kesungguhan dari manik coklat milik wanita yang di cintainya.
Amora menggeleng dengan senyum manis tersemat di wajahnya.
"Sayang ...." lirih Reyhan hampir menangis. Ada rasa bahagia yang menyeruak. Perasaan yang membuncah dengan sejuta rasa bahagia yang membuat bibirnya tertarik ke atas. Ia tidak kuasa menahan senyum yang terus memberontak tak mau diam. Ia bahagia, amat sangat bahagia. Entahlah mendengar bahwa Amora mau menikah secara resmi dengannya membuat dirinya bagai berada dalam mimpi yang indah dan ia tidak ingin terbangun.
"Apakah aku sedang bermimpi?" pria itu mencubit pipinya dan ia merasakan sakit ketika kulit tangannya di tarik dengan kuat.
"Aduh ... sakit. Ini bukan mimpi," ujarnya seraya terkekeh. Amora yang melihat itu pun tak kuasa untuk tidak tertawa.
"Ya jelas sakit lah. Ada-ada saja kamu, Rey."
"Sayang, apakah benar kamu mau menikah denganku secara resmi? Jujur aku merasa tidak percaya kamu mengatakan hal itu. A-aku merasa ini hanya mimpi dan aku tidak mau bangun karena takut kenyataan tak seindah mimpi." lirihnya masih tak percaya.
"Honey, This is not a dream. this is all real." Amora mencoba meyakinkan Reyhan sekali lagi.
"Is this real?"
"Yeah, is the real and i am not lying. I'm serious."
Reyhan menatap Amora dengan penuh rasa haru. Netra hitam kelam itu tampak berkaca-kaca, ia tak bisa lagi berkata apapun sehingga dirinya hanya bisa merengkuh tubuh kecil milik Amora. Membawanya ke dalam dekapan hangat demi menyalurkan segala rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata.
"I love you so much, honey."
"I love you more." balas Amora seraya membalas pelukan pria yang kini ada di hatinya itu. Pria itu berkali-kali mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang. Sungguh, ia tak akan pernah bisa kehilangan cinta pertama dan terakhirnya itu. Baginya, Amora segalanya.
"Ayo kita pulang." ajak Reyhan seraya mengurai pelukannya.
"Ayo. Aku sudah sangat lapar dan aku sangat ingin makan bakso." ujarnya seraya tertawa renyah.
"Dasar tukang makan." ejek Reyhan seraya mengacak Surai coklat milik Amora dengan gemas.
"Reyhan! Berantakan 'kan jadinya. Ish kenapa kamu sangat menyebalkan." protes Amora seraya memperbaiki rambutnya yang berantakan. Bibirnya mengerucut karena kesal.
"Astaga itu bibir minta di karetin apa ya."
"Kamu sih. Rambutku jadi berantakan! Kenapa sih kamu sangat menyebalkan?!"
"Walaupun menyebalkan, tapi kamu cinta 'kan?" Goda Reyhan seraya menaik turunkan alisnya. Tangannya terulur memperbaiki kembali rambut panjang Amora yang berantakan akibat ulah jahilnya.
"Tidak!" elak Amora seraya mendelik.
"Tidak apa, Hem?"
"Aku merajuk. Jangan ganggu aku!" Amora melangkahkan kakinya meninggalkan Reyhan yang terbengong.
"Merajuk kok bilang-bilang?" kekeh pria itu. Ia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Amora yang terkadang seperti anak kecil yang menggemaskan. Tapi apapun itu, ia akan selalu menyukai semua sikap Amora. Baginya, sikap yang seperti ini justru karena wanita itu juga mencintainya. Karena wanita akan manja pada orang yang di cintainya.
"Sayang, tunggu. Jangan meninggalkan aku sendirian di sini." Reyhan menyusul wanita cantik yang telah cukup jauh berjalan di depannya.
