Suami Sementara

Suami Sementara
I Miss you


Dia seseorang yang sederhana


Yang mencintaiku dengan sempurna


Dia tak pernah menoreh lara


Hingga mencintainya, tak pernah membuatku lelah


_


_


Reyhan mengusap kepalanya gusar. Berjalan mondar-mandir di balkon kamar, sekali-kali melihat ke layar ponsel yang ada di dalam genggamannya.


Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.


"Telpon ... tidak ... telpon ... tidak."


Pria itu selalu merapalkan dua kata yang sedari tadi keluar dari bibirnya. Detik berikutnya ia mengerang frustasi. Merasakan sengatan rindu yang semakin menyiksanya.


"Kenapa aku begini? Oh Amora ... Apa kamu juga merasakan hal yang sama? apa kamu juga merindukanku?" erangnya seraya menarik rambut pendek yang telah acak-acakan.


"Kenapa baru beberapa hari tapi terasa beribu tahun? Ah aku sudah tidak tahan lagi."


"Sudah sadar sekarang?" suara Mama Riana datang dari belakang pria itu. Reyhan menoleh, netranya menangkap wajah Mama yang terlihat kesal.


"Mama," lirihnya.


"Apa? baru sadar sekarang hah?" tanya mama sekali lagi.


"Sa-sadar a-apa, Ma?"


Wanita separuh baya itu menarik telinga anaknya dengan kesal.


"Dasar anak nakal! sudah nakal, sekarang pura-pura bodoh! besok berpura-pura gila! ngidam apa Mama dulu sewaktu mengandung kamu!"


"Aduh .... ampun, Ma. Sakit, Ma." pria itu memelas seraya memegangi telinganya yang memerah. Merasa sedikit lega karena wanita yang telah mengandungnya itu sudah melepaskan jewerannya yang lumayan membuat telinganya perih serta panas.


"Kalau seandainya kamu bukan anak Mama, udah mama masukin karung kamu! lalu mama buang ke hutan Amazon. Biar di makan anaconda." kesal wanita itu.


"Ya Allah, apa salah Reyhan. Kenapa Engkau memberikan seorang Mama yang kejam seperti ini?" ucapnya dengan melankolis. Berpura-pura menghapus air mata yang nyatanya tidak sedikitpun keluar.


"Dasar anak kurang ajar, tidak pernah bersyukur." Mama Riana mendengus.


"Reyhan anak baik, Ma. Apa Mama tidak tahu video yang lagi viral?"


"Video apaan?" wanita itu mengangkat alis dengan kedua tangan yang berada di pinggang.


"Dengerin ya, Ma. Gini nih lagunya. Begitu syulit lupakan Reyhan, Apalagi Reyhan baik


Begitu susah cari gantinya


Cukup dikenang saja." pria itu menirukan gaya bernyanyi yang ada di video yang sedang viral dengan fasih. Membuat tawa mama Riana meledak begitu saja.


"Hahaha ...


Reyhan sejak kapan kamu jadi genit begitu?" Mama Riana bahkan tak segan memukul pria yang kini ikut tertawa itu. Ia pun telah melihat video yang berseliweran di medsos.


"Aduh, sakit Ma. Kenapa perempuan itu sama aja sih? Kalau ketawa pasti mukul." protes pria itu kesal.


"Dan semua pria sama saja!" balas mama tak mau kalah.


"Ya ampun Mama sayang. Tidak sama Mama, mereka menyebalkan sementara Reyhan menyenangkan." ucap pria itu dengan level kenarsisan yang tinggi.


"Aduh aku rasa sewaktu mengandung anak ini memang aku salah makan." Mama Riana menggelangkan kepala, memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.


"Iya, makan kodok." celetuk pria itu sehingga langsung mendapatkan pukulan di bahu kirinya.


"Kan, kalau begini terus Reyhan bisa masuk rumah sakit." cibirnya seraya berjalan menjauh.


"Mau ke mana kamu anak ngeselin?" teriak Mama.


"Mau menjemput menantu Mama." katanya santai.


Mama Riana tersenyum lega.


Reyhan menoleh seraya tersenyum.


"Baiklah Ibu Ratu, hamba mengerti." pria itu membungkukkan tubuhnya dengan tangan kanan mendekap dada.


"Jemput menantuku! dan awas saja kalau sekali lagi kamu membuatnya menangis. Mama tidak segan-segan membuangmu ke hutan Amazon! biar jadi santapan Anaconda."


ujar Mama seraya mendelik.


"Ya Ampun kejam amat punya emak. Berasa anak pungut." sungutnya dengan bibir yang maju beberapa senti.


