
Jangan lagi mengaku suatu hal yang pernah kau buang.
Karena semuanya tidak lagi sama.
Meski nyatanya kau masih teramat mencintainya, rasa yang kau torehkan lebih besar dari semua hal. Hingga beberapa hal tak lagi bisa di paksakan seperti apa yang kamu mau.
"Reyhan ...." panggil seorang pria yang berdiri menatap Reyhan yang baru saja keluar dari apartemen. Reyhan menoleh, dahinya berkerut ketika mengenali pria yang tengah menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat.
"Farhan? Ada apa?" tanya Reyhan tanpa beranjak dari tempatnya berdiri.
"Dimana Amora?"
"Amora? aku tidak tahu Amora dimana. Aku juga sedang mencarinya." kata Reyhan jujur.
"Bohong!" tuding Farhan dengan marah. Matanya berkilat dengan kedua tangan yang terkepal.
"Untuk apa aku berbohong? aku juga sedang kebingungan mencari keberadaan istriku."
"JANGAN SEBUT DIA ISTRIMU!" teriak Farhan semakin marah. Wajahnya berubah memerah dengan urat yang menonjol keluar. Reyhan tak segan-segan menunjukkan keheranannya. Bahkan segaris senyuman kini terbit di wajahnya.
"Memangnya kenapa?" ia sengaja menjeda ucapannya demi melihat ekspresi pria yang merupakan sepupunya ini. Sepupunya itu semakin kesal bahkan kini ia maju ke depan, mendekati Reyhan.
"Bukankah Amora memang istriku?" imbuh pria itu.
"Dia istriku!" geram Farhan.
"Hahaha ... jangan konyol Farhan. Apa kamu lupa bahwa Amora telah menjadi istriku yang sah? Kamu hanya mantan suami Amora. Bahkan kini kamu juga sudah punya istri."
"Amora itu istriku! Sampai kapan pun Amora akan menjadi istriku! ISTRI FARHAN! DAN BUKAN ISTRI REYHAN! CAMKAN ITU!" teriaknya penuh amarah. Tubuhnya di selimuti aura gelap yang mengerikan. Matanya memancarkan kilat membunuh yang kuat.
"Kenyataannya Amora itu istriku, dan kamu hanya sebatas mantan suami. Jadi ... berhenti bermimpi! Amora itu istriku dan satu lagi,"
Farhan menunggu ucapan Farhan yang menggantung.
"Kami saling mencintai." ucapan Reyhan membuat pria yang ada di hadapannya itu murka. Tanpa aba-aba ia segera mencekik Reyhan hingga membenturkan tubuh serta kepala Reyhan ke dinding. Reyhan yang terkejut dan belum siap itu tak bisa melawan. Ia hanya bisa mencekal kedua tangan yang mencekiknya dengan kuat.
"Kau bilang kalian saling mencintai? kau salah! Amora tidak mencintaimu! Amora hanya mencintaiku! Aku akan membunuhmu, maka dengan begitu Amora akan bisa kembali padaku."
"Dasar pria brengsek! pengkhianat! Aku menyuruhmu menikahi Amora hanya sebagai suami sementara agar aku bisa kembali pada Amora! Tapi kamu malah mau memiliki wanita-ku selamanya? Mimpi kamu!"
"Le-lepaskan Far-han ...."
"Hahaha ... apa? kau minta aku melepaskan kamu? Nanti, setelah kamu mati!" ia terbahak-bahak, membayangkan Reyhan mati membuatnya senang. Cekikan di leher Reyhan mengendur, Reyhan tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera melepaskan kedua tangan yang membelenggunya sejak tadi. Lalu memukul wajah itu dengan keras.
Bugh ....
Pukulan Reyhan menghantam wajah Farhan dengan keras. Kepala pria itu terlempar ke kanan di sertai tubuhnya yang terhuyung ke belakang. Farhan yang sedang lengah itu terkesiap, ia berusaha menopang berat tubuhnya agar bisa kembali tegak. Tangan kanannya memegangi wajahnya yang terasa sakit.
"Brengsek kau Reyhan!" geramnya kesal. Ia segera menyerang sepupunya kembali dengan emosi yang meluap-luap. Baru saja ia akan melayangkan pukulan, tendangan Reyhan bersarang di perutnya. Pria itu tersungkur, kali ini memegangi perutnya yang terasa mulas.
"Menyerah lah, aku tidak ingin menyakiti kamu." kata Reyhan menatap Farhan dengan kesal. Bagaimana pun juga mereka masih ada ikatan saudara yang tak kasat mata.
Pria itu berdiri dengan tetap memegangi perutnya, menatap Reyhan dengan penuh kebencian yang mendalam.
"Apa? menyerah katamu?"
"TIDAK AKAN!"
Reyhan menggeleng. Pria yang ada di hadapannya saat ini memang selalu keras kepala. Farhan mengeluarkan pisau lipat dari saku celana yang di kenakan. Mengarahkan pada Reyhan yang berdiri tenang di hadapannya.
"Kau harus mati di tanganku, Rey. Pertama-tama aku akan mengikatmu di tiang gantungan. Lalu aku akan mencabut kuku kamu satu persatu. Setelahnya aku akan menguliti kamu hidup-hidup. Akan ku congkel mata yang selalu menatap istriku! akan ku patahkan tanganmu yang berani menyentuh istriku! Akan ku siksa dan ku potong tubuh kamu menjadi beberapa bagian. Hahahaha."
"Dasar psikopat gila!" umpat Reyhan seraya memutar bola matanya terang-terangan.
"Mending pulang sana! kasihan Ibu kamu nyariin! Ibumu mau masak, butuh pisau untuk mengupas bawang." ejek Reyhan seraya mengulum senyum. Wajah Farhan semakin memerah, membuatnya semakin terbakar emosi. Ia mengarahkan pisau itu ke tubuh Reyhan.
"MATI KAMU!"
🖤🖤