"Sayang, pelan-pelan saja jalannya. Nanti kamu jatuh." kaya Reyhan lagi tapi wanita yang berjalan cepat di depannya itu tak juga berhenti dan memperlambat langkahnya.
"Biarkan saja dia. Aku ingin melihat reaksinya kalau aku marah tanggapannya akan seperti apa. Hihihi," gumam Amora seraya terkikik geli. Ia sengaja mengerjai suaminya karena sedikit kesal. Ia terus berjalan dan menoleh ke belakang sebentar, hanya ingin memastikan bahwa Reyhan mengejarnya. Ia hampir terjatuh dan menabrak seseorang ketika menuruni beberapa anak tangga yang ada di depan pintu masuk kantor kepolisian tapi seseorang menangkapnya sehingga Amora tidak sampai terjatuh.
"Maaf saya tidak sengaja." ujar Amora seraya meminta maaf. Ia menarik tubuhnya dari rengkuhan seorang pria yang tadi menabraknya.
"Tidak apa-apa, Mbak. Saya ...." pria itu menggantung kalimatnya kala melihat wanita yang ada di hadapannya. Dengan mulut yang setengah terbuka ia menatap Amora. Jantungnya berpacu dengan cepat, darahnya berdesir dengan kencang.
"A-Amora." lirihnya.
"Evan? Hai, apa kabar?" ucap Amora dengan sumringah. Ia tersenyum lebar ketika bertemu dengan Evan yang memang sudah lama tidak berjumpa.
"A-aku ba-baik." balasnya dengan gugup.
"Ah sial! kenapa aku gugup begini sih? Mana Amora makin cantik, Ya Tuhan. Bagaimana aku bisa menghilangkan perasaan aku sama Amora kalau begini?" jeritnya dalam hati.
"Apa kamu baik-baik saja? Keningmu berkeringat." tanya Amora khawatir. Ia melihat kening Evan yang berkeringat sebesar biji jagung.
"Iya, maksudnya tadi di motor panas. Tahu sendiri lah kan, panas kalau naik motor mah." ujarnya seraya tersenyum kikuk.
"Begitu, ya?" Amora mengangguk.
"I-iya begitu." Evan menggaruk kepala belakangnya yang terasa gatal.
"Ohya, kamu kenapa di sini?" tanya Amora penasaran.
"A-aku sedang ...."
"Sayang," suara seorang pria terdengar dari arah belakang Amora. Meraih tubuh Amora agar lebih dekat dengannya, merengkuh pinggang wanita itu dengan posesif. Evan mendesah kecewa, menekan dalam-dalam perasaan yang ia punya. Cemburu, kesal serta ingin marah menerobos mendesak hatinya. Memporak-porandakan kebahagiaan yang baru saja di kecapnya karna bertemu sang pujaan hati setelah sekian lama.
"Reyhan?" Amora menatap Reyhan seraya tersenyum manis.
"Iya, honey. Kamu bicara dengan siapa?" tanya Reyhan seraya menatap cemburu pada Amora dan Evan. Ia mendaratkan kecupan ringan di kepala istrinya. Sengaja ia lakukan untuk memberi tahu bahwa Amora miliknya.
"Ah ini temanku ketika bekerja di perusahaan Pak Handoko. Kenalkan namanya Evan."
Evan mengulurkan tangannya pada Reyhan dan di sambut dengan bersemangat oleh Reyhan. Ini kesempatan baginya untuk memperkenalkan diri sebagai suami Amora.
"Halo saya Evan, teman lama Amora." kata Evan seraya memaksakan senyum di wajahnya.
"Saya Reyhan. SUAMI AMORA." Reyhan sengaja menekan kata suami Amora. Evan yang mendengarnya pun tak kuasa untuk tidak terkejut dan membelalakkan matanya.
"Su- suami?" tanya Evan dengan tak percaya.