"Tunggu apalagi? jemput Amora sekarang!" teriak Mama dengan galak.


"Baiklah Ibu suri, perintah akan segera di laksanakan." ia kembali membungkuk dan segera berlari menghindar ketika wanita yang ada di hadapannya mengambil sendal yang di kenakan untuk melempar sang anak yang membuat tekanan darahnya naik.


"Dasar anak itu! sudah tua masih saja seperti bocah!"


***


Angin berhembus menerpa wajah wanita dengan Surai panjang berwarna coklat yang bergaya Curly. Netranya terpejam menyesapi belaian lembut terpaan angin yang sejuk di sore hari. Gerimis masih menyapa setelah menurunkan hujan deras sejak pagi. Seperti enggan untuk pergi.


"Reyhan ...." tanpa sadar satu nama yang belakangan ini mengganggu pikiran serta hatinya keluar begitu saja dari bibir berwarna peach miliknya. Ia pun tersenyum pahit seraya membuka mata yang telah lelah mengeluarkan tangis.


"Kamu kemana?" lirihnya sendu. Hatinya seketika kembali berdenyut nyeri, sesak dadanya terasa terhimpit batu besar.


"Seandainya kamu di sini, aku akan mengatakan tentang semua perasaanku. Akan aku katakan, bahwa aku sangat mencintaimu." ia menatap langit, masih terlihat gelap dengan mendung yang masih bergelayut. Titik demi titik air masih turun membasahi bumi, menjadi gerimis kecil yang menambah sendu sore yang membuatnya semakin rindu.


"Apa kau tahu, Rey. Hatiku sangat merindukanmu. Aku ingin memelukmu dan bersenda gurau denganmu. I Miss you so much."


"I Miss you too, honey."


Deg ...


Jantung Amora terasa berhenti. Denyut nadinya seolah ikut berhenti, netranya yang semula terpejam kini terbuka dengan lebar.


"Apa aku salah dengar? apa karena terlalu merindukannya sehingga aku berhalusinasi?" ucap Amora bingung. Menepiskan segala perasaan yang membuat pikirannya bingung.


"Apa sebegitu rindunya kamu, sayang?" tanpa di komando dan berpikir lama, Amora berbalik. Tubuhnya hampir jatuh kala melihat sosok yang sangat ia rindukan berada tepat di hadapannya. Mengulas senyum manis dengan sebuket bunga mawar berwarna merah dalam genggamannya.


"Reyhan?" lirihnya, di susul lelehan bulir bening yang tak mau diam di tempatnya.


"Iya, Amora. Aku Reyhan, aku di sini." pria itu maju beberapa langkah. Melebarkan kedua tangan.


"Ke marilah! peluk aku dan lepaskan segala rindumu."


Amora bergeming, berdiam di tempatnya dengan perasaan yang bergetar.


"Apakah ini mimpi?" lirihnya tak percaya. Mencoba mencari kesadaran yang seolah menghilang.


"Ini bukan mimpi, sayang. Ini semua nyata. Aku nyata."


Blush....


Wajah cantik wanita itu mendadak merah bagai udang goreng, ia tak pernah di panggil sayang oleh pria ini. Ia menunduk malu, semua ini nyata. Reyhan memang benar berada di sini dan sekarang merentangkan kedua tangan.


"Kemari lah. Bukankah banyak yang akan kamu katakan padaku? tentang ummm ... apa ya?" Reyhan menggoda wanita yang sedang malu itu. Mengangkat alis dengan bola mata yang bergerak ke sana kemari.


"Jadi peluk nggak nih? atau aku salah alamat? apa sebaiknya aku kembali saja?" Reyhan menurunkan tangan. Ia baru akan membalikkan tubuhnya ketika Amora tiba-tiba memeluknya.


"Jangan pergi. Jangan pergi lagi, aku merindukanmu."


Reyhan tersenyum bahagia, ia pun membalas pelukan wanita yang sangat ia cintai itu.


"Aku tidak akan pernah pergi, aku juga sangat merindukanmu." bisiknya lembut seraya mengecup ujung kepala wanita itu.


❤️❤️❤️


Halo zheyeng 😘


Apa kabar nih? rindu nggak? aku merindukan kalian semua. makanya aku balik lagi. hehehe


maafkan author sengklek ini ya. Maaf banget udah Gantungin kalian. Eh maksudnya, Gantungin cerita ini dan menghilang dalam waktu yang agak lama. Do'akan saja semoga author bisa terus nulis kisah Amora dan Reyhan ya. Terimakasih buat kalian semua yang masih setia nungguin kelanjutan cerita ini.


I love you zheyeng 😘