"Iya. Saya suami Amora, teman lama anda." Reyhan melepaskan jabatan tangannya dan kembali meraih pinggang Amora agar lebih dekat dan menempel pada tubuhnya.
"Amora, kapan kalian menikah? Mengapa aku tidak tahu?" tanya Evan dengan raut wajah kecewa.
"I-iya kita ...." Amora bingung harus menjawabnya. Sehingga ia hanya melemparkan pandangan bingung pada Reyhan.
"Kau tenang saja. Nanti akan kita kirimkan undangan resepsi pernikahan kami ke rumahmu. Saya harap anda bisa datang untuk memberikan ucapan selamat, tuan Evan." ujar Reyhan dengan percaya diri. Ia tak memberikan ruang pada Amora untuk menjauh sedikitpun.
"Kau benar-benar sudah menikah dengannya?" tanya Evan sekali lagi pada Amora. Raut wajahnya menyiratkan luka dan kekecewaan yang begitu mendalam.
"Iya, Evan. Aku dan Reyhan sudah menikah."
Evan mengangguk seraya memejamkan matanya. Mencoba menekan dalam-dalam luka yang terus mengeluarkan perih yang mencabik-cabik.
"Selamat, ya. Semoga kalian selalu bahagia." ia mengulurkan tangannya di depan Amora. Amora akan meraih tangan itu tapi tangan Reyhan menyambut tangan yang terulur itu dengan cepat sehingga membuat Amora melongo.
"Terimakasih, tuan Evan. Terimakasih atas do'a yang anda berikan dan semoga saja semua itu tulus dari hati." Reyhan melepaskan jabatan tangan keduanya.
"Tentu saja tulus. Aku akan bahagia jika Amora juga bahagia." Pria itu menatap Amora dengan luka. Belum sempat ia menyatakan perasaannya, tapi Amora telah di miliki orang lain.
"Baiklah jika tidak ada keperluan lagi, kami akan segera pulang karena jadwal kami sangat padat. Ya, tahulah kan namanya juga pengantin baru." ucap Reyhan dengan sengaja. Ia tertawa di dalam hati ketika melihat wajah Evan yang terlihat sangat masam.
"Jadwal apa sih Rey? Kita tidak punya jadwal apapun." bantah Amora dengan polos sehingga membuat Reyhan geram.
"Sayang ... Bukankah kamu bilang ingin mempunyai seorang princess? Jika kita tidak sering membuatnya, mana mungkin keinginan kita itu akan terwujud?" sontak saja perkataan Reyhan membuat pipi Amora bersemu.
"Rey, apa yang kamu katakan?" Amora mendelik, ia menyembunyikan wajahnya yang memerah bak kepiting rebus. Lagi-lagi Evan hanya bisa menahan hati dan menelan kekecewaan yang pahit.
"Kenapa sayang? Kamu malu?"
Amora hanya mendelik seraya mencubit pinggang suaminya hingga membuat pria itu mengaduh.
"Aww ... sayang sakit. Nanti saja main cubit-cubitannya. Di rumah saja, bahkan kamu ingin lebih pun tidak apa-apa." Reyhan semakin gencar menggoda istrinya dengan sengaja agar Evan cemburu. Evan hanya tersenyum miris.
"Saya harus masuk. Saya pamit duluan." katanya seraya menunduk sebentar dan menyeret kakinya yang lemah bagai tak bertulang.
"Eh, Evan. Kamu ...."
"Sudahlah sayang. Biarkan dia pergi, kita pulang saja dan segera membuat Little princess."
"Kamu itu ya, aku jadi malu sama Evan."
"Kenapa harus malu? Kita suami istri. Jadi sudah sewajarnya jika bermesraan."
"Ah kamu. Aku tetap saja malu!"
"Ya sudah, pakai karung biar tidak kelihatan."
"REYHAN!" teriak Amora kesal. Sementara pria yang menjahilinya itu hanya tertawa karena melihat Amora yang sudah kesal karena ulahnya.